Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Menulis Karya Ilmiah Sedari SMA, Mengapa Tidak?

4 Januari 2019   19:24 Diperbarui: 4 Januari 2019   19:29 682 8 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis Karya Ilmiah Sedari SMA, Mengapa Tidak?
Sumber: https://mrgegypt.wordpress.com

Istilah "karya ilmiah" selalu berkaitan dengan dunia kuliah. Memang, untuk menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, ataupun doktoral, mahasiswa harus membuat suatu karya ilmiah. Skripsi untuk pendidikan sarjana, tesis untuk pendidikan magister, dan disertasi untuk pendidikan doktoral. Hal ini memunculkan sebuah paradigma di dalam masyarakat.

Apakah paradigma tersebut? Karya ilmiah itu sulit untuk dibuat. Sehingga, tugas ini menjadi momok bagi semua orang. Penulis sendiri tidak menolak paradigma ini. Paradigma ini merefleksikan kenyataan yang ada.

Mulai dari pendahuluan sampai dengan kesimpulan harus dirangkai secara koheren. Konten masing-masing bab dan sub-bab harus nyambung satu sama lain. Pengkalimatan yang digunakan juga harus ilmiah dan berdasar. Jika tidak, maka tulisan tersebut tidak pantas disebut sebagai karya ilmiah, karena tidak mampu dipertanggungjawabkan.

Betul, karya ilmiah memerlukan proses yang cukup panjang dalam pembuatannya. Selain itu, karya ilmiah juga tidak semudah itu untuk ditulis. Tetapi, karya ilmiah juga memiliki manfaat yang besar bagi penulisnya. Apa saja manfaat-manfaat tersebut?

Pertama, meningkatkan produktivitas menulis. Manfaat ini muncul karena menulis karya ilmiah melatih kemampuan penalaran dan interpretasi penulis. Kedua, meningkatkan disiplin untuk menulis. Disiplin meningkat karena karya ilmiah menuntut penulisnya untuk menetapkan sebuah jadwal menulis yang konkrit serta efisien untuk menyelesaikan semua proses yang terlibat.

Ketiga, mengubah dan memperbaiki cara berpikir. Menulis karya ilmiah membantu penulisnya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), menyusun sebuah argumen, serta mempertahankan argumen tersebut. Keempat, melatih kemampuan penulis sebagai peneliti. Menulis karya ilmiah menuntut penulis untuk melandaskan argumentasinya berdasarkan teori dan pernyataan dari berbagai ahli yang dikemukakan secara ilmiah oleh penulis.

Manfaat-manfaat di atas sangat penting untuk membentuk sebuah generasi emas yang berkualitas, yang akan menjadi penduduk usia produktif pada era Bonus Demografi 2020-2030, serta generasi yang mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Maka dari itu, penulisan karya ilmiah harus disosialisasikan sejak dini.

Tetapi, jika penulisan karya ilmiah begitu bermanfaat, lalu mengapa penulisan karya ini tidak diperkenalkan sejak sekolah menengah atas (SMA)? Jawaban itu dikembalikan kepada paradigma masyarakat. Banyak elemen pendidikan kita masih merasa bahwa karya ilmiah terlalu sulit untuk dipahami oleh pelajar SMA.

Justru, paradigma ini harus menjadi dasar untuk argumen yang sebaliknya. Jika karya ilmiah adalah hal yang sulit untuk dipahami, maka pelajar SMA harus melakukannya sejak menempuh pendidikan menengah atas, agar lebih mudah bagi mereka untuk menulis skripsi, tesis, dan disertasi di masa depan. The basics of scientific writing should be taught in high school.

Mengapa demikian? Penulis memercayai bahwa pelajar SMA harus sudah menulis satu karya ilmiah karena penulis mengalaminya sendiri. Tugas penulisan karya ilmiah di kelas XI benar-benar memberikan keuntungan yang besar bagi penulis.

Sebelum bercerita soal keuntungannya, izinkan penulis untuk menceritakan pengalaman ketika menulis karya ilmiah secara singkat. Hal ini diawali dengan adanya penugasan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) bagi setiap murid kelas XI di SMA Dian Harapan, sebagai bagian dari kurikulum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN