Mohon tunggu...
Reza Pamungkas
Reza Pamungkas Mohon Tunggu... Jurnalis -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Hukum

PKS, Belajarlah dari AKP

2 Juli 2018   10:13 Diperbarui: 2 Juli 2018   10:12 902
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Ekonomi Turki sedang bergejolak. Kondisi itu mendorong Erdogan untuk melakukan Pemilu dini. Tapi apakah ini siasat Erdogan untuk melanggengkan kekuasaannya?  

"Victory has a thousand fathers, but defeat is an orphan" -- John F. Kennedy

Pemilu Turki telah usai, Recep Thayeb Erdogan dilaporkan menang telak dalam Pemilu tersebut. Media pemerintah Turki, Anadolu, menulis bahwa Erdogan berhasil meraih 53 persen suara pemilih, sementara rival terkuatnya, Muharrem Ince hanya mendapatkan 31 persen suara.

Pemilu kali ini diikuti oleh enam kandidat, yakni Erdogan sendiri dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Muharrem Ince dari Partai Rakyat Republik (CHP), Selahatiin Demirtas dari Partai Demokratik Rakyat (HDP), Meral Aksener dari Partai Iyi, Temel Karamollaogglu dari Partai Saadet dan Dogu Perincek dari Partai Vatan.

Sekiranya, kemenangan AKP telah membuktikan jika rakyat masih melihat Erdogan sebagai figur yang layak untuk memimpin Turki hingga 2029 nanti.

Tentu, hal itu juga mengisyaratkan bahwa kekuatan politik AKP tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi jika di-tracking ke belakang, partai ini sebetulnya dibangun oleh beberapa tokoh yang banyak menelan pil pahit dalam sejarah perebutan kekuasaan di Turki, misalnya tokoh reformis berhaluan Islam macam Abdulah Gul, hingga tokoh sosialis konservatif seperti Cemil Cicek dan Abdul Kadir dari partai Tanah Air.

Tapi, secara spesifik, yang menarik dari kehadiran AKP adalah partai ini muncul sebagai alternatif politik ideologi dari gerakan Islam di Turki, yang notabene tak merasa puas dengan sekularisme yang kebarat-baratan itu.

Bukan itu saja, sekularisme bahkan dituding beberapa kalangan sebagai biang kemunduran sejak Mustafa Kamal Atartuk berkuasa.

Tapi bicara soal AKP dan khususnya Erdogan, juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh Necmettin Erbakan, yang dikenal sebagai bapak konservatif dan merupakan Perdana Menteri pertama Turki yang Islami. Pertemuan dengan Erbakan banyak membuka cakrawala berpikir Erdogan dan mungkin itu yang pada akhirnya menginspirasi Erdogan untuk mendirikan partai AKP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun