Mohon tunggu...
Funk_ane
Funk_ane Mohon Tunggu... Administrasi - penyendiri

Diam di sudut ruangan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Misteri Gadis yang Kucinta

3 Juli 2019   14:21 Diperbarui: 4 Juli 2019   10:53 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
hdwallpapersduniyaa.blogspot.com

"Aku mendengarnya, tidak perlu berteriak.!"kata Nola mencoba menenangkanku,

"Jangan mempermalukannya lagi di depan semua orang, atau kita akhiri saja,!" ucapku dengan terang dan jelas, lalu balikkan tubuh, meninggalkan Nola...

"Tapi kenapa? Kenapa masih mau membelanya? Angga tunggu... Angga,!!!" Nola memanggil "Sialan..." kudengar samar umpatannya, siapa peduli.

Sampai kapan kamu akan menyelimuti angan ini dengan tanda tanya,? Nurmala wanita yang tidak bisa aku anggap tidak ada, kamu sudah berkata,! kenapa tidak kamu putuskan saja untuk masuk penjara. Agar aku bisa lepas dari lara. Dua tahun lebih kita telah melewati banyak waktu bersama, tanpa peduli, bahagia seperti orang gila, lalu mengapa sekarang berhenti saling menyapa. Apa yang ingin kau sampaikan padaku harusnya dengan kata, agar aku paham tanpa harus menyela.

Ketika tiba-tiba kau sandarkan kepalamu untuk pertama kalinya di bahuku, aku masih mengingatnya dengan jelas, "Tiga menit saja," kau berkata. Lalu kau tutup matamu seolah nyaman, aku menduga kau dalam kegundahan, namun tetap saja kamu tidak mau mengatakan. Apa begitu caramu bertahan,? Menahan tangisan,! aku belum menemukan jawaban. Sikapmu yang selalu damai membuatku tidak butuh prenjelasan, apalagi belum pernah kutemukan kamu dalam kerusuhan,. Lalu bagaimana jika kebenaranya waktu itu kamu dalam kesusahan, semua akan menjadi salahku karena tidak memperhatikan.

Aku berpikir dengan keras masa lalu pasti memiliki jawaban atas semua tanda tanya.! Sikap dingin, keras kepala yang melekat pada dirinya adalah jawaban dia tidak baik saja, dia melawan kegundahan. Atau bisa jadi hal yang  lebih mengerikan. Cukup sudah waktu yang kubuang, ke esokan harinya aku menantinya menyebrang jalan,

"Mala..." sapaku,

"Hai, sedang apa disini,?" dia tanya dengan tersenyum.

"Setiap hari aku di sini, menunggumu. Melihatmu naik bus,!" kataku

"Sungguh,!!! Kenapa aku tidak pernah melihatmu.?" Tatapnya bertanya. Kenapa dia tidak sadar, lama sudah kunantikan saat berbicara dengannya lagi seperti ini, aku merindukannya setiap hari karena telah bersikap seolah orang asing.

"Kamu lupa? Aku sedang marah padamu,! Kenapa tidak datang dan meminta maaf,?" terangku padanya.!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun