Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Peraih Pin Emas Pegiat Ketahanan Keluarga 2019" dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Konsultan Keluarga di Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menikah, Tak Sekadar Soal Cinta, namun Soal Takwa

7 Agustus 2023   22:32 Diperbarui: 7 Agustus 2023   22:35 798
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suatu hari, seorang lelaki curhat kepada Umar bin Khaththab. Ia merasa, cintanya kepada sang istri telah memudar. Semakin tipis bahkan habis. Untuk itu, ia bermaksud menceraikannya.

Umar bin Khaththab menasihati lelaki tersebut. "Sungguh jelek (niatmu). Apakah semua rumah tangga (hanya) terbina dengan cinta? Di mana takwa dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya?" ujar Umar.

"Bukankah kalian sebagai sepasang suami istri telah saling bercampur; dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat?" ungkap Umar.

Allah telah berfirman, "Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat" (QS. An-Nisa: 21).

Maka, jika Anda mulai merasa cinta kepada pasangan semakin tipis, ingatlah pesan Umar bin Khathab ini. Rumah tangga tidak hanya berjalan dengan cinta. Rumah tangga harus berjalan dengan takwa,  dengan menepati janji, dengan rasa malu kepada Allah.

Karena menikah adalah mitsaqan ghalizha. Menikah adalah komitmen yang sangat besar di sisi-Nya. Menikah adalah realisasi takwa.

.

Kisah di atas dinukil dalam kitab Hasyiyah al-Jamal 'ala Syarh al-Minhaj karya Syaikh Sulaiman al-Bujairami, dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya Abu al-Laits as-Samarqandi, dan dalam kitab Az-Zawajir karya Ibn Hajar al-Haitami.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun