Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[Fikber] Mr. J

23 November 2015   06:25 Diperbarui: 23 November 2015   07:43 303
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Syukurlah…. Dia pasti akan segera melepaskan penghalang kaki dan tanganku.

“Tenang, Anna. Mereka sudah pergi. Tapi…. seperti yang selalu paman bilang, kamu harus belajar menguasai diri,” sahut paman Chenkov. Dia benar-benar bisa membaca kegundahanku.

Selain mama, paman Chenkov-lah orang dewasa yang selama ini aku anggap bisa dipercaya. Aku suka memandangi mata birunya saat bercerita tentang peri-peri yang mengambil gigi susu di malam hari, tentang pria yang memanjat pohon kacang raksasa dan cerita pengantar tidur lainnya. Aku juga suka mendengar cerita paman tentang mama yang sudah jadi malaikat dan selalu memandangiku dari  bintang-bintang di langit malam.

Tapi entah, sebagian diriku yang lain jadi mendadak membencinya saat mata birunya berubah menjadi seperti sumur dalam, dingin dan menakutkan. Saat itu terjadi biasanya tangan kekarnya juga mulai menggerayang dan menjamah bagian-bagian tubuh, juga mungkin sebagian jiwaku.     

“Mungkin setelah menyelesaikan tahun ajaran ini, paman akan membawamu meninggalkan Moskow, ke tempat yang lebih tenang di pedesaan… Atau kita bisa kembali ke Jakarta. ”

Ketakutanku terbukti, sesaat sebelum tangannya menyentuh pasunganku. Mata birunya yang hangat dalam sekejab menjadi seperti sumur dalam, dingin dan menakutkan.

Jangan sekarang, paman……

*** 

Bulan mati sedang mengikat kesunyian malam.

Aku berlari menyusuri basement yang digunakan untuk parkiran mobil. Namun kali ini parkiran sepi senyap, sehampa langit malam ini. Gema high heels-ku bertalu-talu memenuhi dinding-dinding basement.  

Suara-suara kosmis seperti sedang membisikkan barisan mantra hitam ke telingaku. Semesta memang baru saja memaksa malam melakukan upacara pengorbanan yang memilukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun