Mohon tunggu...
Subhan Riyadi
Subhan Riyadi Mohon Tunggu... Lainnya - Abdi Negara Citizen Jurnalis

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan (Pramoedya Ananta Toer). Portal berita: publiksulsel.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Napak Tilas "Wartawan Tanpa Bayaran" Ke Pemakaman Pangeran Diponegoro

25 Desember 2016   19:18 Diperbarui: 25 Desember 2016   19:43 371
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Libur natal kali ini kami manfaatkan mengunjungi tempat bersejarah ke komplek Pemakaman Pangeran Diponegoro. Sebagai wartawan tanpa bayaran ini bermaksud agar anak-anak kita mengenal Pahlawan Nasional yang telah berjuang merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajahan Belanda, bagi saya wajib hukumnya membawa anak-anak berlibur ke tempat-tempat yang penuh histori, ketimbang pergi ke tempat mudorat kurang bermanfaat bagi perkembangan psikis masa depan anak cucunya kelak.

Kali ini kami terpaksa menunggangi pete-pete (angkutan umum), disebabkan belum ada jalur BRT untuk mencapai makam Pangeran Diponegoro. Melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Urip Sumohardjo, Jalan Bawakaraeng terakhir Jalan Andalas depan Masjid Raya Makassar, langkah selanjutnya kami naik becak atau bentor (becak motor). 

Ditengah perjalanan kami sedikit mengalami insiden kecil karena pengemudi pete-pete yang ugal-ugalan dan belum cukup umur, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, akan tetapi sang sopir kurang memperhatikan keselamatan penumpang, celakanya apabila sopir tersebut kita tegur untuk mengurangi laju pete-petenya malah lajunya dikasih kencang/ngebut, tak ayal dibutuhkan kesabaran ekstra apabila naik pete-pete. Tidak semua pengemudi pete-pete ugal-ugalan itupun hanya hitungan jari.

Perayaan natal serta umat kristiani pergi ke gereja membuat jalanan lumayan lengang cuaca pun agak bersahabat, meski begitu tidak serta merta membuat sopir pete-pete sudi melambankan lajunya, dasar bebal!

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Tidak sebanyak Mall yang berkunjung ke komplek pemakaman Pangeran Diponegoro akan tetapi tidak menghalangi niat wartawan tanpa bayaran untuk napak tilas sekaligus memanjatkan do’a. Setiba di lokasi makam disambut dan disapa ramah oleh juru kunci/kuncen makam. Bangunan makam nampak kuno penuh ketegaran nan kokoh, se-kokoh pendirian Diponegoro menumpas kelicikan penjajahan Belanda.

Raden Mas Ontowiryo merupakan nama kecil Pangeran Diponegoro, dikenal juga Sultan Abdul Hamid Heru Cokro Kabiril (Mukminin Sayidin Panata Agama Kalifatullah Tanah Jawa) Putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono-III dan ibunya bernama R. Ayu Mangkarawati Putri, lahir di Pacitan anak dari Bupati di Pacitan pada masa itu.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
R. Hamzah Diponegoro, Juru kunci yang merupakan generasi ke-5 cucu ke-4 dari Pangeran Diponegoro mengungkapkan, “Perawatan dan pengelolaan pemakaman ini masih dari pihak keluarga dan diback up oleh Pemerintah karena merupakan Pahlawan Nasional.Disini terdapat makam Pangeran Diponegoro, Istri, Putra-putri, Pengikut (Laskar)serta Cucu.”Ungkapnya.

hamzah-585fbc921097738e241975fa.jpg
hamzah-585fbc921097738e241975fa.jpg
R.Hamzah (Juru kunci makam Pangeran Diponegoro generasi ke-5 cucu ke-4

Lebih jauh R. Hamzah Diponegoro menjelaskan, “Pada saat ayahnya jatuh sakit beliau menunjuk Diponegoro sebagai raja, tetapi kondisi saat itu tidak memungkinkan dia menjadi raja karena pada saat itu Belanda menerapkan sistem militerisasi artinya semua tindakan itu harus masuk dalam sistem tidak mungkin diluar daripada sistem sehingga semua kerajaan yang ada di nusantara harus melakukan komunikasi artinya kerjasama antara Belanda dengan kerajaan dan harus berada dalam struktur. Struktur itu adalah protap yaitu adanya peraturan yang mengikat. Sehingga dengan kondisi itu Pangeran Diponegoro menolak menjadi Raja, karena beliau lebih memilih menjadi tokoh agama. Karena Raja dengan tokoh agama itu tidak sinkron. Karena ini merupakan regenerasi akhirnya beliau menyerahkan jabatannya kepada adindanya yaitu Raden Mas Djarot yang kemudian menjadi Hamengkubuwono ke-4.”Jelasnya.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Zaman kerajaan dahulu tantangannya dalam bentuk fisik jelas dan kelihatan siapa lawan dan siapa kawan kita. Tantangan zaman sekarang sangat sulit, harus melawan dunia maya, hingga 20 tahun kedepan itu lawannya tidak kasat mata alias tidak kelihatan karena sekarang sudah zaman teknologi dengan kemudah-kemudahan berupa sosial media. Apabila digunakan secara bijak akan sangat bermanfaat, ketika digunakan tidak benar akan menyesatkan.

Karena pihak Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, maka digunakan cara licik dengan mengundang Pangeran Diponegoro dengan jaminan kekebalan diplomatik yaitu, bila perundingan gagal maka maka Pangeran Diponegoro boleh kembali ke tempatnya dengan aman. Namun kekebalan diplomatik tersebut dikhianati oleh Pimpinan tentara Belanda.

Perundingan diadakan di Magelang pada 28 Maret 1830, lalu ditangkap dibawa ke Batavia ditahan di Staad Huico, kemudian pada 30 April 1830 dibuang/diasingkan ke Manado selama 4 tahun dan kemudian dipindahkan ke ruang tahanan Fort Rotterdam di Ujung Pandang (Makassar) selama 21 tahun pada saat itu berumur 71 tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun