Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

"Urusanku di Kompasianival 2018 Selesai Ketika Kau Senyum Padaku..."

15 September 2018   00:19 Diperbarui: 15 September 2018   00:27 598 16 10
"Urusanku di Kompasianival 2018 Selesai Ketika Kau Senyum Padaku..."
dokumentasi pribadi

"Kamu datang lagi, Choks. Tulisan fiksimu makin bagus, masih sedikit kasar, tetapi sudah menyentuh....." Kata Missy menegur Kompasianer lelaki yang selalu mengejarnya dari 2011, mengejar pengakuan akan mutu fiksi-fiksinya, cerita pendek, puisi, drama maupun novel. Karena Missy bukan kompasianer biasa, dia juga pencari penulis berbakat untuk diorbitkan bukunya menjadi bentuk fisik, digital lalu dilanjutkan bioskop, sinetron dan bila perlu ada versi "game online-nya".

"Bu Missy, suatu kehormatan didatangi langsung oleh editor sepenting anda. Saya memang tahun ini punya target masuk radar pemantauan anda, karena tahun depan saya sudah punya "hastag" lain, yaitu ganti jenis tulisan. Mungkin saya terjun ke sejarah saja, di Palembang ada beberapa tarian klasik yang penciptanya masih hidup tetapi belum dibuat buku proses pembuatan gerakan tari dan proses pengaransemenan musiknya. Satu lagi tentang sejarah kulinernya yang beragam, masih simpang siur asal-usulnya." Choks menatap si editor penuh harap ada peluang dicetak karyanya dan dibantu pemasarannya menjadi buku paling dicari di abad ini.

Membuat buku adalah cita-cita hampir semua Kompasianer dan di Kompasiana mereka berlatih menulis sambil berharap ada tulisan atau kumpulan tulisan mereka dilirik penerbit untuk "diangkat" sampai ke tingkat "BEST SELLER" puluhan juta eksemplar.

Fiksi jenis yang banyak dipilih karena memungkinkan untuk "booming" dan dari 1000 yang berjuang, 1 atau 2 akan beruntung mendapat gelar prestius itu dan menjadi penulis tenar.

"Saya baca cerpen kamu di awal-awal tahun 2011 dan kita bertemu di Kompasianival tahun itu, tetapi belum tertarik saya dengan isi "postingan" kamu, terlalu norak, berusaha melucu dan "kenthir" tetapi yang komentar dan "vote" teman-teman sendiri. Diluar kelompokmu malah ada yang muak dan jijik."Kata Missy ketus.

"Saya hanya mencari teman, membina jaringan. Saya sadar belum waktunya membuat tulisan bagus, karena belum tentu ada yang serius mau membuatkan buku saya tahun itu."Choks berusaha membela diri.

"Makanya saya legah tulisanmu membaik sejak 2012, walaupun penerbit kami masih ragu meloloskan karyamu karena kamu belum ada nama dan media sosial kamu tidak banyak "followernya". Sekarang sudah berbeda, kamu sudah banyak yang ikuti. Kirimkan "soft copy" novel terbaru kamu yang berjudul "Cintaku Tersangkut di LRT" ke emailku. Kita bahas hasilnya dua minggu lagi." Lanjut Missy tersenyum manis.

Choks sebenarnya sudah beberapa kali namanya ada di buku kompilasi, baik itu fiksi atau bidang lain, tetapi punya buku sendiri baru satu, itupun mencetaknya memakai dana sendiri, memasarkan sendiri dan yang tercetak atau terjual hanya berjumlah 1000 buku. Tidak seru, tidak heboh dan yang pasti tidak pernah ada di toko buku "bonafide", pemasarannya hanya "door to door" dan terkadang setengah mengemis atau malah menodong untuk sekedar balik modal.

Kesempatan kali ini bukunya dicetak penerbit terkenal dan "mejeng" di toko buku grup yang sama, alangkah indahnya kalau benar terjadi.

"Akankah kau datang lagi di Kompasianival berikutnya kalau bukumu jadi terbit dan laku, Choks?"Tanya Missy mengerling penuh arti.

"Ya, pasti, karena aku paling suka melihat senyum bu Missy padaku saat tulisanku sudah bagus dan lebih suka lagi melihat ibu merengut bahkan mencibir penulis pemula yang isi tulisannya masih receh. Saya dan Kompasianer lainnya ini menikmati proses itu, penghargaan tulisan dari rengutan dengan kegeraman sampai ke pujian dan senyum menawan pertanda kami siap diterbangkan ke awan......."Choks mencurahkan segala ungkapan rasanya yang tertuju pada Missy.

"Hmmmm...Sayang kita masing-masing sudah ada ikatan ya, Choks. Kalau tidak, mungkin urusan kita tidak hanya di tulisan, bisa yang lain....." Missy menyalami Choks dan mengedipkan mata penuh arti lalu berlalu....

Delapan tahun berjuang di Kompasiana dan menghadiri 8 Kompasianival baru kali ini dia mendapatkan senyum manis itu dan peluang besar untuk menjadi penulis terkenal, tetapi kalimat terakhir Missy ternyata membuat Choks memikirkan "mission impossible" baru....Kenapa tidak?

dari FB Kompal
dari FB Kompal