Birokrasi

Politik, Jangan Jadikan Indonesia Seperti Lapangan Sepak Bola

2 Juni 2018   19:51 Diperbarui: 2 Juni 2018   20:22 481 1 0
Politik, Jangan Jadikan Indonesia Seperti Lapangan Sepak Bola
Sumber : www.klikwarta.com

Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik. Di tahun inilah kita dihadapi dengan pemilihan pemimpin yang akan menentukan nasib bangsa ini lima tahun kedepan. Persaingan tentu saja ada di dalam politik. Para elite politik, kader politik, hingga masyarakat politik saling beradu argumen dan berdebat, baik di media sosial, maupun media massa lain. Ada dua kubu yang beradu politik saat ini yaitu kubu yang pro pemerintahan  dan kubu oposisi yang gencar dengan #2019gantipresidennya. Namun sesungguhnya apa yang mereka perdebatkan ?

Masalah masyarakatkah ?, atau masalah kemajuan bangsa ini ?. Umumnya mereka bertarung dalam politik bagai pertandingan sepakbola. Mereka giat menyusun strategi namun hanya untuk mencari sebuah blunder atau kesalahan lawan seperti halnya sepakbola dimana kedua kesebelasan saling mencari celah atau kelemahan lawan agar bisa mencetak gol. Mengikuti politik ibarat kita menonton sepak bola dengan Negeri ini sebagai lapangan dan dua kubu yang bertanding.  Masyarakat hanya sebagai penonton atau supporter masing-masing kubu. 

Banyak hal terjadi mulai dari blunder antar kubu, serangan antar kubu, ada yang offside, dan ada yang saling memberi kartu kuning dan merah pula. Namun sejatinya Indonesia bukanlah lapangan sepak bola yang hanya menjadi ajang bertarung politik, serang sana serang sini, namun tidak memerhatikan masyarakat dan hanya menjadikan masyarakat seorang supporter bukan insan yang seharusnya diprioritaskan oleh elite politik. Apalagi banyak pelanggaran yang terjadi dalam.persaingan politik.

Sebut saja Isu SARA. Sangat disayangkan, Indonesia yang sudah kuat dalam kemajemukan masih saja mempermasalahkan hal ini. Seharusnya kita sadar dengan nurani bahwa keadilan adalah ketika semua agama, suku, dan ras dapat semua terwakili bukan hanya 1 atau 2 saja. Jika terus seperti ini apakah kita akan melihat persatuan ?.  Kemudian. penyerangan tokoh politik secara pribadi. Sejujurnya hal ini sangat disayangkan. Mengapa kita yang satu tanah air hanya karena politik saja sampai harus menyerang secara pribadi ?. Bukankah kita saudara ?

Sekeras apapun persaingan hendaknya menyerang pribadi seseorang tentu saja tidak dibenarkan. Boleh saja kita mengkritik ucapanya tapi jangan pribadinya. Yang paling menyedihkan adalah banyaknya fitnah, saling nyirnyir dan hoaks di Indonesia. Hampir semua media seperti facebook, instagram, twitter yang penuh dengan hal semacam itu. Sedikit sekali yang membicarakan Indonesia ke depan. Ambisi politik dan meraih kemenangan politik telah membuat kita lupa jika masih banyak yang kita pikirkan untuk Indonesia maju.

Untuk itulah sebagai masyarakat yang cerdas, politik harusnya berorientasi ke tujuan. Tentunya tujuan itu adalah menjadikan Indonesia lebih maju kedepan dan menyaingi negara lain. Bagaimana cara berpolitik yang benar ?. Tentu saja yang pertama adalah menciptakan politik untuk semua. Semua elite politik dalam berpolitik harus berkomitmen bahwa politik harus mementingkan semua golongan. 

Elite politik harus mampu duduk ditengah agar semua masyarakat terwakili dalam politik sehingga Isu SARA dapat dicegah. Yang kedua mengusung Indonesia maju. Nyirnyir, aksi,  tagar dan saling serang tidak akan bisa membuat Indonesia maju. Seharusnya yang dipertarungkan adalah bagaimana konsep dan program masa depan yang baik untuk Indonesia maju. Yang ketiga dalam politik harus berbicara banyak tentang masyarakat yang artinya menjadikan masyarakat sebagai prioritas politik. 

Baik pemerintah maupun oposisi  harus punya visi,misi, dan tujuan yang jelas melingkupi seluruh masyarakat Indonesia. Jangan menjadi pemimpin nanti kelak terkena sakit AIDS (angkuh, iri hati, dengki, sombong). Pemimpin yang angkuh adalah pemimpin yang hanya manis dan bijak saat pemilu saja setelah terpilih tidak peduli dengan masyarakat. Pemimpin yang iri hati adalah pemimpin yang tidak punya rasa bersyukur dan selalu iri dengan yang lain. 

Disinilah tercipta koruptor. Pemimpin yang dengki adalah pemimpin yang penuh kebencian  dan pemimpin yang sombong adalah pemimpin yang selalu merasa paling tinggi derajatnya. Untuk itu mari ciptakan politik sehat dan berorientasi kedepan.