bahrul ulum
bahrul ulum Profesional & Citizen Jurnalism

Setiap warga adalah pewarta, buatlah cerita perubahan pada tulisan anda biar orang lain pun merasakan atas karya anda.. klik penaulum.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Peranan Kaum Agamawan dalam Penurunan AKI/AKB

15 November 2017   07:49 Diperbarui: 18 November 2017   11:58 114 0 0
Peranan Kaum Agamawan dalam Penurunan AKI/AKB
Tokoh Agama Berperan Dalam Penurunan AKI/AKB

Ada seorang ustad dan ustadzah di kampung penghasil bawang merah dan pemasok telor asin, dalam suatu pengajian rutin ibu-ibu bisa pada  senin pon, selasa wage, rabu pahing, dengan memberikan tausyiyah secara tematik perihal kesehatan ibu dan anak termasuk masalah gizi anak dan stunting. 

Ustad dan ustadzah tersebut tampaknya sudah berani tampil untuk menyampaikan tema tematik tersebut, kenapa demikian karena yang bersangkutan sudah dibekali ilmu pengetahuan seputar kesehatan ibu dana anak  dari para praktisi kesehatan atau lembaga/institusi bidang kesehatan. 

Kebiasaan rutin pengajian memberikan tema tentang halal dan haram mencari nafkah di dunia, apa itu  siksa kubur, dan hikmah doa dan silaturahmi dll, namun seiring waktu mereka mampu menyampaikan sudut pandang ulama untuk ikut serta menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi dan gizi seimbang. Sebuah nasehat yang berbeda dengan pesan sebelumnya dan tugas ini dilakukan oleh mereka secara tulus ikhlas. 

Ada perbedaan yang tampak saat ustad dan ustadzah ini menyampaikan dibandingkan saat seorang bidan menyampaikan, bidan dengan sigap dan cepat menjawab semua pertanyaan para ibu jamiyah, terutama pada aspek medis, namun saat aspek hukum agama, bidan pun langsung menjawab, urusan hukum kita serahkan kepada ahlinya, yaitu pak ustad atau bu ustadzah, karena yang bersangkutan sudah makan garam begitu lamanya.

Begitupula dengan ustad atau ustadzah, saat menyampaikan bagaimana islam dalam menyikapi masalah yang ada pada kesehatan Ibu dan Anak, disaat ada pertanyaan agama dengan lancarnya ustad/ustadzah menyampaikan, namun disaat ada pertanyaan medis, mereka pun bisa menyampaikan, nanti ibu-ibu kalau ada pertanyaan tentang teknis medis, maka silahkan nanya kepada Ibu Bidan atau Pak Dokter bisa dirumahnya atau bisa saat nanti ketemu di puskesmas. 

Persoalan kesehatan bukan hanya milik orang medis saja, namun ada beberapa persoalan non medis yang membutuhkan peran-peran para pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat termasuk organisasi profesi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan. Mereka memiliki kapasitas yang saling memperkuat dan mendukung untuk maslahatul ummat. 

Alasan kenapa kaum agamawan harus berdakwah dalam persoalan umat, karena ini bagian dari misi Islam sebagai agama samawi tidak terlepas dari empat tujuan berikut: Pertama, untuk mengenal Allah Swt (ma'rifatullah) dan mengesakan-Nya (tauhid); kedua, menjalankan segenap ritual dan ibadah kepada Allah Swt sebagai manisfestasi rasa syukur kepada-Nya; ketiga, untuk mendorong amar ma'ruf nahi munkar(menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), serta menghasilkan hidup manusia dengan etika dan akhlak mulia (tasawuf); dan, keempat, untuk menetapkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan sosial (mu'amalah) di antara sesama manusia. 

Keempat poin inilah yang disebut oleh Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi sebagai maksud dan hikmah diturunkannya hukum Islam (hikmatut tasyri') dan salah satu aspek kehidupan manusia yang sangat diperhatikan oleh Islam sejak diturunkannya adalah masalah kesehatan (shihhiyyah).

Kata 'sehat' sebenarnya berasal dari bahasa Arab 'shihhah' Sinonimnya adalah salamah (selamat) dan 'afiyah (sehat walafiat).

Masalah kesehatan ibu dan anak termasuk gizi dalam Islam menyangkut kondisi fisik (jasmani) dan kondisi psikis (rohani) manusia secara utuh. Ada sejumlah makanan dan minuman yang dihalalkan, karena baik dan membawa manfaat bagi tubuh manusia. Ada pula yang diharamkan, karena dinilai membawa madarat dan kerusakan bagi tubuh manusia. Selain itu, dalam al-Qur'an banyak ayat yang menganjurkan menjaga kesehatan sebagai langkah preventif sebelum datangnya penyakit dan sebuah penyakit tidak semakin parah. 

Perhatian Islam terhadap kesehatan dan gizi masyarakat tercermin pada ajaran-ajaran operasional syariat Islam yang mengatur relasi di antara sesama manusia. Dengan kata lain, pandangan Islam tentang kesehatan dan gizi masyarakat terkait dengan konsepsinya tentang manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia yang hidup dalam suatu komunitas atau masyarakat. 

Dalam hal ini, Islam bukanlah agama yang menutup diri dari arus modernisasi dan globalisasi, sepanjang tidak berseberangan dengan 5 (lima) prinsip dasar Islam (ushulul khams/al-kulliyah al-khams); hifzhud din(perlindungan menganut dan mengamalkan agama); hifzhun nafs(perlindungan keselamatan jiwa); hifzhul aql(perlindungan atas nalar); hifzhul irdh(perlindungan kehormatan) dan hifzhun nasl wal mal (perlindungan kelangsungan keturunan dan harta benda). 

Peran Ulama di Masyarakat 

Pertama, menyampaikan konsepsi tentang jangan meninggalkan generasi yang lemah (dhoif), generasi penerus di muka bumi ini harus kualitas generasi yang pintar, ceria, sehat dan berakhlaqul karimah menjadi modal kuat untuk meneruskan pondasi agama, termasuk negara dan bangsa ini. wajar jika selama masa 1000 hari pertama kehidupan, seorang ibu dan bayi yang dikandungnya diberikan makanan yang bergizi, merawat secara rutin tiap semester atas kandungannya, untuk melihat kesehatan ibunya dan bayinya. 

Saat mengandung, usahakan disamping gizinya baik, rutin juga ibadahnya, baca alquran dengan baik, jangan suka mencela orang lain termasuk mengguncingkan ucapan yang tidak baik, jaga lisan dan jaga fisiknya sangat penting sekali.

Peran kedua, melakukan penyuluhan di masyarakat pentingnya pemeriksaan pertama yakni di posyandu, dengan membawa buku kesehatan ibu dana anak itu bagian kepatuhan seorang ibu kepada program pemerintah termasuk untuk manfaat pada kesehatan ibunya dan janinnya. 

Peran ketiga, memberikan nasehat kepada calon pengantin, ibu hamil dan ibu menyusui termasuk simbahnya disaat di pengajian  terkait budaya yang keliru dan berbahaya namun masih melekat kuat, padahal secara manfaat banyak mudhorotnya dibandingkan manfaatnya. 

Peran keempat, meyakinkan bahwa pemeriksaan, melahirkan di layanan kesehatan terdekat, memberikan kolostrum, menyusui selama 2 tahun adalah ibadah yang luar biasa, bagian dari jihad fisabilillah. 

Peran kelima, memberikan doa khusus kepada ibu yang sedang hamil, menyusui agar setiap tindakan yang dilakukan disertai niat dan doa. Contohnya saat menyusui usahakan sebelum menyusui bacakan bismillahirrohmanirrokhim, lalu doa makan dan minum.

Jadi sangatlah wajar dan sangat perlu bila kaum agamawan berperan penting dalam merubah tatanan kehidupan di muka bumi ini, dan kaum agamawan nantinya mampu menyampaikan kepada umatnya terkait  masalah perlindungan keselamatan jiwa, perlindungan atas nalar, perlindungan kehormatan, dan perlindungan keturunan dan harta benda juga menjadi sorotan yang penting untuk umatnya.