Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pendiamnya Pak Beye

19 Maret 2017   22:27 Diperbarui: 19 Maret 2017   22:57 2717 27 51 Mohon Tunggu...

Pendiamnya Pak Beye

Usai pilkada DKI putaran pertama Pak Beye berubah menjadi sangat pendiam. Berbeda dengan awal-awal pencalonan sang putra yang seperti ABG yang baru mengerti dunia. Bagaimana medsos menjadi sarana Pak Beye di dalam berakrobat politik. Jauh bertolak belakang usai menyaksikan usaha gila-gilaan beliau yang tidak menghasilkan apa-apa. Bagaimana seperti big bossyang memarahi bawahannya saja kala mengritik baik Pak Jokowi ataupun Ahok. Seperti sang penguasa yang jengkel melihat kinerja bawahannya buruk. Birokrasi, politik, media, apapun menjadi bahan kritikan tajam yang melebihi sembilu pedihnya bagi yang mendengarkan.

Sunyi sepi usai kalah telak di putaran pertama. Pertemuan yang sangat dirindukan pun tidak lagi menjadi bahan “pamer” baik di twitter ataupun medsos lain seperti biasanya. Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan mengapa begitu diam dan seperti kehilangan jati diri saja Pak Beye.

Satu, kekalahan telak di putaran awal sama sekali di luar prediksi. Jelas saja, sangat percaya diri untuk satu putaran, eh malah rontok duluan. Meskipun tahu tidak akan mudah, dan tahu kondisinya sulit, namun rontok di putaran satu dengan suara yang sangat kecil tentu membuat makin ciut nyalinya.

Dua, merasa habis dengan model puputan di awal-awal dengan menyerang siapa saja. Terutama mengaitkan apapun dengan presiden, namun malah menjadi blunder, tentu menarik diri sangat jauh dinilai lebih elegan, dan menyiapkan amunisi yang lebih baik untuk pilkada di tempat lain.

Tiga, sadar bahwa apa yang dilakukan selama ini salah dan membuat kekalahan. Tentu hal yang sama tidak akan diulangi lagi untuk tempat lain. Namun menarik sangat dalam seperti ini juga bisa menjadi repot bagi persiapan termasuk 2019.

Empat, tahu bahwa ada yang main kayu, memotong di lipatan, dan menyalip di tikungan. Pak Beye yang selama ini menyajikan politik santun, penuh perhitungan, dan tenang seolah lepas kendali, bahkan sering meluapkan emosi secara berlebihan, baru sadar dan “menyesal’ telah termakan umpan yang malah menjeratnya sendiri. Hal ini disadari betul Pak Beye yang sudah kehilangan banyak hal dan terutama relasi dengan pemerintah dan parpol yang mendukungnya. Bagaimana selama pilkada seolah sudah ada di barisan yang siap tempur itu ternyata tidak cukup amunisi untuk sekedar bertahan. Menyerang malu, mundur apalagi, diam adalah hal yang paling realistis saat ini buat Pak Beye.

Apa yang terjadi, bisa menjadi pelajaran berharga bagi Pak Beye.

Politik main dua kaki yang selama ini beliau pakai digunakan orang lain untuk menelikung Pak Beye sendiri. Jelas ada yang berbalik badan ke paslon lain, jika menilik beberapa indikasi sebelum dan seusai pilkada. Hal ini tentu pelajaran menyakitkan bagi ahli yang kena senjatanya sendiri.

Politik habis manis sepah dibuang perlu dikaji bagi Pak Beye dan Demokrat. Bagaimana selama ini para “pejuang” Demokrat masuk bui tanpa peduli, dipecat jika memilih berbeda, tentu menjadi pengalaman berharga bagi Pak Beye, sehingga tidak lagi mengulangi hal yang sama lagi. Lihat bagaimana perillaku ugal-ugalan ala Demokrat dan rekannya selama berkuasa da berakhir. Loyalis itu penting bukan hanya kepentingan sesaat saja.

Kaderisasi matang dan loyalis sangat penting. Lihat bagaimana mesin partai Demokrat ternyata hanya banyak omong dan wacana serta asyik puja puji SBY tanpa kinerja. Usai minggatnya Ruhut, habis juga roda mesin Demokrat, karena hanya berisi para “penjilat” tanpa kualitas. Roy Suryo, Syarif Hasan, ataupun Amir Syamsudin bukan loyalis bermanfaat bagi mesin politik Demokrat. Mereka hanya numpang hidup dan tenar dari SBY saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN