Puji Hastuti
Puji Hastuti pegawai negeri

Seorang pembelajar yang Ingin terus mengasah diri

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ujian Buat Apa?

20 Maret 2017   15:22 Diperbarui: 20 Maret 2017   15:33 42 0 0

Pagi ini aku berencana menyusun soal ujian tengah semester. Tiga minggu lagi UTS akan dilaksanakan dan surat permintaan soal sudah diedarkan. Kubuka surat permintaan soal tersebut dan disana tertera berapa jumlah soal yang harus dibuat beserta  dengan ketentuan penyusunannya.  

Bukan jumlah soal dan ketentuan pembuatan soalnya yang aku permasalahkan. Tiba-tiba saja aku ingin merenungkan  buat apa sebenarnya soal itu dibuat? Apa yang harus aku ukur dari soal-soal tersebut? Keberhasilan seperti apa yang kuinginkan dari mahasiswaku ? 

Selama ini ternyata aku tidak begitu mempedulikan hal tersebut. Membuat soal hanya sekedar menyusun dari materi yang disampaikan. Membuat soal tidak memperhatikan tujuan dari keberhasilan belajar. Membuat soal hanya untuk memenuhi proses belajar mengajar.  Proses belajar mengajar yang aku sendiri tidak pernah mengevaluasi bagaimana materiku ? Apakah bisa diterima dengan baik oleh peserta didik? Ataukah hanya untuk kepentingan pembuatan  nilai saja ? Apakah materi yang aku sampaikan berguna buat kehidupan, buat profesi mereka?

Melihat dari proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan mungkin aku termasuk pengajar yang asal. Metode yang dilakukan juga begitu-begitu saja, ceramah seadanya dengan materi yang  bahkan kadang  juga baru disiapkan menjelang  waktu mengajar tiba. Bagaimana mungkin aku bisa menguasai terhadap materi? Bagaimana mungkin aku bisa secara mendalam menjelaskan kepada peserta didik? Bagaimana mungkin aku bisa menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui materi-materi tersebut?

Apakah mahasiswaku selama ini sudah paham dengan apa yang aku sampaikan. Apakah mahasiswa ku selama ini hanya menjadi pendengar yang baik? Itupun kalau mereka mendengarkan, bagaimana kalau sebenarnya selama ini hanya diterima telinga kanan dan keluar telinga kiri?  Bagaimana kalau proses pembelajaran yang aku lakukan ternyata hanya sekedar pemberian materi tanpa sedikitpun ada nilai-nilai kebaikan yang bisa aku tanamkan? 

Sepertinya aku memang sudah harus introspeksi diri, menjadi pengajar yang semakin sadar tentang apa artinya mengajar. Pengajar yang bukan sekedar mengajar, pengajar yang tidak sekedar menyampaikan, namun harus mampu menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik. Apa yang aku sampaikan itu tentu akan lebih masuk dalam jiwa peserta didik, jika aku sebagai pengajar juga menjiwainya. 

Kembali pada persoalan membuat soal. Kalau dalam mengajar saja masih semacam itu, terus untuk apa juga soal itu dibuat?

Apalah arti sebaris soal, jika tidak jelas untuk apa soal tersebut dibuat...

Begitu barangkali maknanya, tidak berarti apa-apa, ketika aku sebagai pembuat soal juga tidak memahami tujuan dari dibuatnya soal tersebut.

Apalah artinya peserta didik bisa menjawab soal, bisa menyelesaikan tes, bisa dinyatakan lulus dalam sebuah mata kuliah jika dia tidak tahu untuk apa sebenarnya ilmu itu dia dapatkan. Dia tidak tahu tujuan belajarnya, dia tidak mengerti untuk apa materi itu didapatkannya. Yang dia tahu bisa lulus dan mendapatkan nilai. 

Materi dan soal, sesuatu yang saling berhubungan, namun ada nilai-nilai di dalamnya yang harus dihayati. Nilai yang tidak hanya sekedar nilai berupa angka pada kartu hasil studi. Tetapi nilai-nilai yang dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan. Nilai yang harus ditangkap dari materi yang disampaikan ketika diajarkan secara mendalam karena dijiwai oleh pengajarnya dan ditangkap oleh peserta didik dengan tangan terbuka.