Mohon tunggu...
Rahmat Setiadi
Rahmat Setiadi Mohon Tunggu... Buruh - Karyawan swasta yang suka nulis dan nonton film

Saya suka baca-tulis dan nonton film.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pesan Moral Tak Bermoral

6 Januari 2023   13:52 Diperbarui: 6 Januari 2023   13:55 282
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pesan moral, sudah tidak asing lagi dengan hal itu? Yah! Kita dengan mudah menemuinya setiap saat. Ada yang masuk sesuai dengan yang kita butuhkan, ada juga yang bukan kita harapkan. Bahkan ada kalanya sengaja kita lewatkan. Darimana pesan moral itu datang?

Pesan moral adalah kesimpulan dari cerita, perilaku, pengalaman dari orang-orang besar. Mereka bisa jadi merupakan pengusaha, penguasa, ahli agama, ilmuwan, dan orang yang berhasil meraih apa yang  banyak orang impikan. Apa pesan yang disampaikan? Pesan moral biasanya tentang kebaikan-kebaikan.

Silahkan anda ingat pesan moral apa yang paling teringat oleh anda, bisa dipastikan itu merupakan sesuatu yang berkesan. Dan isinya kerap menempatkan orang kecil sebagai subyek, pelaku kebaikan yang membuat pesan moral itu tercipta. Yup! Orang-orang besar menyebarluaskan perilaku baik orang-orang kecil.

Tidak ada yang salah dengan pesan moral, tetapi ada  yang mengganjal untuk diungkapkan. Misalkan cerita seorang pengusaha terkaya yang berpesan tentang beramal,  ada orang yang berkata bahwa orang besar berkata demikian karena telah kaya dan tidak mengurangi kekayaannya dengan cara beramal, kekayaannya terus mengalir mengisi kas yang berkurang atas sebab telah diamalkan.

Ada pula yang berkata bahwa kebaikan yang disampaikan oleh para orang besar itu sudah sewajarnya dikarenakan sudah tidak bermasalah dengan pengeluaran, kebutuhannya sudah terpenuhi dan berlebih kepemilikannya. Sementara pesan itu meski sebuah kebaikan, tetap saja tidak bisa dilakukan oleh semua orang.

Ada ungkapan yang berkata bahwa "jangan mendengar dari siapa, tapi dengarlah apa yang dikatakannya". Ungkapan tersebut  banyak digunakan oleh para orang besar, dan yang banyak terjadi adalah perkataan orang besar lebih didengar ketimbang perkataan orang kecil. Lalu bagaimana idealnya?

Orang besar cenderung menjadi pusat perhatian. Apa yang mereka lakukan, yang mereka katakan, perilaku sampai apa yang mereka kenakan kerap diperhatikan. Berita-berita seputar mereka menjadi sorotan publik dan media tidak lepas menyoroti mereka untuk konsumsi publik.

Publik melihat orang besar berpakaian sederhana akan mendulang pujian. Kesan tidak sombong, baik hati, pemurah, murah senyum, pun ketika mereka terekspos hidup glamor mendulang pujian. Hingga pada gilirannya pesan moral yang mereka lontarkan menjadi tampak nyata, juga mengundang haru yang menambah nilai plus pada mereka.

Orang besar digambarkan sebagai seseorang yang memiliki banyak harta, banyak pekerja, memiliki pengaruh kekuasaan, dan dapat dipastikan bahwa turunannya tidak akan mengalami menjadi orang kecil. Sebutan borjuis, milyader, kaya tujuh turunan, terkaya sedunia, dengan kemungkinan kecil bangkrut jauh sama sekali.

Jarang sekali orang besar yang juga sebagai orang kecil. Kesederhanaan yang orang besar tunjukkan berbanding terbalik dengan digit rekeningnya, tidak sesuai dengan barang koleksinya, sama sekali berbeda dengan biaya hobinya. Tidak jarang orang besar menaungi pekerja yang tidak banyak bisa menjadikannya orang besar, banyak pengikut orang besar yang terhalang menjadi orang besar dan pada gilirannya menghasilkan pesan sindiran.

Ketika pimpinan perusahaan menyediakan bonus sebuah mobil bagi pekerja yang dapat memenuhi target, sesungguhnya ia tengah menargetkan sepuluh mobil untuk diri dan keluarganya.

Ketika pengusaha sukses bercerita masa merintis usaha dengan segala kesulitannya, jarang sekali mengungkapkan modal uang pengembangan usaha, karena modal merupakan ranahnya sebagai orang besar. Ranah orang kecil adalah falsafah, bermodal kegigihan, hemat, rajin, disiplin/nurut pada pengusaha.

Orang besar tugasnya menyampaikan pesan. Diterima atau tidak ia akan melakukan pekerjaan utamanya yaitu jangan ada orang besar baru tanpa berhutang pada mereka, tidak bisa besar tanpa campur tangan mereka.

Sesama orang besar tidak saling mendahului. Mereka membagi rata jatah yang tersedia, membelah bumi untuk sesama mereka, bersama memberdayakan potensi yang ada. Mereka mempersilahkan publikasi atas mereka sesuai dengan yang mereka kehendaki atas dasar privasi dalam etika komunikasi. Orang kecil sangat terbatas mengetahui banyak tentang orang-orang besar.

Orang besar tidak butuh negara karena mereka yang membuatnya.  Pesan dari orang besar tidak bisa diterima oleh semua orang kecil, kecuali orang besar itu sekaligus sebagai orang kecil. Orang besar membagi banyak pesan dengan sedikit membagi uang dan kesempatan. Mereka membangun brankas di banyak tempat dengan pengamanan ektra ketat.

Yah! Pesan moral seolah menjadi bacaan yang menunjukkan telah matinya era falsafah, berakhirnya masa peradaban nasehat. Pesan-pesan orang tua kita terkubur oleh beredarnya pesan-pesan moral yang didominasi oleh orang-orang besar. Falsafah lokal, kedaerahan, bahkan pesan kenegaraan kian redup tertutup oleh pesan moral lintas agama, lintas ideologi, lintas batas teritorial.

Pesan moral mencoba membangkitkan kembali masa keemasan para motivator, para tetua adat, para sepuh kampung. Menggugah semangat agar berlomba memperebutkan sisa-sisa sumberdaya yang tercecer dari genggaman orang-orang besar.

Miris memang jika pesan moral datang dari orang yang tidak bermoral. Tapi tidak mungkin diperdebatkan, karena moral adalah privasi. Kita hanya boleh menyimak, mendengarkan kata-kata kebaikan tanpa melibatkan orang yang mengatakannya. Nikmat itu sederhana, caption dari menu restoran bintang lima. Huh!

Dan terakhir, apa pesan moral yang bisa anda ambil dari uraian di atas? Tetap semangat dan semoga sehat bahagia selalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun