Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Belajar menulis, suka membaca dan jalan-jalan ke hutan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Hujan dan Panas, Sama-sama Dibenci Tetapi Dirindukan

11 Oktober 2019   15:59 Diperbarui: 11 Oktober 2019   16:06 77 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hujan dan Panas, Sama-sama Dibenci Tetapi Dirindukan
Hujan dan Panas. Foto dok: Brilio

Ketika kemarau tiba, banyak yang menghendaki hujan. Setelah hujan banyak yang berharap agar kemarau tiba. Demikian secara terus menerus ketika hujan dan panas sama-sama dibenci tetapi dirindukan.

Sama-sama dibenci tetapi juga terkadang dirindukan. Dibenci karena bisa memberi dampak tidak nyaman sekaligus menyakitkan dan menyulitkan. Dirindukan karena sebagai obat pelepas dahaga.

Musim yang selalu berubah itulah sebab mengapa ia dibenci dan dirindukan. Dibenci kala panas membakar kulit sekaligus juga menimbulkan bara api yang menyala dan menimbulkan asap. Dirindukan ia sebagai  obat pelepas dahaga (bisa menyejukan jiwa dan nafas semesta).

Dibenci ketika bara membuat kabut kalang kabut. Ia merindu langit biru dan rinai rintik untuk menyirami bumi karena semua nafas merindukannya. Apa yang dirindukan itu tak lain adalah sejuknya hujan.

Api dan banjir itu yang dibenci, tetapi dicari. Hujan yang dirindukan namun sulit untuk mendapatkannya. Ya, karena saat ini musim terkadang sulit untuk ditebak (anomali cuaca). Itu yang menjadi penyebabnya. terkadang kita merindukan hujan tetapi hujan enggan turun. Api dan banjir, demikian juga asap sama-sama dibenci tetapi dicari. Itu yang terjadi. Akan tetapi, apabila hujan turun sangat sulit untuk reda dan berdampak yang tidak sedikit bagi semua nafas kehidupan.

Nafas kehidupan memang terkadang bercerita dalam bahasanya sendiri. Bercerita memberi arti tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Cerita-cerita itu pun memberi asa dan memberi ruang kepada semua untuk bicara dan berkata-kata tentang apa yang terjadi.

Benci dan rindu, itu kata yang beradau dan bersatu padu ketika bara mendera dan asap tiba. Bara mendera harus segera untuk dipadankan. Semua pasti benci itu bara dan kabut yang pekat. Sementara rinai rintik yang tak lain adalah hujan sangat dirindukan untuk menyejukan jiwa yang sudah terlanjur panas tak kentara bahkan hingga menjadi debu.

Mengata dalam kata tentang rasa benci dan rindu. Rindu yang tak bertuan acap kali berdokma dengan maksud dan titahnya masing-masing. Rayuan terkadang datang silih berganti memberi makna tentang cerita apa yang  akan dilakukan.

Dibenci tapi ada pula yang dirindukan, dua hal ini yang terjadi. Panas terik terkadang sulit untuk membasahi bumi. Bumi ingin disirami tetapi terhalang hujan yang enggan turun di musim panas. Ketika hujan turun, bumi pun tersirami. Akan tetapi, bumi terkadang telalu berlebihan membasahi bumi, tak jarang bumi terlanjut meluber dan menangis karena banjir bandang tak terhadang menerjang.

Panas terik dan rinai rintik menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan sekaligus dirindukan. Menakutkan ketika ia berbicara dalam bahasanya masing-masing yang membuat duka lara. Dirindukan ketika ia bisa menjadi obat penawar.

Bumi sebagai rumah dari semua makhluk hidup memang sejatinya menjadi satu kesatuan untuk dijaga oleh siapa saja. Apabila ia dirawat, maka ia akan selalu memberi manfaat. Sebaliknya jika ia diabaikan maka ia tidak bisa memberi yang bermanfaat bagi makhluk yang hidup berdampingan dengannya (Apabila ia rusak tidak bisa memberi manfaat, sebaliknya jika ia dirawat maka ia akan selalu harmoni).

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

VIDEO PILIHAN