Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma
Rionanda Dhamma Mohon Tunggu... Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengapa Pemimpin Perempuan Kerap Mengalami Perundungan?

8 Agustus 2019   16:44 Diperbarui: 8 Agustus 2019   16:50 0 3 2 Mohon Tunggu...
Mengapa Pemimpin Perempuan Kerap Mengalami Perundungan?
Sumber: https://indianexpress.com/

Dua hari lalu, ada kejadian tidak mengenakkan di pertandingan final Piala Indonesia. Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha diusir oleh supporter PSM Makassar. Bahkan, Beliau sampai diteriaki, "Mafia! Mafia!" oleh mereka. Pengusiran ini terjadi karena supporter PSM Makassar merasa dianaktirikan oleh PSSI.

Tetapi, Ratu Tisha tidak baper. Meski diusir, Beliau tetap ramah terhadap para supporter. Bahkan, Beliau memuji supporter PSM Makassar setelah pertandingan berakhir. Beliau menilai bahwa mereka tampil kreatif dan mampu menjaga ketertiban (makassar.tribunnews.com, 2019).

Ketika melihat videonya, penulis jadi ingat terhadap kejadian serupa di tahun 1989. Ketika Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher menonton sebuah pertandingan bola di Skotlandia. Tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 supporter Liverpool baru saja terjadi. Ketika Beliau mengambil tempat duduk, semua supporter berteriak, "Huuuuuu!" Reaksi mereka seperti kedatangan sosok nenek lampir.

Kedua peristiwa ini membuktikan suatu tren yang terjadi di antara pemimpin perempuan. Tren tersebut adalah perundungan (bullying) yang lebih intens terhadap pemimpin perempuan. Terhadap cara berpakaian, gaya rambut, sampai hubungan asmara. Seakan-akan masyarakat lebih judgemental terhadap pemimpin perempuan dibandingkan laki-laki.

Lihat saja kehidupan politik pasangan Bill dan Hillary Clinton. Pernahkah Bill Clinton dikritik karena rambutnya yang putih? Atau ketika Beliau memakai jas yang kebesaran? Tetapi, istrinya Hillary pernah dikritik karena gaya rambut yang tidak cocok dan pantsuit yang dianggap jelek. Bahkan, Beliau pernah dirundung sebagai nasty woman karena kepribadiannya.

Lantas, mengapa perundungan seperti ini terjadi pada pemimpin perempuan? Menurut hemat penulis, ada tiga alasan utama yang memicu perundungan ini.

Pertama, gender perempuan dianggap kurang pantas menjadi pemimpin. Kebanyakan masyarakat di dunia adalah masyarakat patriarkal. Pria menjadi gender utama yang dianggap sebagai pemimpin dalam masyarakat. Sementara, perempuan dianggap sebagai asisten nahkoda yang membantu pria. Mulai dari mengurus anak sampai keuangan dalam level keluarga.

Ketika seorang wanita masuk dan "melanggar" konvensi patriarkis tersebut, ia pasti dianggap sebagai seorang superwoman. Seorang wanita yang bisa melampaui pria dan melakukan segalanya.

Faktor superwoman inilah yang memunculkan alasan kedua. Ketika keunggulan ini muncul, berlakulah pepatah, "Iri tanda tak mampu." Rasa iri hati ini terwujud dalam komentar nyinyir nan merundung. Ujaran-ujaran tersebut bersifat menyindir, personal, dan bertujuan untuk menurunkan semangat si pemimpin perempuan. Agar ia menjadi 'sama' dengan kebanyakan perempuan lainnya.

Margaret Thatcher sendiri dirundung sebagai Attila the Hen dan Iron Lady. Imelda Marcos dirundung sebagai The Iron Butterfly. Elizabeth Warren dijuluki sebagai Pocahontas saat dirundung oleh Donald Trump. Pemimpin pria lebih jarang menerima bullying through catcalling seperti ini.

Terakhir, masyarakat selalu menuntut penampilan sempurna dari pemimpin perempuan. Penampilan luar maupun dalam. Dari luar, masyarakat selalu menuntut mereka untuk terlihat pantas. Sementara, masyarakat juga menuntut mereka untuk memiliki kepribadian yang pantas dijadikan role model. Dengan kata lain, menjadi seperti malaikat yang sempurna tanpa cela.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3