Mohon tunggu...
Panca Nugraha
Panca Nugraha Mohon Tunggu... profesional -

Saya seorang wartawan, penulis. Bekerja sebagai koresponden harian The Jakarta Post untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jika Tak Dikelola, Kerbau bisa Terancam Punah di Indonesia

21 Oktober 2014   06:00 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:18 286 0 0 Mohon Tunggu...

Populasi Kerbau (Bubalus Bubalis) terus menyusut setiap tahun di Indonesia. Jika tak dikelola, dalam beberapa dekade, ternak khas negara agraris ini bisa saja terancam punah.

Berangkat dari keprihatinan itu, Pemda Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mencoba mempertahankan dan meningkatkan populasi ternak Kerbau di daerahnya, menyusul terus menyusutnya angka populasi ternak ini secara nasional.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Syafruddin Nur mengatakan, secara nasional provinsi NTB merupakan daerah ke enam sebagai daerah dengan populasi ternak Kerbau terbanyak. Dan, 80 persen populasi Kerbau di NTB berada di wilayah Kabupaten Sumbawa.

“Saat ini tercatat populasi ternak Kerbau di Sumbawa ini ada sekitar 50 ribu ekor, angka ini merupakan 80 persen dari total populasi Kerbau di NTB. Mulai 2014 kami sudah mulai melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan populasi Kerbau dan juga meningkatkan jumlahnya, sebab jika tidak populasi ternak asli Indonesia ini bisa terus menyusut, bahkan dalam beberapa dekade bisa terancam punah,” katanya, Minggu (28/9) usai seremoni perayaan bulan bhakti peternakan dan kesehatan hewan tingkat Provinsi NTB, yang diselenggarakan di Sumbawa.

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, populasi ternak Kerbau di Sumbawa terus menurun dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2009 tercatat sebanyak 56.636 ekor, tahun 2010 sebanyak 54.535 ekor, tahun 2011 sebanyak 55.706 ekor, tahun 2012 sebanyak 54.022 ekor, dan pada 2013 menurun menjadi 50.857 ekor.

Syafruddin mengatakan, dari hasil analisa yang dilakukan penyusutan populasi ternak Kerbau ini bukan hanya disebabkan lantaran kebutuhan untuk ternak potong yang meningkat serta pola ternak yang kurang intensif, tetapi juga lantaran perubahan pola pikir para peternak yang sejak lima tahun terakhir beralih ke ternak Sapi.

"Pola pikir peternak kita memang sudah bergeser dari Kerbau ke Sapi, ini hanya karena anggapan yang salah bahwa reproduksi Sapi lebih cepat dari Kerbau,” katanya.

Menurutnya, perkembangan teknologi pertanian juga mendorong budaya masyarakat memelihara Kerbau mulai ditinggalkan, sejak membajak tanah sawah bisa menggunakan hand traktor, bukan dengan tenaga Kerbau lagi.

Padahal secara ekonomis, ternak Kerbau jauh lebih menguntungkan bagi peternak.

Ia mencontohkan, seekor Kerbau dengan berat 600 Kg saat ini bisa berharga mencapai Rp12 juta, sementara untuk Sapi sangat sulit mencapai berat 600 Kg, kalau pun tercapai berat yang maksimal, harga seekor Sapi hanya berkisar Rp6 juta hingga Rp8 juta perekor.

“Harga Kerbau juga cenderung stabil. Dulu zaman dua generasi di atas kami, orang bisa naik Haji dengan menjual enam ekor Kerbau miliknya, dan saat ini pun masih bisa dengan menjual 6 hingga 8 ekor Kerbau miliknya untuk biaya Haji,” katanya.

Nilai ekonomis ternak asli Indonesia ini, membuat Pemda Sumbawa bertekad untuk bisa menjadi daerah sentra ternak Kerbau nasional.

Sejumlah langkah yang dilakukan Pemda Sumbawa antara lain dengan menekan pemotongan ternak Kerbau betina produktif, mendorong 12 kelompok tani kerbau untuk melakukan sistem peternakan intensif Kerbau, dan juga mendorong pembudidayaan ternak Kerbau perah untuk komoditi susu.

Tahun 2014 ini Pemda Sumbawa sudah membebaskan lahan seluas 20 hektare di Kecamatan Maronge, yang akan digunakan sebagai lokasi Laboratorium Peternakan Kerbau. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian sudah menganggarkan dana sebesar Rp3 Miliar untuk pembangunan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan ini.

Jika sudah beroperasi tahun 2015 mendatang, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan, Laboratorium ternak Kerbau ini akan digunakan sebagai peternakan Kerbau secara intensif yang melibatkan 12 kelompok peternak dari 12 Kecamatan potensi Kerbau, di antara total 20 Kecamatan yang ada di Sumbawa.

Dengan pola peternakan intensif, diharapkan masa reproduksi Kerbau yang selama ini masih berkisar beranak 2 ekor dalam tiga tahun, bisa ditingkatkan lagi menjadi seekor setiap tahunnya.

Sebab, Sumbawa hanya memiliki 3 bulan hari hujan yang berdampak pada kurangnya kebutuhan pakan pada ternak Kerbau yang masih dipelihara peternak lokal dengan mengandalkan padang gembala.

“Di Lab Kerbau itu, kita akan pisahkan menjadi tiga zona, yakni peternakan Kerbau Pedaging, dan Kerbau perah untuk kebutuhan Susu. Satu lagi adalah Kerbau khusus untuk kebutuhan tradisi Barapan Kerbau,” katanya.

Dari sisi anggaran Pemda Sumbawa melaui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga akan menyediakan bibit-bibit Kerbau bantuan untuk kelompok ternak, yang nantinya akan disalurkan dengan pola bergulir. Jika kelompok penerima sudah memiliki Kerbau yang beranak, maka akan digulirkan ke kelompok lain yang belum menerima.

Syafruddin menjelaskan, tradisi budaya Barapan Kerbau yang masih lestari di Sumbawa ternyata juga sangat membantu mempertahankan populasi Kerbau di daerah itu.

Biasanya event tradisi turun temurun ini dilakukan dua minggu sekali dengan lokasi bergilir di tiap Kecamatan, terutama pada masa musim penghujan, menjelang masa tanam, dan usai panen raya.

Harga Kerbau untuk Barapan Kerbau juga sangat fantastis, bisa mencapai Rp200juta per ekor jika Kerbau itu sudah pernah memenangkan pertandingan Barapan Kerbau.

“Untuk Laboratorium ternak Kerbau ini, kami juga akan bekerjasama dengan ahli Kerbau nasional, dan juga ahli Kerbau dari Federasi Kerbau Internasional yang berbasis di Italia,” katanya.

Turut hadir dalam seremoni peringatan bulan bhakti peternakan 2014 di Sumbawa, Sekretaris Federasi Kerbau Internasional, Mr Antonio Borghese mengatakan, untuk mempertahankan populasi Kerbau di suatu daerah, perlu ada perubahan konsep dan sasaran beternak.

Kalau selama ini peternak Kerbau hanya mengandalkan ternaknya untuk kebutuhan daging, maka harus didorong agar para peternak bisa memproduksi susu perah.

“Kalau targetnya hanya daging, maka bisa dipastikan populasi akan terus menyusut diujung pisau. Tapi kalau targetnya juga susu perah, maka peternak harus menunggu Kerbau itu melahirkan, akan ada populasi baru selain manfaat susu perahnya,” katanya.

Produksi susu Kerbau, papar Antonio, juga akan sangat bernilai ekonomis tinggi. Selain bisa dikonsumsi sebagai susu segar, juga bisa diolah dalam sejumlah produk olahan, mulai dari penganan susu, yogurt, dan keju.

“Peternak Kerbau di Italia sudah lama menggunakan pola ini dan ini sangat berhasil menjaga populasi sekaligus menciptakan pendapatan ekonomi yang bagus untuk masyarakat. Di beberapa Negara lain di asia juga sudah melakukannya, termasuk di India,” katanya.

Ahli Kerbau dari Universitas Mataram, Suhubdy Yamin mengatakan, berdasarkan data BPS tahun 2011 lalu tercatat jumlah populasi Kerbau nasional mencapai 1,3 juta ekor, dan menurun menjadi 1 juta ekor pada 2013.

“Jika tidak ada daerah yang berani mengambil inisiasi untuk melakukan pembenahan ternak Kerbau dan mendorong populasi Kerbau, bisa saja ternak asli Indonesia ini bisa terus menyusut populasinya dan bisa terancam punah dalam beberapa dekade ke depan,”katanya.

Ia mengakui, tradisi budaya masyarakat di beberapa daerah yang masih menggunakan ternak Kerbau, menjadi salah satu hal yang mempertahankan populasi Kerbau di Indonesia.

Misalnya saja, Barapan Kerbau di Sumbawa, prosesi adat di Sulawesi Selatan, dan juga budaya belis perkawinan di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Padahal jika ternak ini dikembangkan dengan baik, bukan saja membawa nilai ekonomi tinggi untuk masyarakat peternak, tetapi juga bisa memenuhi kebutuhan daging nasional,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Budi Septiani mengatakan, meski sudah menggalakan program Bumi Sejuta Sapi (BSS) sejak 2009, namun Pemrov NTB mendukung upaya pengembangan ternak Kerbau di Sumbawa.

“Harus disadari bersama bahwa kebutuhan daging dan upaya menuju swasembada daging itu bukan hanya daging Sapi semata, tetapi juga termasuk Kerbau dan Kambing. Pemprov NTB sejak 2013 lalu mulai mendorong peternakan berbasis potensi, artinya kalau potensi Kerbau cukup bagus di Sumbawa maka Pemprov akan support,” katanya.

Budi membenarkan, jumlah populasi Kerbau di NTB yang berkisar 80 ribu hingga 95 ribu ekor merupakan populasi terbesar ke enam secara nasional.

NTB juga termasuk salah satu dari sedikit Provinsi sentra bibit Kerbau. Hanya saja, karena populasi yang terus menurun, sejak 2012 lalu NTB mulai menolak permintaan bibit Kerbau dari Provinsi lain, meskipun rata-rata hanya berkisar 140 ekor per tahun.

“Kalau ternak Sapi, NTB masih merupakan sentra bibit, dimana kita memenuhi 17 ribu ekor, dari kebutuhan bibit nasional yang mencaai 28 ribu ekor. Populasi Sapi NTB juga sudah lebih dari 1 juta, yakni tercatat 1.271.886 ekor, yang tersebar di Lombok dan Sumbawa,”katanya.***

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x