Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Guru - Mahasiswa

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Babad Ikhwan Mistis: Di Hadapan Sebuah Keragu-raguan

18 Juli 2019   23:06 Diperbarui: 18 Juli 2019   23:10 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: Pixabay/qimono


"KKN Cal" Ujar Bursh


"Lah emang kenapa sama KKN?" Ical menampilkan ekspresi keheranan


"Iya Cal, tentunya ini akan cukup menghambat pergerakan KIMBERLI"


"Ya enggak lah Bursh, KKN kan masih bagian program kerja yang tertera dalam rencana program tahunan KIMBERLI" Ical coba menjelaskan


"Memang sih, tapi ya itu kan peruntukkannya bagi tingkat kita aja, nah yang saya bingung soal koordinasi dengan kader muda kita, agak susah, toh kita bakal ditempatkan di pelosok juga" Bursh tampak termenung.


"Resikonya memang begitu sih Bursh"
Saat mereka masih berbincang, Wahyu dan Dede datang sambil menenteng kresek. Dari kejauhan mereka melihat Bursh dan Ical sedang ramai berbincang. Tanpa lama mereka langsung mengarahkan lokasi makan mereka ke kantin kampus. "De, sono ke kantin, ada si Bursh sama Ical tuh!" Seru Wahyu. Lewat jarak yang tidak begitu jauh percakapan yang terjadi anatara Ical dan Bursh makin terdengar jelas.


"Bagaimana masalah kader muda?" Tanya Bursh
Wahyu dan Dede kemudian datang sambil menampakan wajah kebingungan "Kader muda kenapa emang?" Ujar Wahyu


"Nggak, ini biasa masalah kecil" Balas Bursh


"Ehh kenapa dong, kita perlu tahu juga nih, barangkali bisa bantu"


Bursh lalu menjelaskan semua kegundahan hatinya tentang pelaksanaan KKN yang esok hari akan resmi dimulai. Wahyu dan Dede memperhatikan penjelasan dari Bursh secara seksama dan teliti. Begitu pula Ical yang rupanya juga ikut memikirkan solusi dari apa yang dikhwatirkan oleh Bursh. Memang setelah dipikirkan, apa yang dikeluhkan oleh Bursh pun tidak benar-benar masalah sepele, tapi perlu juga siasat dan strategi guna menanggulanginya.


Dari apa yang dipaparkan oleh Bursh, kini roman wajah Wahyu dan Dede mulai dihiasi aura ketidaknyamanan. Sepertinya mereka juga mulai memahami apa yang menjadi beban pikiran Bursh. Mereka berempat pada akhirnya membisu dan tidak bercakap sedikit pun. Masing-masing darinya hanya tertunduk dan memainkan pena sambil bersiul-siul. Tidak bisa dibohongi lagi bahwa mereka sedang memikirkan permasalahan yang diangkat oleh Bursh tadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun