Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ahok - HT dan Perpolitikan Nasional Saat ini

9 Maret 2018   05:20 Diperbarui: 9 Maret 2018   07:04 802 26 18

Ahok dan HT, dan perpolitikan nasional saat ini, seolah bak bumi dan langit saja. Satu nama gegap gempita dipersepsikan untuk bisa menjadi salah satu kandidat wapres. Yang lain disebut saja sudah banyak yang ribut dan ngamuk-ngamuk tidak karuan. Padahal dua-duanya memiliki dua ciri yang sama, maaf Chines dan Kristen. Mengapa berbeda?

Secar kinerja dalam arti birokrasi dan kepemimpinan politik dan pemerintahan jelas terbukti. Bukti pemerintahan Ahok, terbukti dalam masa kerjanya yang tidak lama. Ingat ini bicara pemerintahan, mau bicara penista agama gak usah datang.Apa yang ia capai jelas kog, dan rekor artikel itu adalah 430-an dalam satu jam pertama, sama dengan satu artikel saat ini untuk seharian penuh. Apa yang berkaitan dengan nama itu sangat menarik, menjual, dan memang jelas kualitasnya.

Jelas terbukti apa yang terjadi itu bukan soal etnis dan agama, namun karena ini, selengkapnya bisa dibaca di dalam ulasan berikut, etnis dan agama?, jelas bukan sekarang HT dengan latar belakang yang identik toh tidak pernah dikeroyok artikelnya, ada apa? Artinya jelas bukan soal labelnya, namun kinerjanya.

Siapa yang tidak ingat apa yang menjadi jalan panjang HT untuk pilpres. Pernah ada di Hanura, sebelumnya bersama dengan Nasdem saat masih ormas. Sebelum pilpres 2014, jauh hari sebelum masa kampanye bersama Wiranto setiap saat tampil di televisi dengan banyak cara, main sinetron segala. Sangat gencar untuk menjadi salah satu bakal calon wakil presiden melalui Hanura.

Suara yang tidak signifikan membuat Pak Wi mendukung Pak Jokowi, sedang Pak HT memilih jalan berseberangan. Dan masih diingat pula ketika  membawa Pak Prabowo dalam final Indonesian Idol.Jelas arah dan pemilihan Pak HT ada pada sosok siapa.

Perjalanan selanjutnya, mengikuti model Pak Wiranto dan Pak Prabowo membawa Perindo menjadi salah satu bakal calon partai politik. Berbagai pemberitaan, tanggapan, dan media yang di bawah naungan atau kepemilikan Pak HT nyaring menyuarakan sisi yang berbeda mengenai pemerintahan. Masih bersama-sama dengan koalisi Pak Prabowo. Tiba-tiba kejaksaan menyatakan ada masalah dalam berbagai kasus menyangkut HT, pun ada suara yang mengaitkannya dengan kasus Pak Antasari dan KPK dengan peristiwa Pak Beye dan besan. Semua hilang tidak bersuara.

Perindo berbalik arah dan mendukung Pak Jokowi untuk maju periode kedua. Pemberitaan medianya juga berubah. Partai baru pun resmi menjadi partai politik yang bisa ikut pemilu 2019. Beberapa tulisan terutama di K, menyajikan tulisan kalau Pak HT layak jadi salah satu kandidat wakil dari Pak Jokowi dalam kontestasi pilpres mendatang.

Pengalaman birokrasi dan politik jauh berbeda dengan manajemen perusahaan. Tidak semata legalis idealis, apalagi model one man show,seperti milik sendiri. Susah mengharapkan lebih dari sosok ini. pengalaman sangat minim untuk menjadi RI-2.

Sisi yang menggembirakan sebenarnya etnis apapun, agama apapun, dan dari mana pun asal, latar belakang, dan jenis kelamin bukan menjadi masalah dalam memilih kepemimpinan nasional, namun miris mengapa ketika menyangkut nama Ahok semua bisa berubah? Apa yang terjadi dengan bangsa ini? standart ganda saja yang menjadi panglima.

Jika mau jujur, sejatinya bukan masalah etnis atau agama Ahok, nyatanya ada juga calon presiden yang etnisnya sama tidak jadi masalah kog, malah dibela mati-matian. Bangsa ini sudah maju namun ketika menghadapi orang seperti Ahok yang tidak kenal kompromi, maju dengan kadang ngawur, semua berantakan.

Ahok awalnya juga banyak yang senang kog, Jakarta jelas hasilnya, jangan lupa ada juga yang kini mencaci pernah memberi penghargaan. Artinya, ada kemunduran dari era dulu, era 2000-an awal. Mengapa? Kepentingan. Apa yang menjadi masalah dasarnya adalah kepentingan dan kekuasaan.

Ribet, jalan uang lancar menjadi mampet, repot jika nasional juga menjadi baik. Semua bisa kelaparan, rakyat senang mana duli, kalau elit mampet rezekinya. Masalah adalah pada rezeki yang mampat. Tentu bukan rezeki soal gaji. Yang lain,  semua tentu paham kog.

Kesalahan terbesar Ahok itu bukan soal kulit kuning, mata sipit, dan ke gereja kog, tapi kinerjanya yang tidak kenal kompromi. Nih sekarang diam banget dewan di Jakarta, padahal dulu dengan Ahok, siapa tidak diajak kelahi? Tidak hanya yang levelnya sama, bahkan pusat pun biasa diajaknya berdebat dan sering berlebihan.

Sering apa yang ia lakukan itu benar, namun caranya membuat orang antipati dan meradang. Hal yang menjadi bumerang dalam berpolitik. Soal agama kan menjadi puncak, sebelum ia didera mengenai isu korups dalam berbagai-bagai macam hal.

Jika memang Harry Tanusudibyo memang bisa calon wapres, mau dengan siapa saja presidennya, tentu menjadi kemajuan yang amat baik bagi bangsa dan negara ini. Namun apa iya?

Salam