Mohon tunggu...
Muhammad Rafiq
Muhammad Rafiq Mohon Tunggu... Jurnalis - Bersahabat dengan Pikiran

Ketua Umum Badko HMI Sulteng 2018-2020 | Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat Hukum dan Politik | Jurnalis Sulawesi Tengah

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Hoaks Makin Banyak, Kementerian Kominfo Mesti Bagaimana?

9 Maret 2020   21:09 Diperbarui: 9 Maret 2020   21:28 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan update mengenai jumlah hoax dan disinformasi soal virus corona. Kehebohan makin menjadi ketika 2 orang WNI positif corona.

Informasi terbaru hingga 7 Maret 2020 terkait hoax dan informasi wabah COVID-19 bertambah jumlahnya menjadi sebanyak 173. Padahal sebelumnya Kementerian Kominfo merilis pada Selasa 2 Maret 2020 berjumlah sebanyak 147.


Angka tersebut bertambah seiring virus corona sampai hari ini masih sulit dibendung. Pada Minggu 8 Maret 2020, Juru Bicara Pemerintah khusus corona Achmad Yurianto menyebut jumlah suspect Covid-19 bertambah menjadi 23 orang di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah tersebut bertambah, sebab sebelumnya dinyatakan  ada 11 suspect corona di Indonesia. Jumlah itu berasal dari 327 yang diperiksa. Spesimen itu dikirim dari 63 Rumah Sakit yang ada di 25 provinsi.

Menarik kesimpulan dari situasi terkini, penanganan Virus Corona masih terus dilanjutkan. Nampaknya pemerintah serius menanganinya. Tapi masalahnya, arus informasi berita bohong alias Hoaks juga ikut bertambah. Di saat jumlah suspect Corona naik beberapa pekan ini, hanya butuh waktu 6 hari jumlah hoaks bertambah 26 hoaks, sebagiannya disinformasi.

Apapun alasannya, hoaks membuat masyarakat gamang akan keganasan virus ini. Berbagai upaya telah dilakukan agar masyarakat tidak percaya akan informasi yang tidak jelas sumbernya. Namun itu, nampak kurang efektif ditandai makin bertambahnya jumlah hoaks. Entah di mana masalahnya, namun yang pasti pemberitaan di media-media tentang update penanganan virus Corona membuat kita makin waspada.

Screenshot
Screenshot

Mestinya ada aksi mengimbangi situasi ini dengan gerakan anti-hoaks atau membumikan verifikasi informasi. Jika cara ini dipandang sebelah mata, arus informasi hoaks tidak akan pernah berhenti.  Apalagi, masyarakat awam yang belum mengenal "dunia hitam" informasi dan komunikasi, bisa termakan hoaks yang beredar kuat di dunia internet.

Ambil contoh disinformasi sejumlah hewan yang ditemukan mati mendadak di Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Kabar kematian hewan disebarkan melalui akun media sosial dikaitkan dengan virus Corona. 

Setelah dilakukan cek fakta oleh dinas terkait dengan melakukan uji cepat atau rapid test terhadap bangkai hewan, hasil yang didapatkan menunjukkan hewan mati karena keracunan. Itu baru satu contoh, efeknya membuat masyarakat "jantungan". 

Kabar itu masuk dalam kategori disinformasi. Andaikan dikategorikan sebagai informasi hoaks, bisa dibayangkan berapa banyak masyarakat berbondong-bondong membunuh hewan ternaknya karena takut terpapar virus Corona melalui hewan.

Sudah sekian pekan penanganan virus Corona gencar dilakukan. Mulai dari level pencegahan berupa sosialisasi di media sosial hingga penjelasan para pakar sampai pada tahap penanganan pasien tak pernah berhenti. Namun apsek informasi jangan sampai lengah.

Bercermin dari insiden rasis terhadap masyarakat Papua, di mana saat itu pemerintah khawatir hoaks makin menambah situasi menjadi lebih buruk. Kondisi itu lantas membuat Kominfo memblokir sementara akses internet demi memutus mata rantai penyebaran hoaks. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun