Mohon tunggu...
P Joko Purwanto
P Joko Purwanto Mohon Tunggu... Guru - Teacher

Becoming added value for individual and institute, deeply having awareness of personal branding, being healthy in learning and growth, internal, external perspective in order to reach my vision in life, and increasingly becoming enthusiastic (passion), empathy, creative, innovative, and highly-motivated.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

1.5 Degree Lifestyles sebagai Resolusi Tahun Baru 2023 Lembaga Pendidikan

29 Desember 2022   23:00 Diperbarui: 29 Desember 2022   23:13 219
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pola Makan Berkelanjutan (https://onepointfivelifestyles.eu/why-do-we-need-15deg-lifestyles)

1.5 ° LIFESTYLES SEBAGAI RESOLUSI TAHUN BARU 2023 LEMBAGA PENDIDIKAN

Pesan Utama 


Pesan utama yang disampaikan Institute for Global Environmental Strategies, Aalto University, adalah bahwa tingkat pengurangan emisi yang diperlukan dunia belum menunjukkan hasil yang signifikan, dengan demikian menyiratkan pemikiran ulang dan lebih radikal tentang tata kelola keberlanjutan, dan perlunya model bisnis baru untuk mengubah paradigma yang mendasari infrastruktur, ekonomi, dan gaya hidup konsumen. Pengurangan emisi tersebut akan diperlukan tidak hanya untuk negara maju; beberapa negara berkembang juga perlu mengurangi rata-rata jejak karbon per kapita dari tingkat saat ini. Hal ini juga menyiratkan pentingnya perencanaan dan tindakan strategis jangka panjang untuk mencapai target 1,5 derajat, dan kualitas hidup warga dunia.


Berbagai pilihan gaya hidup rendah karbon kini tersedia, namun pilihan tersebut harus dikembangkan, diuji, dan dipromosikan lebih lanjut secara strategis. Tiga pendekatan utama gaya hidup rendah karbon yang disoroti dalam laporan tersebut adalah: pengurangan absolut, pergeseran modal, dan peningkatan efisiensi. Semuanya merupakan bagian tak terpisahkan dari solusi. Secara khusus, mengubah mode konsumsi dari karbon tinggi ke rendah karbon, dan mengurangi jumlah konsumsi fisik sambil menjaga kualitas hidup harus dilihat sebagai bagian integral dari solusi perubahan iklim, dan melengkapi solusi berbasis teknologi.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan bahwa gaya hidup warga dunia hingga sekarang masih terkurung oleh infrastruktur dan ketersediaan produk yang ada. Pergeseran gaya hidup bukan semata-mata tanggung jawab konsumen dan pilihan masing-masing individu. Semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan pebisnis nasional dan lokal, termasuk lembaga pendidikan, perlu segera bertindak untuk mengembangkan dan memberikan solusi yang layak dan menarik, termasuk produk dan layanan rendah karbon, dan desain solusi rendah karbon yang mendukung infrastruktur, secara paralel dengan memfasilitasi perubahan perilaku warga dunia.

Berdasarkan pesan utama laporan itulah,  dunia perlu untuk mengarusutamakan 1.5° Lifestyles, yang sejalan pula dengan Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si' tulisan di Kompasiana sebelumnya. Tapi apa yang kita maksud dengan gaya hidup, dan mengapa 1,5°? Kita tahu bahwa gaya hidup kita harus berubah jika ingin memitigasi dampak terburuk dari krisis iklim - dan itu berarti menciptakan perubahan radikal dalam struktur yang membentuk gaya hidup kita, dan tentu juga peserta didik, dari kebijakan hingga infrastruktur, baik institusi ekonomi maupun sosial.

Apakah itu 1.5° Lifestyles?

Penelitian ilmiah jangka panjang tentang proyeksi emisi gas rumah kaca, pemodelan iklim, dan penilaian dampak perubahan iklim terhadap bumi dan masyarakat manusia, menunjukkan bahwa membatasi pemanasan hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri adalah kesempatan terbaik kita untuk mengurangi dampak terburuk dari krisis iklim. Pencapaian target 1,5° akan secara signifikan mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim, termasuk keruntuhan ekosistem, suhu ekstrem, curah hujan tinggi, kerusakan pertanian dan ekologi akibat kekeringan, dan kenaikan permukaan laut. Inilah perlunya dan mengapa disebut 1.5° Lifestyles.

Tujuannya adalah untuk membatasi pemanasan global jauh di bawah 2, lebih diminatai hingga 1,5 derajat Celcius, dan telah diadopsi oleh 196 pemerintah pada tahun 2015 sebagai bagian dari Perjanjian Paris yang mengikat secara hukum. Tetapi untuk memenuhi target tersebut akan membutuhkan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca yang cepat dan drastis, dan mencapai emisi net-zero secara global pada pertengahan abad ke-21.

Mengapa 1.5° Lifestyles penting?

Rumah tangga di mana peserta didik tinggal diperkirakan menyumbang sekitar 72% dari emisi global, demikian Institute for Global Environmental Strategies, Aalto University melaporkan. Mempertimbangkan pengurangan emisi secara drastis diperlukan, dan tidak sedikit waktu untuk tindakan efektif, serta solusi teknologi saja tidak akan cukup. Kita juga harus memikirkan bagaimana kita dapat mengubah gaya hidup kita untuk membantu mencapai target 1,5°. Itulah mengapa 1.5° Lifestyles ini perlu disampaikan kepada peserta didik.

Namun bertentangan dengan beberapa narasi populer, gaya hidup kita tidak hanya dibentuk oleh pilihan individu, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan fisik, sosial, dan politik tempat kita hidup. Untuk mengubah gaya hidup, kita harus berfokus pada perubahan faktor struktural, seperti logika sisi penawaran dan struktur pasar, regulasi produksi, periklanan, pekerjaan, dan norma sosial. Hanya dengan berfokus pada perubahan sistem dapat memungkinkan transformasi menuju kehidupan berkelanjutan bagi masyarakat di seluruh dunia. Dan, di sinilah pentingnya lembaga pendidikan hadir melalui kurikulum Pembelajaran P5 dengan Tema Gaya Hidup Berkelanjutan.

Seperti diagram di atas, gaya hidup kita juga lebih dari sekadar pola konsumsi dan emisi. Gaya hidup dibentuk oleh aspek non-ekonomi kehidupan kita, dari menghabiskan waktu bersama teman hingga merawat anak, atau orang tua lanjut usia, atau bermain, berolahraga, menjadi sukarelawan, atau terlibat dengan komunitas kita. Semua aktivitas ini memengaruhi kesejahteraan kita serta jejak karbon kita. Gaya hidup adalah bagaimana kita mengonsumsi, dan bagaimana kita berhubungan satu sama lain, seperti apa tetangga, teman, warga negara, dan orang tua kita, nilai-nilai yang kita pelihara, dan bagaimana kita membiarkan nilai-nilai itu mengarahkan pilihan kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun