Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

19 Tahun Genggam Demokrat, SBY Ukir Sejarah Politik Dinasti

15 Maret 2020   23:54 Diperbarui: 16 Maret 2020   05:56 1761 10 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
19 Tahun Genggam Demokrat, SBY Ukir Sejarah Politik Dinasti
AHY-Ibas Bersama Istri (Twitter/@SeputarAHY)

Partai Demokrat resmi punya Ketua Umum yang baru, Minggu (15/3/2020). Di JCC Jakarta, AHY terpilih secara aklamasi sebagai pengganti SBY di kursi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2025. Tidak ada gejolak, apalagi trik dan intrik di internal parpol yang didirikan SBY pada 2001 silam itu.

SBY, rupanya sudah cukup yakin melepas kendali Demokrat kepada AHY, sang putera sulung. Tepatnya setelah 19 tahun mengendalikan partai berlambang bintang mercy itu.

SBY sepertinya tak ingin lagi memberikan kursi Ketua Umum kepada 'orang luar' sejak terjadinya peristiwa Anas Urbaningrum. Sebagai gantinya, SBY ingin mengukir sejarah politik dinasti untuk pertama kalinya.

Sepengetahuan saya, Demokrat merupakan partai politik pertama yang sukses melanjutkan estafet kepemimpinan kepada keluarganya sendiri. Dari SBY ke AHY. Dari ayah ke anak. SBY dalam hal ini telah membuktikan bahwa politik dinasti betul-betul nyata. Nilai lebihnya lagi, SBY melakukannya dengan sangat rapi.

Tampilnya AHY sebagai suksesor ayah tercinta sebetulnya sudah bisa terbaca ketika menjelang Pilgub DKI 2017 lalu, AHY nekat meninggalkan dinas militernya. Ia dengan pangkat terakhir Mayor di TNI AD memilih pensiun dini agar bisa mengikuti perhelatan Pilgub DKI 2017. Meski akhirnya kalah, tetapi AHY sejak saat itu langsung menunjukkan kelasnya sebagai politisi tingkat nasional.

AHY, yang tergolong 'politisi karbitan' ternyata mampu mengimbangi tingginya dinamika politik Tanah Air. Memang harus diakui, nama besar SBY sebagai presiden dua periode semakin menambah kharisma politik dalam diri AHY. Sementara Ibas tampaknya lebih dipersiapkan sebagai 'lapis kedua' di belakang AHY.

Pencapaian SBY-AHY ini sekaligus melampaui partai politik lain yang punya gen serupa. PDIP misalnya di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputeri hingga kini belum mampu mengukir politik dinasti. Padahal, Megawati telah memimpin PDIP sejak pertama kali lahir pada 1999 silam. Tercatat, Mega telah terpilih sebagai Ketua Umum PDIP sebanyak 5 kali berturut-turut atau selama 25 tahun.

Ketimbang SBY, Megawati bahkan lebih dulu punya calon kuat yakni Puan Maharani yang diprediksi akan meneruskan tahta Ketua Umum di PDIP. Akan tetapi, prediksi tersebut hingga kini belum terwujud. Kalaupun terwujud, itu akan terjadi setelah masa jabatan Megawati selesai pada 2024 nanti. Dengan kata lain, SBY kembali melampaui Mega dalam rekor sejarah politik dinasti.

Begitu juga dengan Prabowo Subianto yang masih tetap memegang kendali di Partai Gerindra sejak berdiri pada 2008 lalu. Bahkan, Prabowo tampaknya akan lebih kesulitan lagi mengimbangi pencapaian SBY. Itu karena anggota keluarga inti Prabowo sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda ketertarikan terjun ke dunia politik.

Wiranto yang membidani Hanura malah kurang beruntung. Tak hanya berpotensi kehilangan kesempatan mengukir politik dinasti, malah partai politik yang didirikannya itu sangat berpeluang dikuasai orang lain, yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan Wiranto.

Gus Dur bahkan sudah lebih dulu mengalaminya kendati tak separah Wiranto. Ketika PKB yang didirikannya malah jatuh ke genggaman Cak Imin, yang tak lain keponakan Gus Dur sendiri. Padahal, Gus Dur punya seorang puteri yakni Yenny Wahid yang dikenal cukup piawai dalam dunia politik. Tetapi sayangnya, Gus Dur ternyata gagal mewariskan PKB kepada Yenny.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x