Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis Konten | warungwisata.com | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Mengawali Perang 10 November 1945

8 November 2020   19:09 Diperbarui: 8 November 2020   19:22 470
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Perang 10 November 1945 di Surabaya tercatat sebagai perang terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Ribuan pejuang dan penduduk Surabaya gugur dalam perang yang berlangsung selama lebih dari 5 hari berturut-turut.

Peperangan ini berlangsung massif, dan merupakan peperangan pertama tentara Sekutu yang dipimpin Inggris setelah mereka mengalahkan Hitler pada Mei 1945. Perang 10 November 1945 yang peristiwanya tersiar di berbagai belahan dunia juga menjadi inspirasi bagi beberapa negara Asia lainnya untuk mengobarkan semangat perlawanan anti kolonialisme.

Peperangan yang kini kita peringati harinya sebagai Hari Pahlawan ini bermula dari insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di jalan Tunjungan, pada 19 September 1945.

Ketika itu, beberapa opsir-opsir sekutu dan Belanda dari AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) beserta beberapa orang kaya Belanda di Surabaya yang sudah dibebaskan merencanakan pesta perayaan kekalahan bala tentara Jepang. W.V.C Ploegman, pemimpin organisasi Indo Europesche Vereniging (IEV) yang diangkat NICA menjadi residen Surabaya memerintahkan pengibaran bendera Belanda di atap hotel, sekaligus menandai pergantian nama hotel Yamato menjadi hotel Oranje seperti semula.

Berkibarnya bendera Belanda di hotel Yamato menarik perhatian rakyat Surabaya yang sedang melintas di jalan Tunjungan. Rakyat kemudian melaporkan peristiwa itu pada para pemuda pejuang. Sontak, darah para pejuang muda itu mendidih. Mereka menganggap pengibaran bendera Belanda itu sebagai sebuah penghinaan atas kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru saja diproklamirkan.

Beberapa pemuda kemudian berinisiatif menemui Residen Surabaya, Sudirman. Sementara banyak pemuda lain yang tidak sabar langsung menuju hotel Yamato sambil menenteng bambu runcing.

Menanggapi laporan para pemuda, Residen Sudirman mengatakan bahwa ada perintah dari Djakarta untuk mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda bangsa Indonesia sudah merdeka. Sambil membawa surat perintah 1 September 1945 tentang pengibaran bendera Merah Putih, Residen Sudirman, dikawal oleh Sidik dan Haryono serta beberapa  pemuda pejuang berangkat ke hotel Yamato.

Di sana, rakyat ternyata sudah berkerumun sambil meneriakkan pekik kemerdekaan dan menghina orang-orang Belanda yang sedang menyiapkan pesta. Saat hendak masuk ke dalam hotel, Residen Sudirman dicegat beberapa pemuda yang sudah kalap hendak ikut menyerbu masuk.

"Kita bakar saja hotel ini!"

Untunglah Residen Sudirman berhasil mencegahnya. Bersama kedua pengawalnya, Residen Sudirman kemudian masuk ke lobi hotel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun