Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kala Poyuono "Farisi" Menyitir Kata-kata Yesus, Lepas Konteks

19 Mei 2019   12:12 Diperbarui: 19 Mei 2019   14:13 0 30 11 Mohon Tunggu...

Sudah beberapa hari dan sudah pula melebar, cukup menarik mengupas apa kata Poyuono, apalagi kini makin kuat genderang ia sebagai orang Katolik. Bisa menjadi bahaya, sesat, dan salah sangka apa yang ia yakini. Tentu bukan mau menghakimi atau menilai kadar keimanan dan keagamaan seseorang, biar saja ia dan Tuhan yang berwenang.

Siapa Farisi, ini menjadi penting dulu, kelompok atau kubu yang selalu saja ngulik dan mau menjatuhkan reputasi Yesus. Konteksnya adalah mereka kelompok yang selalu berdoa dengan panjang kali lebar. Menebah dada sebagai paling saleh, paling suci, paling setia akan ajaran nenek moyang, Taurat Musa. Mereka juga biasa memprovokasi, salah satunya adalah yang disitir Poyuono ini.

Konteks lagi, ini adalah jebakan untuk Yesus, maunya mereka kalau tidak menghujat Allah, mereka akan membawa Yesus pada melawan kaisar, jadi simalakama pikir Farisi, Yesus pasti masuk perangkap nih. Membayar pajak berarti  Yesus pro penjajah, antibangsa sendiri, kalau mau menolak pajak akan dilaporkan provokasi yang membahayakan negara.

Kondisi demikian yang ada, jadi kalau Poyuono menyitir kata-kata Yesus, kog jauh dari rekam jejak kelompok mereka. Biasanya siapa yang lebih mirip Farisi, atau mereka biasanya mirip Yesus?

Beberapa hal menarik untuk dikupas, apalagi kini makin marak bahwa Poyuono sebagai orang Katolik makin keras berhembus.

Ia mengatakan dalam menolak pajak karena pemerintah tidak sah. Yang menyatakan sah dan tidaknya pemerintah itu bukan ia atau kelompok atau parpol. Namun KPU atau MK jika memang ada persoalan dan sengketa yang diajukan ke sana. Kan celaka jika semua orang bisa menafsirkan sah dan tidaknya pemerintah asal-asalan.

Partainya kalah, berarti yang menang tidak sah. Lha buat apa KPU dan seluruh perangkat diamanatkan UU kalau begitu. Ini hukum positif jelas bukan hukum rimba dan pokoke.

Berkaitan dengan iman yang ia nyatakan dalam sebuah pemberitaan, ia mengatakan perpuluhan dalam konteks Katolik. Tidak ada perpuluhan kog iman, perpuluhan. Itu persembahan dalam Gereja Katolik tidak ada keharusan perpuluhan, memang dalam denominasi Gereja lain ada yang membuat itu. Ini menjadi penting dibahas, sehingga memberikan pengenalan agama lain dengan semestinya.

Apa yang ia nyatakan nampaknya hanya sekadar membenarkan ide dan gagasannya dengan landasan seolah Biblis, berdasar Kitab Suci, namun lepas konteks dan hanya mengandalkan teks semata. Bahaya orang menyuplik saja dan bisa berbahaya.

Pernah dalam budaya Gereja Katolik itu diputuskan bahwa umat, awam itu tidak boleh membaca Kitab Suci, karena peristiwa reformasi. Menyomot ayat per ayat, konteksnya dilepaskan bisa berabe dan berbahaya. Ini salah satunya budaya baca Kitab Suci dalam Gereja Katolik agak ketinggalan. Dan kini menemukan kembali faktanya.

Politisasi agama, Poyuono belajar dari Ahok-BTP bahwa ia menyitir Kitab Suci sendiri akan aman. Jelas Gereja Katolik tidak akan meributkan itu secara berlebihan.  Dan untung ia hidup abad ini, kalau abad pertengahan suah dikutuk, anatemasit... Terkutuklah engkau karena semena-mena menafsirkan Kitab Suci demi kepentingan sempit seperti itu.

Ia kedodoran ketika mengatakan boikot pajak, nah demi meredam itu ia pakai kata Kitab Suci sebagai penguat argumennya. Namun ia abai konteks Kitab Suci yang biasa digunakan dalam memahami Kitab Suci dalam Gereja Katolik. Menyitir Kitab Suci hanya dalih dan pembenar idenya bahwa Kitab Suci pun mengatakan itu. Namun tidak semudah dan sesederhana itu.

Menjadi keuntungan Poyuono adalah, yang dihadapi atau "dinistakan" adalah Gereja Katolik yang biasa saja melihat perbedaan, termasuk juga cacian. Lihat saja bagaimana Eggy Sudjana yang menghina dogma Gereja Katolik saja tidak menjadi urusan berkepanjangan.

Namun ini adalah pembelajaran bersama, jangan mudah menggunakan dalil, ayat, apalagi dogma agama, tanpa tahu lebih jauh. Politik ya politik, jangan cari-cari dalih dan pembenaran dalam Kitab Suci. Ini sama juga berjalan di jalan raya namun menggunakan perahu. Malah menjadi Sengkuni baru, yang ke  mana-mana naik perahu namun kakinya yang melangkah.

Tidak ada salahnya dan memang harus politik itu menggunakan dasar iman, agama, dan Kitab Suci sesuai para politikus masing-masing. Namun itu untuk perilaku, bukan pembenar atas asal-asalannya alam berpendapat. Jadi berabe dan memaksakan teks jika demikian. Perilaku ugal-ugalan kalau abad pertengahan itu terkutuklah engkau.

Gampang, sederhana, tidak perlu dalil mau Injil atau Alkitab, atau Alquran, atau kitab apapun, apalagi ini Indonesia, coba tilik saja, ketika mengatakan A adalah A dalam segala kondisi, ada konsistensi itu beragama yag baik.

Kebenaran universal dasarnya hukum positif yang ada di negara ini. Agama apapun tidak akan berbenturan dengan Pancasila dan turunannya. Lha ketika kebenaran berdasar Pancasila namun tidak menguntungkan apa keinginannya, kog mencari-cari pembenar dari Kitab Suci, ya bahaya, dan bisa membuat bangsa terkoyak karena salah sangka dan salah memahami agama lain.

Apa yang dikatakan dan dinyatakan Poyuono tidak sepenuhnya benar, jadi jangan kemudian menjadi penilaian oh Gereja Katolik begitu ya. Apalagi sikap beragama di sini masih demikian mudah tersulut oleh kepentingan lain. lebih suka mengurus kebiasaan agama lain, padahal belum tentu juga lebih baik.

Menahan diri untuk jauh dan menjauhkan mengambil ayat atau bagian dogma tanpa menggunakan konteks utuhnya. Apalagi tidak tahu benar apa yang dimaksud, malah bisa berabe dan berbahaya. Ada Pancasila, malah mengambil ayat Kitab Suci  sekadar mencari pembenar bagi gagasannya yang ngawur.

Terima kasih dan salam