Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kedengkian, Kemarahan Berlebihan, Intrik, Karena Pilpres atau Pilkada DKI?

20 Maret 2018   17:20 Diperbarui: 20 Maret 2018   19:59 568 8 1 Mohon Tunggu...

Kedengkian, kemarahan berlebihan, intrik, karena pilpres 2014 atau pilkada DKI 2017, demikian sebentuk tanya dalam WAG. Sejatinya ini tabiat lama bangsa ini, bukan budaya, masih tabiat. Lama juga hilang kog. Jika membaca Babad Tanah Djawi,masih sepenggal saya baca serius, ternyata pengulangan sejarah saja. Pun membaca Arus Balik,atau Arok Dedes, atau juga Ken Arok,jelas itu sejarah lama yang seperti kaset diputar ulang terus. Namun sejatinya pernah berhenti. Sayangnya berhenti bukan karena kesadaran namun represi.

Tentu banyak yang paham bagaimana Ken Arok (sejarah tetap belum pernah bisa mengatakan siapa sebagai pelaku kudeta itu) naik tahta. Siapa yang menjadi "pelaku" siapa yang menjadi kambing hitam. Yang jelas Ken Arok menjadi penguasa di Tumapel. Kejadian terus berulang, pun nampaknya hingga kini.

Susahnya dengan media dan media sosial, orang bisa mcam-macam, menebarkan fitnah dan ujaran kebencian, mengatakan A sebagai Z dan sebagainya. Diperparah oleh sikap tidak bertanggung jawab, ngelesnya mengalahkan tukang bajaj dan emak-emak bermotor matic. Mengapa demikian pelik nampaknya permasalahan bangsa ini?

Sikap bertanggung jawab yang sangat rendah, maaf bahkan tokoh agama dan negara sekalipun. Jika dituntut pertanggungjawaban, bahkan atas ucapan dari mulutnya sendiripun bisa melebar ke mana-mana, media yang memelintir lah, karena desakan media sosial dan warga net lah, dan sejenisnya, padahal mereka tahu mereka itu salah. Bagaimana iman itu berbuah jika soal tanggung jawab saja minim. Namun berbeda jika pihak-pihak yang demikian itu merasa menjadi korban, waduh semua sumpah serapah bisa tumpah menjadi sampah di mana-mana. Ironis, mengaku beragama namun perilaku munafik juga menjadi gaya hidup.

Penegakan hukum sangat lemah, karena point pertama tadi. Sikap bertanggung jawab yang lemah, diikuti tuduhan dan nanti kalau terdesak akan mengerahkan massa dan mengaitkan dengan label. Biasanya agama dan pemuka agama. Dengan mengaitkan dengan label tersebut masalah menjadi bias, kabur, dan kembali simalakama kasus kriminal bisa mendapat pembelaan, karena kembali pada bahasa pertama tadi, sikap bertanggung jawab yang rendah. Memalukan bahkan sebenarnya. Munafik mengerak dengan perilaku demikian.

Sikap kritis yang bisa dipermain-mainkan. Persepsi publik masih sering gugup dan gagap melihat kebenaran. Feodalisme gaya baru namun sebenarnya lama. Bagaimana jika si A bicara karena ia adalah penggede agama pasti benar. Pejabat yang berbicara pasti benar. Lihat ini jelas feodalisme zaman lama. Priayi yang selalu dianggap benar hingga detik ini masih terjadi.

Pembedaan peran, pribadi, dan jabatan sering dicampuradukkan, kembali soal permainan persepsi. Ini mereka tentu paham, tahu baik, namun mencari untung dari kegugupan dan kegagapan sosial ini. membedakan Si A mulut ember, dia seorang pemuka agama, pun dia bapak keluarga. Artinya dia ada pada posisi si mulut ember ini memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga,  dan fungsi bisa sosial bisa spiritual sebagai pemimpin agama. Dia dituntut pidana atau pertanggungjawaban sebagai si mulut ember. Bisa saja dia sebagai bapak yang baik, pemuka agama yang cemerlang, namun mulut embernya tetap memiliki konsekuensi. Di sini banyak yang tidak paham.

Keteladanan dalam sikap yang buruk. Jelas dari level paling atas pun demikian, jika diusut akan mewek-mewek. Hal buruk yang diulang terus menerus. Tabiat buruk yang perlu diakhiri. Memalukan bangsa ini, dihuni banyak orag model demikian.

Contoh konkret terbaru ketika Amien Rais mengatakan presiden pengibul,ini sangat serius, menyatakan pemerintah sebagai pengibul sangat serius, jangan ngeles ah Cuma becanda, itu bisanya media. Ini akan melebar ke mana-mana, ketika dilaporkan ke kepolisian, akan dengan mudah pemerintah kog baperan, mudah tersinggung, tahun politik pencitraan, dan sejenisnya. Padahal kalau yang mengatakan itu yang dikatakan demikian apa reaksinya? Ingat ketika ada bontotan 600 juta yang lalu, bagaimana ia ngamuk tidak karuan?

Arahnya pun bisa dibaca jika direaksi dengan pelaporan akan dinyatakan presiden baper, begitu saja ngambeg, pemerintah antikritik, memusuhi tokoh agama. Sudah terbaca dengan gamblang.

Apakah hal ini membawa negara makin baik? Jelas tidak, negara yang makin memalukan di dunia internasional. Ingat ini soal mulut bukan soal beliau sesepuh parpol, bukan seorang mantan pimpinan ormas, atau tokoh agama. Sebagai tokoh agama, beliau baik, dalam berpolitik pun cukup baik, namun sering apa yang diiucapkan asal dan tidak mendidik sebagai seorng guru bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN