Mohon tunggu...
Peb
Peb Mohon Tunggu... Arsitek - Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cinta yang Membohongi Kematian

24 April 2016   22:39 Diperbarui: 24 April 2016   22:47 332
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilustrasi Kematian"][/caption]Pernahkah kau coba bicara dengan waktu untuk menunda kematianmu ?

Tidak! Menunda atau tidak, kematian pun tetap akan datang.

Aku diam. Wajahnya kutatap penuh harap. Aku tak percaya ada kematian di situ. Justru kulihat sebuah ruang maha luas tentang kehidupan. Lalu kenapa kematian dia agungkan?

Aku paham semua tentang dirinya, perempuan dari masa lalu. Dia memang keras kepala. Tapi tak pernah membuat kecantikannya berkurang.

Baru kali ini aku kehilangan kata. Kucari di pori-pori wajahnya. Namun hanya ada harum bunga malam. Apakah itu sebuah jawaban?

Aku tak percaya pada kematian. Bagiku kematian hanya ucapan orang-orang putus asa yang hanya ingin membungkam rasa cinta.

Tadinya kupikir inilah saat yang tepat membuka matanya. Dia tidak mati. Dia harus tahu itu. Namun entah kenapa aku jadi ragu.

Tiba-tiba tubuhnya seolah bergerak. Tercipta senyuman di bibirnya. Aku sungguh bahagia. Kebenaran ada padaku.

Sayup-sayup terdengan suara lekat di telingaku ;

Kenapa kau menatapku?
"Aku sedang berbicara".
Kau bicara apa? Aku tak mendengarmu.
"Aku sedang bicara dengan pori-porimu."
Percuma kau tanya lagi. Jawaban tetap sama. Tak satu kata pun berubah. Sia-sialah kau datang hanya untuk itu. Pergilah, jangan kau bunuh waktu di kematianku.

Aku jadi terdiam. Kudengar suara ketua umat berseru ; "Acara ibadah tutup peti akan dimulai. Silahkan menempati tempat duduk yang telah disediakan."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun