Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menakar Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan AHY sebagai Bakal Cawapres

8 Desember 2017   06:33 Diperbarui: 8 Desember 2017   08:28 1361 28 21

Menakar Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan AHY sebagai Bakal Cawapres

Menakar Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan AHY sebagai bakal calon wakil presiden, menurut survey yang mulai gencar ada tiga nama tersebut dalam posisi teratas. Sah-sah saja mau seperti apa hasilnya, kecurigaan soal bayaran atau pesanan toh tidak juga bisa dibantah mentah-entah, namun melihat ketiga nama itu, tentu calon presiden masih berkisar pada dua nama saja. Presiden Jokowi dan Pak Prabowo kembali sebagai penantang kuat sebagaimana 2014 lalu dengan barisan yang tidak akan jauh berbeda.

Toh berbicara militer dan non-mileter masih menjual dan menjadi bahan cukup panas di dalam perpolitikan kita. Tirannya Orde Baru berimbas pada soal militer yang harus keluar dari perpolitikan, padahal tidak juga demikian sepenuhnya. Jika memang mampu mengapa tidak? Militer bukan pelaku kejahata, mosok bekas maling anggaran saja boleh, militer tidak. 

Tidak boleh, jika militer itu kudeta. Hal yang sangat berbeda. Militer yang ikut dalam pilkada, bahkan pilpres pun banyak pemilih, namun banyak pula yang masih tidak menghendakinya. Strategi matang diperlukan sehingga tidak menjadi titik lemah untuk memasuki pertarungan. (semoga sportif dan tidak lagi model fitnah, SARA, dan yang tidak bermutu lainnya)

Melihat peta wakil sangat menentukan, karena susah melihat ada calon lain untuk posisi presiden. Suara juga masih mirip-mirip 2014, artinya pemilihan wakil sangat menentukan, dan memiliki faktor yang cukup signifikan. Siapa dengan siapa itu bisa membuat peta berubah.

Menarik adalah dengan adanya dua militer dan satu sipil, dengan mengesampingkan Pak JK maju lagi bersama Pak Jokowi jauh lebih aman daripada melompat pagar dengan Pak Prabowo misalnya. Ada beberapa kombinasi yang menarik dan bisa menjadi pembicaraan yang panas justru.

Tentu jauh lebih unggul pada posisi presiden, karena posisinya yang sipil, mau bersama siapapun bisa. Mau Pak Gatot pun lanjut, Pak Agus, tidak ada masalah, jika pun dengan Pak Anies, masih bisa juga. Beda jika Pak Prabowo mau ambil Pak Gatot atau Pak Agus, resistensi soal dobel militer masih sangat kuat. 

Satu calon militer masih layak, wajar, dan bisa diterima dengan biasa. Jika keduanya militer, cenderung akan ditinggalkan pemilih rasional, berasal dari kota dan Jawa yang jauh lebih besar tentunya. Tidak ada yang salah, namun riskan dan banyak mengandung risiko yang tidak diinginkan.

Kombinasi Jokowi-Gatot, pun masih sangat wajar, bisa diterima semua kalangan, dan resistensinya tidak begitu besar. Kedekatan dengan banyak kalangan bisa menjadi jembatan. Posisi wapres yang melengkapi karena selama ini "tuduhan" PKI dan antiagama tertentu bisa dimainkan dengan baik untuk menegasi itu oleh Pak Gatot. Point banyak justru kombinasi ini. Memang lemah karena posisi keduanya yang tidak "memilki parpol." 

Dewan pasti akan main kayu lagi seperti dulu. Berbeda ketika demokrasi akal-akalan sudah mulai hilang dan berganti dengan kedewasaan berpolitik. Soal pengalaman tidak ada yang perlu diragukan lagi. Kewilayahan dan asal toh tidak akan terlalu susah juga, selama tidak dimainkan sebagai isu rasis dan primordial, tidak begitu menjadi masalah.

Kombinasi Prabowo Gatot. Jelas akan terihat karena keduanya militer. Akan menjadi aneh juga karena wakilnya justru bintang empat. Memang semua sudah purna toh, bisa juga menjadi ganjalan psikologis. Tentu masalah keduanya militer. 

Dikotomi sipil militer masih sangat sumir, karena toh banyak yang tidak suka, namun juga banyak yang masih memuja. Artinya, susah untuk melihat keduanya maju sebagai pasangan. Memang kalau ini kondisi dewan jauh lebih aman karena model pendekatan Gerindra yang akan taat kepada sang pemimpin begitu loyal dan besar.

Prabowo Agus. Ini pun militer dengan militer. Relatif sama dengan keadaan di atas. Hambatan psikologis memang tidak ada karena mereka secara kepangkatan tidak masalah. dukungan parpol juga solid karena pendekatan dua partai pengusung sangat solid dan relatif bisa menjadi jaminan tidak akan menjadi duri dalam daging. Kelemahan yang nampak soal birokrasi keduanya lemah. Militer beda dengan sipil dan itu perlu waktu adaptasi yang bisa menghabiskan energi.

Jokowi-Agus. Relatif aman, parpol juga lumayan ada yang setia dengan Demokratnya. Meskipun hambatan pada pengalaman sisi wapres jika melihat pembagian kerja sebagaimana Jokowi-Ahok saat di Jakarta diterapkan. 

Bukan perkara mudah dengan usia, pangkat, dan pengalaman, di kancah nasional, dan ingat bangsa ini sangat besar. Secara politik dan dukungan politik aman, hanya soal pengalaman saja. Prabowo Anies. Jika ini terjadi, kombinasi bolehlah, apa yang akan dilakukan, tentu tidak berlebihan jika menerka mereka akan memainkan isu, cara kampanye yang identik dengan pilada Jakarta kemarin. Hal yang berbeda. Nasional jauh lebih komplek dari sekadar Jakarta. 

Peta yang berbeda belum tentu bisa menghasilkan produk yang sama tentunya. Melihat rekam jejaknya susah untuk melihat mereka menggunakan cara yang sama. Secara politik mereka cukup kuat. Namun hati-hati, jangan sampai matahari kembar tercipta. Semua pola pikirnya nomor satu, tidak ada yang siap nomor dua. Keduanya juga tipikal pemerintah, tukang perintah, tidak ada yang pelaku atau pelaksana.

Jokowi-Anies. Kemungkinan kecil, namun bukan berarti tidak ada bukan? Sangat lemah dari sisi politik. Dimainkan kubu lain juga dengan mudah karena kelemahan yang terlihat dengan gamblang. Meskipun kecil toh tidak ada dalam politik yang tidak mungkin.

Dua tahun memang masih panjang, semua hal bisa terjadi, survey pun masih banyak kelemahan, namun tentu prediksi bolehlah dikedepankan. Semua masih belum ada kemungkinan terbesar.  Masih bisa juga akan ada calon lain yang bisa saja merangsek naik dan menjaid kuda hitam dalam posisi apapun.

Salam