Ganendra
Ganendra Jakarta Worker

Jakarta Worker - suka melekan ...tapi udah mulai ngurangin melek, sejak dimarahin suster :) .... aktif di IG: @rahabganendra follow yes, pasti dipolbek :D ________________________________________ EMAIL: masrahab@gmail.com ________________________________________ FACEBOOK: https://www.facebook.com/rahabganendra ________________________________________ #SemangatPagi

Selanjutnya

Tutup

Tekno Pilihan

Jadikan Instalasi Listrik Rumah Anda Aman dari Kebakaran dan Bahaya Kesetrum

3 Desember 2017   21:59 Diperbarui: 3 Desember 2017   23:02 1359 3 0
Jadikan Instalasi Listrik Rumah Anda Aman dari Kebakaran dan Bahaya Kesetrum
Merangkai pengaman arus listrik. (Foto Rahab Ganendra)

Resiko kebakaran akibat arus listrik sering kita dengar. Bukan hanya gedung, pasar namun juga dari rumah di pemukiman. Konsleting, arus berlebih, arus bocor/ setrum menjadi salah satu biang keladinya. Itu terjadi akibat  buruknya instalasi jaringan listrik yang tidak aman. Kita sebagai warga pengguna listrik wajib menjaga keamanan dari akibat negatif yang ditimbulkan listrik. Saat aliran listrik tersambung ke rumah kita, di situlah kita harus bertanggungjawab mengamankannya. Upaya harus dilakukan, minimal dengan menggunakan sarana peralatan listrik yang kredibel, berstandar SNI dan tentunya berkualitas aman.

Sering kita dengan musibah kebakaran yang terjadi di kota besar. Dulu saya pernah ikut acara Palang Merah Indonesia (PMI) yang digelar di Jakarta Barat yang bertema tentang relawan PMI. Salah satunya tentang penanganan bantuan musibah kebakaran. Disebutkan bahwa di Jakarta Barat termasuk wilayah yang sering terjadi kebakaran. Tiap bulan ada kebakaran. Penyebabnya beragam termasuk oleh arus listrik.

Mengejutkan bahwa data dari Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric menyebutkan bahwa ada sekitar 73% dari jumlah kebakaran di Jakarta tahun 2016 diakibatkan oleh gangguan arus listrik. Itu prosentase yang tinggi mengingat di Jepang hanya 20 % dengan  penyebab kebakaran adalah  kompor yang lupa dimatikan saat gempa bumi. Sementara di Vietnam hanya 50%. Jadi di Indonesia sangat tinggi sekali, 73%!

"Dari 1139 kasus kebakaran ternyata 836 kasus terjadi karena arus listrik," kata Frankco Nasarino saat acara nangkring Kompasiana-Schneider Electric pada  Sabtu, 25 November 2017 di Crematology Coffee Roasters, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ini menunjukkan bahwa pengamanan listrik rumah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh, agar tak terjadi hal-hal tak diinginkan seperti kebakaran. Lalu bagaimana cara menciptakan solusi instalasi listrik yang aman dan meminimalisir resiko potensi kebakaran?

Nangkring Kompasiana-Schneider Electric pada Sabtu, 25 November 2017 di Crematology Coffee Roasters, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Foto Rahab Ganendra)
Nangkring Kompasiana-Schneider Electric pada Sabtu, 25 November 2017 di Crematology Coffee Roasters, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Foto Rahab Ganendra)
Nangkring Kompasiana-Schneider Electric  

Mengetahui seluk beluk tentang instalasi listrik yang aman, digali dari Frankco Nasarino selaku Product Marketing Schneider Electric yang juga seorang blogger saat acara nangkring Kompasiana-Schneider Electric, Sabtu, 25 November 2017 di Crematology Coffee Roasters, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Acara nangkring yang menambah pengetahuan khususnya bagi kompasianer yang awam dan mungkin masih banyak yang tidak 'ngeh' tentang instalasi listrik di rumahnya. Termasuk saya heheee. Taunya pakai saja. Dari acara ini menyadarkan saya pentingnya menjaga keamanan instalasi listrik di rumah. Bukankah bila bebas dari kebakaran akibat konsleting bisa aman semua rumah di lingkungan sekitar?

Nah penting banget rasanya saya berbagi tentang pengetahuan keamanan instalasi listrik di acara nangkring itu melalui tulisan, agar makin banyak yang tahu dan semakin care/ peduli dengan instalasi di rumahnya. Yuk simak!

Acara dibuka dengan kuis yang dipandu oleh Maria Anneke, presenter Kompas TV. Awalnya kompasianer yang hadir dipersilakan membuka websitekahoot.it. Di situ ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh sekitar 40an kompasianer yang hadir. Seru juga karena pertanyaan yang diajukan seputar pengetahuan tentang listrik. Di sinilah kompasianer diuji sejauh mana pengetahuan dan pemahamannya tentang listrik. Seru euuy!

Lalu pemateri, Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric presentasi seputar peralatan listrik, seperti MCB (Miniature Circuit Breaker), ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker), RCBO dan tentang Schneider Electric. Nah Schneider Electric sendiri merupakan perusahaan yang berasal dari Prancis. Lebih dari 100 tahun berdiri. Di Jakarta berkantor di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Memproduksi peralatan listrik, NCB, trafo, sensor dan lain-lain.

Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric. (Foto Rahab Ganendra)
Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric. (Foto Rahab Ganendra)
Listrik dan Ancamannya

"Di Surabaya ada mahasiswa mencoba mencabut charger, kesetrum meninggal dunia. Temannya yang mau membantu masih bisa diselamatkan," kata Frankco Nasarino mengawali presentasinya.

Rino (nama panggilannya) sharing tentang peristiwa kesetrumnya seorang mahasiswa di Surabaya. Maksudnya jelas, bahwa arus listrik itu selain bermanfaat juga menyimpan ancaman, bahkan nyawa.

Seperti yang kutulis di atas, ratusan kebakaran Jakarta disebabkan oleh arus listrik. Bahaya terdekat misalnya terjadi di pemasangan instalasi. Seperti terjadi di rumah yang sedang dibangun. Instalasi apa adanya. Lampu tak diklem, tak dipaku. Kabelnya bahkan dibuat jemuran. Ada air dalam kain. Ada aliran elektrolit yang mengalirkan arus listrik. Air hujan, mengandung air garam. Itu sebabnya kalau memegang alat listrik, tangan, tubuh tak boleh basah.

"Plafon rumah, kadang kabel telanjang, tak ada pipanya. Sementara tikus kadang makan kabel," jelas Rino, menggambarkan ancaman dan bahaya arus listrik karena instalasi yang kurang aman.

Menurut Rino, instalasi rumah adalah tanggungjawab pemilik rumah. Rino mengacu UU No. 30 tahun 2009 tentang Kelistrikan, khususnya pasal 29. Disebutkan bahwa warga negara berhak mendapat energi listrik. Jadi negara wajib memberi energi listrik. Pemerintah bersikeras memberi listrik ke setiap warganegara. Sementara warganegara selaku konsumen  wajib melakukan pengamanan terhadap  listrik yang digunakannya.

"Kemanan listrik rumah menjadi kewajiban warganegara bukan pemerintah. Kita wajib mengamankan listrik di rumah kita sendiri," jelas Rino.

Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric. (Foto Rahab Ganendra)
Frankco Nasarino, Product Marketing Schneider Electric. (Foto Rahab Ganendra)
Listrik dan Keamanannya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3