Mohon tunggu...
Puja Nor Fajariyah
Puja Nor Fajariyah Mohon Tunggu... Penulis - Lecturer Assistant, Early Childhood Enthusiast

Kia Ora! Find me on ig @puja.nf

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Love Addict, Apakah Menjadi Bucin Itu Baik?

9 November 2020   19:20 Diperbarui: 5 April 2021   17:42 2347
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seperti apa yang sudah aku katakan sebelumnya, riset mengenai hal ini memang belum banyak ditemukan. Namun, secara umum orang-orang biasanya sepakat bahwa kecanduan cinta biasanya datang dari ketidakmampuan orang untuk mencintai dirinya sendiri. Hal yang menyebabkan itu bisa macam-macam. 

Bisa karena pola asuh yang tidak konsisten waktu kecil, kepercayaan diri rendah, tidak memiliki role model yang bisa menjadi contoh di bidang asmara, dan ada ekspektasi terhadap cinta yang ngawur.

Tapi, pada intinya kembali lagi, karena tidak cinta dengan diri sendiri, maka pasokan cintanya harus di dapat dari pihak eksternal. Itulah mengapa kemudian dia akan terus-menerus mencari sensasi jatuh cinta. Karena itu adalah salah satu cara supaya dia bisa merasakan, rasanya disayang dan dicintai. 

Padahal, dia sendiri sebenarnya tidak sayang dengan dirinya sendiri, makanya dia membutuhkan rasa sayang dan cinta dari orang lain untuk merasakan bahagia. Dan, ketika rasa cintanya tidak sesuai dengan yang ia harapkan, maka hasilnya dia menjadi toxic. Sekarang, pertanyaannya, apa yang harus kamu lakukan kalau berhadapan atau bertemu dengan orang-orang seperti ini?

Kalau kamu kebetulan berpotensi berhadapan dengan orang-orang seperti ini, atau pasangan kamu sudah menunjukkan tanda-tanda yang aku sudah jelaskan di awal tadi, aku cuma pengen bilang, tinggalin saja.

Atau barangkali, kalau kamu merasa berat karena kamu berpikir kamu sudah terlanjur sayang atau sudah mengorbankan banyak hal demi dia, dan kamu yakin kalau pada akhirnya dia bisa berubah, ya memang berat sih kalau sudah seperti ini kasusnya. Tapi yang perlu kamu ingat, salah satu dari kunci hubungan yang sehat itu ada di kedua pelakunya. 

Kalian harus bahagia dari sananya atau seenggaknya mampu menemukan kebahagiaan dari cara kalian sendiri. Tanpa pasangan kalian. Karena coba deh dipikirin aja, ketika kamu punya pasangan yang kebahagiaannya benar-benar tergantung pada hubungan asmara kalian berdua, dia mau jadi apa pas kamu tidak ada? 

Kamu juga seorang manusia yang juga memiliki kehidupan lain selain berpacaran dengan pacar kamu. Kamu juga punya aktivitas lain, kamu punya keluarga, kamu punya teman, dimana kamu ingin menghabiskan waktumu juga dengan itu semua. Kamu tidak bisa terus ada untuk pasangan kamu mau enggak mau.

Pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi ketika kamu enggak bisa ngasih kebahagiaan yang pasangan kamu sangat-sangat butuh dari kamu? Hubungan toxic penuh manipulasi.

Orang yang punya kecanduan terhadap cinta, tidak siap menjalin hubungan asmara. Iya mungkin bisa saja berubah, tapi tidak dengan kamu sebagai penyelamat. Yang ada, kamu hanya menjadi korban dia bersama dengan puluhan korban atau mantan lainnya. Suruh mereka untuk pergi ke Psikolog atau psikiater, dan tinggalin. Udah, thats it! Itu yang harus kamu lakukan. 

Tapi, aku juga tidak bisa memungkiri bahwa memutuskan hubungan dengan pasangan itu bisa menjadi hal yang sulit. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun