Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Penulis - Menulis untuk Perubahan

Musafir di rumah bumi Papua

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Sagu Bola, Kisah di Gubuk Orang Asmat

20 Agustus 2017   11:59 Diperbarui: 20 Agustus 2017   19:09 1749
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Istri kaka Jok sedang membakar sagu bola di tungku api. (18/8/2017). Dok. Piter

Sejak ditawarkan makan sagu oleh kaka Jok, terlintas dalam benak saya, "Kalau saya menerima tawaran kaka Jok, berarti saya telah mengurangi jatah makan mereka. Kalau saya tidak menerima, rasanya saya orang lain, bukan bagian dari hidup mereka." Akhirnya saya menerima tawaran kaka Jok. Saya makan sagu bola.

Saat pertama kali menerima sagu dari tangan istri kaka Jok, saya benar-benar terharu. Perempuan sederhana, masih belia. Ia memiliki dua anak yang lahir berdekatan. Anak pertama 1,5 tahun dan anak kedua berusia 6 bulan. Jarak kelahiran keduanya sangat dekat. Istri kaka Jok bekerja keras mencari kayu bakar dan menyiapkan makan. Ia juga merawat kedua anaknya.

Kaka Jok mengukir. Ia menjual ukiran panel antara 100-200 ribu. Sering kali kalau tidak ada sagu di rumah, ia menjual murah sampai 50 ribu per panel.

Di tengah kesulitan hidup itu, mereka memberi saya makan sagu. Mereka memberi dari segala kekurangan dan dengan tulus ikhlas. Mereka menerima saya seperti keluarga mereka sendiri. Saya merasakan kehangatan cinta itu.

Pada saat makan sagu bola pemberian keluarga kaka Jok, terlintas dalam benak saya kehidupan orang-orang di luar sana yang berkelimpahan. Mengapa orang-orang yang diberkati dengan harta, kekayaan, jabatan sulit berbagi kepada orang-orang sederhana? Andai saja setiap orang yang menerima berkat, menyalurkannya kepada sesama, tentu kemiskinan tak melanda umat manusia.  Orang miskin menjadi tak berdaya karena sesamanya yang diberkati tidak mau berbagi atau memberkati. Orang menerima berkat, lalu menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Saat ini saya tinggal di Agats, Asmat. Setiap hari saya berpapasan dengan anak-anak Asmat yang kekurangan gizi dan tidak bersekolah. Saya berjumpa dengan ibu hamil yang kekurangan gizi. Saya berjumpa dengan orang Asmat yang hidup di gubuk-gubuk sederhana. Pada saat bersamaan, saya juga berjumpa dengan para pejabat yang memiliki rumah bagus, motor dan berbagai fasilitas lainnya. Suasana kontras, antara orang Asmat yang miskin dan para pejabat yang kaya menghiasi wajah kota Agats.

Dalam situasi seperti ini, saya menghayati bahwa kehadiran saya di tanah Asmat merupakan kehendak Tuhan. Dia mengirim saya ke tanah Asmat untuk menyapa dan berbagi dengan orang Asmat, khususnya mereka yang tinggal di Distrik Agats: 12 kampung, 10 SD dan Puskesmas-Pustu. Untuk merekalah Tuhan mengirim saya. Karena itu, ada bersama mereka merupakan suatu kegembiraan besar.

Pengalaman di gubuk tua kaka Jok semakin menguatkan saya untuk menyapa dan melayani sesama, terutama orang Asmat. Saat berbincang dengan rekan sekerja, Sdr. Hendra, saya selalu berujar, "Kita dikirim Tuhan untuk melayani orang Asmat dalam proses pendampingan ini. Kita mesti bekerja sungguh-sungguh dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan, sesama, alam dan leluhur orang Asmat. Untuk orang Asmatlah kita datang ke tanah Asmat."

Saya berdiri bersama dua laki-laki Asmat di salah satu sudut gubuk di Jl. Nusantara, area pembuangan sampah, kota Agats. (18/8/2017). Dok.Piter
Saya berdiri bersama dua laki-laki Asmat di salah satu sudut gubuk di Jl. Nusantara, area pembuangan sampah, kota Agats. (18/8/2017). Dok.Piter
Gubuk tua kaka Jok dan juga gubuk-gubuk lainnya milik orang Sawa di Jl. Nusantara, area pembuangan sampah, Agats mengisahkan ketidakadilan sosial. Di gubuk-gubuk tua ini tinggal perempuan hamil, anak-anak balita, anak-anak usia sekolah yang tidak memiliki akses ke sekolah. Situasinya sangat menyedihkan. Sayangnya, tidak banyak orang mengarahkan pandangan ke tempat ini. Orang-orang beriman lebih suka ke rumah ibadah. Di sana, mereka berdoa dan menyembah sang Pencipta, sambil memunggungi orang-orang miskin. Padahal, sang Guru berkata, "Apa yang Anda lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, Anda melakukannya untuk Aku."

Dalam kehidupan sehari-hari, orang lebih mudah pergi ke rumah ibadah dan berdoa. Orang lebih suka menyumbang dana untuk pembangunan monumen dan rumah ibadah. Orang lebih mudah menyalami orang kaya, pengusaha dan pejabat. Orang lebih mudah pergi ke restoran dan mall. Orang sulit sekali menyapa kaum papah dan berkekurangan. Orang sulit sekali menyisihkan sedikit penghasilannya untuk orang-orang miskin.

 Pengalaman di gubuk tua kaka Jok mengingatkan kita semua untuk berbagi. Kita dipanggil untuk memberikan diri bagi sesama. Kita dipanggil untuk memberkati sesama. Artinya, kita mesti peduli pada sesama yang berkekurangan: kaum papah, orang miskin dan orang berkebutuhan khusus lainnya. Kitalah yang bertugas memperhatikan mereka. Tuhan sendiri akan menolong kita. Apakah kita siap untuk tugas tersebut?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun