Mohon tunggu...
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat Mohon Tunggu... Sejarawan - Budayawan Betawi

a father, batavia, IVLP Alumni 2016, K1C94111, rachmatkmg@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Artikel Utama

Pilkada Jatim 2018, Menanti Kiprah Bani Hasyim

27 Desember 2017   11:47 Diperbarui: 27 Desember 2017   14:11 3365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mulai saat itu beliau mengembangkan dakwah Islam lewat tulisan, pemikiran, organisasi (NU) hingga ke para santrinya yang berasal dari seluruh penjuru tanah air. Saking cintanya pada Indonesia, pada zaman revolusi '45, Hadratus Syaikh, --panggilan kecintaan murid-muridnya-- pernah mengeluarkan Resolusi Jihad. Akibatnya, semangat perlawanan rakyat Jatim menyala dan terbakar. Nica dan Sekutu bertekuk lutut.

Selepas KH. Hasyim wafat, tongak perjuangannya dalam membela Islam diteruskan oleh putranya, KH. Wahid Hasyim. Beliau adalah pahlawan nasional dan salah satu bapak pendiri bangsa. Sebagai bukti kecintaan Wahid pada harkat martabat umat Islam, beliau ikut merumuskan dan menorehkan tanda tangannya di Piagam Jakarta, dimana termaktud salah satu prasa monumental bagi sejarah perjalanan umat Islam di Indonesia yang berisi: "Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Sayangnya, Wahid tak berumur panjang. Ia wafat dalam usia yang relatif muda, 38 tahun.

Estafet perjuangan Kyai Hasyim tak berhenti sampai di Wahid, masih banyak anak-anak Hadratus Syeikh yang lain. KH. Yusuf Hasyim, misalnya, semasa mudanya pernah angkat senjata melawan Belanda, memimpin pasukan laskar Hizbullah di Jawa Timur. Selepas masa Revolusi, kiprahnya pun berlanjut.  Di Era 70-an, beliau lah salah satu tokoh yang memperjuangkan RUU Perkawinan di parlemen menjadi UU No. 1/1974. 

Setelah UU itu terbit, jalan bagi terbentuknya UU tentang Peradilan Agama di Indonesia pun kembali terbuka. Lewat UU bernuansa syariah inilah umat Islam menikmati manisnya kehidupan beragama di tanah air. Hukum perkawinan, waris, dan sebagainya di atur dalam hukum Islam. Sejak itulah kita mengenal adanya Pengadilan Agama Islam (PAI) untuk memutus sengketa antara umat Islam.

Setelah putra-putri Hadratus Syaikh banyak yang wafat, maka kembali estafet perjuangannya diteruskan oleh cucu-cucunya. Diantara yang terkenal adalah KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur). Gen (DNA) pejuang dan pemberani jelas mengalir dalam darah Gus Dur. Merasa NU selalu dipinggirkan, beliau lah yang berani berhadapan dengan Pak Harto dimasa kuat-kuatnya Orde Baru. Cucu KH. Hasyim inilah yang berani membubarkan DPR/MPR dan membekukan Partai Golkar dengan dekrit presidennya.

Gus Dur pula yang tanpa takut memaksa Jenderal Wiranto, --yang kini diangkat Presiden Jokowi sebagai Menkopolhukam-- untuk mundur dari jabatannya. Bahkan saking cintanya pada perjuangan umat Islam, beliau meliburkan sekolah selama bulan Ramadan. Tujuannya tentu untuk memberi kesempatan kepada para anak-anak sekolah untuk mengaji dan belajar agama Islam secara kaffah dan full sebulan penuh selama bulan (puasa) Ramadan. 

Untuk meningkatkan kesejahteraan umat Islam, Gaji PNS, TNI/Polri dinaikkan dengan kenaikan yang signifikan. Bahkan, kepada saudara-saudaranya seiman di Aceh, beliau mengadakan 'gencatan senjata' dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Itulah jejak-jejak perjuangan trah Bani Hasyim menjaga, menegakkan, dan membela harkat, martabat dan dignity umat Islam di Indonesia. 

Kini setelah Gus Dur tiada bukan berarti kelanjutan perjuangan trah Bani Hasyim terhenti. Banyak dari cucu dan cicit KH. Hasyim Asy'ari yang kini berkiprah di pentas regional (Jatim) ataupun nasional. Bila saja Prabowo cs melirik mereka dan mereka mau dipinang oleh Gerindra, kelar sudah Gus Ipul dan Khofifah. Mengapa saya berani menyebut demikian. Ada beberapa analisa, pertama; Tebuireng adalah basis perjuangan NU, sudah ribuan kyai dan pesantren dihasilkan dari pesantren di selatan Jombang ini.

Rasanya tak sulit bagi para jaringan dan relawan untuk memobilisasi suara bagi kemenangan trah Bani Hasyim. Kedua; Milestones, jejak sejarah perjuangan trah Bani Hasyim terserak dimana-mana. Ini merupakan legacy dari nama baik yang tak diragukan oleh siapapun. Dengan menarik trah Bani Hasyim untuk ber-khidmat di Jawa Timur di pastikan massa rakyat takkan meragukan integritas Bani Hasyim dalam membela kepentingan rakyat Jawa Timur. Ketiga: Rakyat mungkin telah bosan dengan pertarungan dua kandidat yang itu-itu saja. Dengan memunculkan figur lain, maka rakyat disodorkan alternatif yang bisa membawa perubahan dari status lama (quo) ke paradigma baru.

Demikianlah, tanpa pretensi apa-apa saya mencoba membuka wawasan kita bahwa di Jatim sebenarnya bukan hanya milik Gus Ipul dan Khofifah, berdua, namun ada figur lain yang patut ditampilkan. Dengan mengulas latar belakang sejarah perjuangan trah Bani Hasyim, jelas terbaca bila Bani Hasyim tak diragukan keberpihakannya pada umat Islam dan rakyat Indonesia. Tinggal sejauh mana elite politik di Jakarta melirik siapa dari kalangan Bani Hasyim yang layak ditampilkan memimpin Jatim untuk periode 2018 -- 2023. Semoga Rakyat Jatim disuguhkan dan diberi pilihan para calon pemimpin yang berbobot.

#penulis pernah tinggal di Jatim kurun 1991-1994

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun