Mohon tunggu...
Purwanto Hadi
Purwanto Hadi Mohon Tunggu... Guru dan Penembang Jawa

"....jangan menunggu sempurna untuk berkarya..."

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pada Sebuah Hati [Part:1]

25 Juni 2014   20:51 Diperbarui: 18 Juni 2015   08:58 75 0 0 Mohon Tunggu...

Perjalanan darat dari Ngawi ke Batu Malang, aku tempuh dalam 5 jam. Sengaja aku tidak memacu h**da j*zz kesayanganku dengan kencang. Biasa saja santai, lagian aku sudah sangat akrab dengan jalur berkelok-kelok diperbukitan ini, jadi tak perlu ngebut. Di dalam perjalanan pun, aku hanya sekali menulis status di facebook, ketika sempat mampir di warung Mbak Yuli langgananku di tengah hutan Pujon. “OTW Ngawi – Malang”, demikian statusku hari itu dan sepertinya tidak banyak kawan yang memberi komentar, bukan status yang hot mungkin. Lain cerita jika status saya tentang perkembangan draft permendikbud guru TIK, pasti ramai.

Kepergianku ke Batu memang bukan tugas yang aku sukai, jujur pada awalnya aku hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru PNS yang dikirim oleh Dinas Pendidikan untuk mengikuti TOT Instruktur Nasional Kurikulum 2013 (K-13). Saat itu tenaga dan pikiranku banyak terkonsentrasi dalam mengawal Draft Permendikbud tentang Peran Guru TIK dalam K-13. Di samping regulasi itu banyak ditunggu guru-guru TIK di seluruh Indonesia, juga karena di kejar waktu dengan datangnya tahun ajaran baru. Kebetulan aku salah satu yang terlibat dalam mengusulkan draft tersebut, bersama dengan pengurus Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional (Agtikknas) yang lain. Aku dan sekitar 7000-an guru TIK dan KKPI seluruh Indonesia, memang sedang gundah-gundahnya. Mapel TIK dan KKPI di hapus dari K-13 dengan alasan yang sulit dipahami. Permasalahan melebar kemana-mana mengingat sudah sekitar 1 tahun kurikulum berjalan tak kunjung ada regulasi yang mengatur peran guru TIK dan KKPI, setelah mapelnya dilikuidasi. Salah satunya adalah dialihkannya sebagian besar guru TIK menjadi guru Prakarya, mapel baru di K-13. Inilah yang menyebabkan aku di kirim oleh Dinas Pendidikan di Batu, mengikuti TOT K-13 mata pelajaran Prakarya. Hem, Prakarya... apanya yang menarik? Apanya yang menantang?, gumamku saat itu. Jujur, pada awalnya saya memandang sebelah mata pelajaran yang identik dengan membuat keset, membuat juss atau menanam kangkung ini.

Kuanyam hati dan pikiranku, apa yang mesti aku lakukan. Di saat hati belum sembuh dari luka di hapuskannya mapel TIK kesayanganku dari kurikulum,  di kala hati sedang gundah menunggu regulasi yang tak kunjung terbit dan di saat aku belum bisa menerima sepenuhnya menerima mapel Prakarya. Saat hati dan pikiranku dalam persimpangan seperti itu, aku harus mengemban tugas sebagai seorang Instruktur K-13, yang sepulang TOT harus mampu men-share ilmunya ke guru-guru sasaran.

Akhirnya kutemukan jawabannya. Sambil menunggu regulasi guru TIK turun, baiklah TOT ini akan aku jalani dengan wajar dan biasa-biasa saja. Tak perlu sungguh-sungguh dan juga tak perlu emosional. Aku memang tidak antusias, namun juga tidak apatis. Masih ada harapan, aku akan mendapatkan ‘sesuatu’ dari pelatihan ini. Dari berkali-kali pelatihan yang pernah aku ikuti, inilah satu-satunya pelatihan yang tidak ‘menggoda’ aku sama sekali, sampai momen itu terjadi.

Memasuki gerbang gedung P4TK PKn IPS, tempat TOT K-13 yang cukup megah itu, aku hanya bergumam dalam hati. Di gedung megah ditengah sawah inilah, aku akan ‘disiksa’ selama tujuh hari ke depan. Saya sudah membayangkan akan mengikuti sesi demi sesi dengan menjemukan, dari pagi hingga malam. Dalam hati aku sudah mengancam, selama mengikuti sesi aku hanya akan menyalakan akun facebook, sambil mengupdate status dan komentar teman-teman seperjuangan, saya tak akan memperhatikan sungguh-sungguh narasumber di depan, saya akan pasif dalam kelompok diskusi dan saya akan ogah-ogahan jika harus presentasi di depan.

Setelah mencari tempat parkir, saya langsung meminta kunci kepada petugas kamar agar segera bisa merebahkan diri setelah lelah 5 jam duduk di belakang kemudi, dengan hati yang tidak sedang bahagia. Di atas bed yang cukup bagus itu, kupejamkan mata serilek-rileknya. Pikiranku melayang kemana-mana, seperti memutar kembali perjalanan hidupku.

Hem, berkualifikasi akademik seorang Magister Teknologi Pendidikan, sudah sepuluh tahun aku mendedikasikan diri menjadi seorang guru TIK. Bukan waktu yang pendek, selama waktu itu sudah banyak warna yang aku lalui, hingga mendeskripsikan diriku sebagai seorang guru TIK yang cukup mumpuni.

Pikiranku terus melayang hingga terbawa kepada momen gonjang-ganjing dihapuskannya mapel TIK di K-13. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana kritisnya pikiranku saat awal diterapkannya K-13, hingga harus berkali-kali aku dipanggil pimpinan gara-gara opini protesku pada K-13 dalam blog pribadiku di kutip seorang wartawan dan diberitakan secara luas di media cetak. Momen ketika tanganku menandatangani surat pernyataan bermaterai 6000 yang disodorkan oleh pimpinan sebagai jaminan bahwa saya tak akan kritis lagi, benar-benar manjing di dasar otakku. Betapa penakutnya aku waktu itu, aku seorang pecundang. Ya, akulah the real losser, seorang pecundang sejati. Hanya karena takut kehilangan kemapanan, takut keluar dari zona nyaman seorang pegawai negeri, saya bersedia menandatangani surat itu dan keluar dari ruangan pimpinan seperti seorang yang kalah perang.

Menyatunya guru-guru TIK dan KKPI se Indonesia dalam wadah Agtikknas, kembali mencuatkan semangatku yang sempat padam. Bermula dari komunikasi online dengan teman-teman se-Indonesia akhirnya aku bergabung dengan mereka, para pejuang, untuk menyuarakan penolakan penghapusan mapel TIK dan KKPI. Mereka memang para pejuang sejati, ikhlas, tanpa pamrih dan rela berkorban. Hari-hari selanjutnya kupenuhi dengan diskusi-diskusi, tanya jawab, mencari solusi terbaik untuk permasalahan ini. Hingga hampir tiap hari saya harus online hingga dini hari.

Momentum pertemuan para pejuang di Jakarta sebagai pusat gerakan organisasi, benar-benar mengaduk-aduk emosiku. Nama-nama beken semacam Firman Oktora dari Bandung, Fathur Rachim dari Samarinda, Wijayah Kusumah dari Jakarta, Dewi Utari dari Bogor, Tri Budiharjo dari Solo, Widiyanto dari Banyumas, dan lain-lain yang sebelumnya hanya saya kenal lewat online, kini dipertemukan di Jakarta seperti layaknya seorang saudara yang terpisah lama dan kini disatukan kembali. Sapaan akrab, pelukan hangat, dan tetesan air mata haru, sebagai orang yang senasib selalu terjadi ketika kami bertemu. Momen itu tak akan kulupakan untuk selamanya, ya untuk selamanya. Itulah salah satu momen terindah dalam hidupku.

Kegigihan kawan-kawan seperjuangan dalam memperjuangkan hak, dan jati diri seorang guru TIK dan KKPI membuatku kagum sekaligus bangga. Pikiranku terbawa pada saat dimana kami harus beradu argumen dengan para pejabat ketika momen seminar di gedung Kemdikbud. Semangatnya luar biasa, hingga terkadang suasana gedung begitu gemuruh seperti mau runtuh saja. Kesabaran kawan-kawan juga diuji karena berkali-kali janji para pejabat yang akan segera menerbitkan Permendikbud itu ternyata molor dan molor lagi.

Mimpiku berlanjut ketika aku bersama 60 orang pejuang lain, harus meluruk ke Komisi X DPR RI untuk ikut menyimak rapat dengar pendapat dengan Kemendikbud, yang salah satu agendanya adalah evaluasi penerapan K-13. Tidak tanggung-tanggung, hingga hampir jam satu dini hari baru selesai, dengan hasil hanya mendapatkan satu janji dari Pak Nuh dan Pak Musliar Kasim bahwa Permendikbud guru TIK akan segera terbit.

Mimpiku buyar, ketika dua sahabatku menggoyang-goyang tubuhku, membangunkan tidurku.“He... bangun.. registrasi dulu!”, ujarnya sambil ngeloyor membawa map berisi berkas registrasi. Seketika aku bangun dan kusambar map kuning di atas meja, setelah sebelumnya sempat cuci muka. Tempat registrasi ternyata jauh juga, aku harus turun ke lantai satu, lalu menelusuri lorong panjang. Nah akhirnya sampai juga, dan ternyata sudah ada beberapa peserta yang antri di situ. Langsung ku langkahkan kakiku memasuki ruangan itu. Ketika menunggu antrian, kutatap beberapa orang di sekelilingku. Dan....(bersambung)

VIDEO PILIHAN