Mohon tunggu...
Finansial Pilihan

Deflasi, Sebuah Prestasi?

17 Maret 2019   22:08 Diperbarui: 17 Maret 2019   23:20 0 2 1 Mohon Tunggu...

Tahun 2019 sudah beranjak ke Bulan Maret. Pada awal Maret 2019 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka inflasi/deflasi Indonesia untuk bulan Maret 2019. Pada rilis tersebut, BPS menerangkan bahwa pada Februari 2019 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen. Ini berarti terdapat penurunan harga barang dan jasa secara umum yang dikonsumsi masyarakat dari bulan Januari 2019 ke bulan Februari 2019 sebesar 0,08 persen. Terjadinya penurunan harga umum barang dan jasa ini dapat dipicu oleh tingginya angka penawaran beberapa kelompok komoditas barang dan jasa yang menyebabkan adanya excess supply.

Kelompok komoditas apa saja yang terdampak deflasi?

Berdasarkan rilis yang disampaikan oleh BPS awal bulan Maret 2019 lalu, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya harga komoditas kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan yang mengalami penurunan harga sebesar 1,11 persen. Komoditas lainnya sebagian besar mengalami sedikit kenaikan harga, akan tetapi persentase kenaikannya kecil, antara lain: kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami kenaikan harga sebesar 0,31 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,25 persen; kelompok sandang mengalami kenaikan harga sebesar 0,27 persen; kelompok kesehatan yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,36 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami kenaikan harga sebesar 0,11 persen. Sementara itu, ada kelompok komoditas yang mengalami sedikit kenaikan harga, yaitu kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen.

Daerah mana saja yang mengalami tingkat inflasi tertinggi?

Inflasi diperoleh dari Survei Biaya Hidup (SBH) dari 82 kota di mana 69 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Merauke dengan tingkat deflasi sebesar 2,11 persen, sementara itu tingkat deflasi terendah terjadi di Serang sebesar 0,02 persen. Inflasi atau kenaikan secara umum harga komoditas barang dan jasa, terjadi di Tual dengan tingkat inflasi tertinggi sebesar 2,98 persen dan tingkat inflasi terendah di Kendari sebesar 0,03 persen.

Apakah Deflasi itu sebuah prestasi bagi suatu daerah?

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, deflasi merupakan penurunan harga sekelompok komoditas barang dan jasa, sementara itu inflasi merupakan kenaikan harga sekumpulan komoditas barang dan jasa. Deflasi di suatu sisi dapat menjadi kondisi yang bagus bagi suatu daerah, mengingat masyarakat dapat membeli barang dan jasa dengan harga yang lebih rendah (murah), sementara itu inflasi membuat masyarakat membeli suatu komoditas dengan kuantitas yang sama dengan harga yang lebih tinggi (mahal). Deflasi dapat menjadi suatu pertanda bahwa suatu daerah pada periode tertentu mampu mengendalikan harga suatu komoditas, akan tetapi deflasi dalam jangka panjang akan membawa dampak yang kurang baik sehingga bukan tidak mungkin deflasi bukanlah suatu prestasi yang bagus.

\ Penurunan harga yang terus menerus terjadi, dapat menyebabkan melemahnya kegiatan perekonomian, produsen akan membatasi produksi barang dan jasa yang akan mengakibatkan adanya efisiensi jumlah pegawai sehingga menyebabkan adanya PHK (pemutusan hubungan kerja). Hal tersebut dampak mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran yang berdampak makin meningkatnya angka kemiskinan. Hal itulah yang akan mendorong adanya mengguncang stabilitas keamanan daerah yang bersangkutan karena tingginya angka kriminalitas karena motif ekonomi.

Angka inflasi bisa menjadi mata pisau. Di satu sisi, inflasi berarti adanya peningkatan harga komoditas barang dan jasa, yang bisa jadi "membebani" masyarakat untuk membeli komoditas dengan harga yang lebih tinggi, akan tetapi di sisi lain inflasi memiliki dampak positif terutama dalam jangka panjang. Kenaikan harga komoditas suatu barang atau jasa dapat membuat produsen lebih bergairah dalam melakukan kegiatan produksi. Hal ini dapat membuat produsen membutuhkan tenaga kerja lebih banyak sehingga mampu menyerap pengangguran sehingga berdampak pada penurunan angka kemiskinan dan makin stabilnya keamanan di daerah tersebut karena menurunnya angka kriminalitas.

Pada akhirnya, baik angka deflasi maupun inflasi haruslah tetap dikontrol pergerakannya oleh pemerintah yang bersinergi dengan para stakeholder terkait. Mengontrol angka ini dapat dilakukan salah satunya dengan terus memantau fluktuasi perubahan harga semua komoditas barang dan jasa yang setiap harinya rutin dikonsumsi oleh masyarakat.