Mohon tunggu...
OtnasusidE
OtnasusidE Mohon Tunggu... Petani - Petani

Menyenangi Politik, Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pempek, Covid 19 dan Seleksi Alam

22 Juni 2020   02:02 Diperbarui: 22 Juni 2020   02:37 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Cintailah perempuan itu apa adanya. Cintailah kecantikannya dulu dan sekarang. Cintailah kekerasan kepalanya dengan kesabaran super hampir tak bertepi. Cintailah juga kebiasaannya kala dia sedang bermasalah atau tertekan.

Perempuan itu kini terdiam di pojok kamar. Badai informasi menghantamnya. Jenazah diduga Covid 19 diambil paksa oleh keluarga. Warga yang menolak rapid tes Covid 19. Bahkan pasar tradisional pun sudah ramai. Car free day  pun tak terbendung tak berjarak. Covid 19 adalah konspirasi.

Perempuan itu trauma. Trauma melihat kematian yang semestinya tidak perlu terjadi.

Pandemi Covid 19 bisa disembuhkan. Kalau jaga jarak diabaikan maka bermasker dan kebiasaan hidup sehat akan berkurang efeknya untuk mencegah penularan Covid 19, apalagi untuk memutus mata rantainya. Jauh.

Masihkah akan menyalahkan pemerintah? Ataukah kita yang sombong dan juga bebal dengan penyakit? Semua media sudah menjelaskan mengenai bahaya dan cara pencegahan Covid 19. Gugus tugas pun sudah jungkir balik untuk propaganda. Nambah jubir cantik sudah. Barangkali, menjatuhkan selebaran mengenai bahaya dan cara pencegahan Covid 19 yang belum dilakukan.

Perempuan itu masih terdiam di pojokan. Kuku jempol tangannya digigiti. Sebuah kebiasaan kalau dia sedang dalam tekanan.
Sebuah kebiasaan yang selalu diingatkan oleh lakinya kalau kebiasaan itu berbahaya. Apalagi kalau dia sedang berada di IGD. Penularan yang tak sengaja bisa terjadi karena kebiasaan buruk.

Lakinya terenyuh dengan pemandangan itu. Tidak mau mengganggu pergulatan batin sang perempuan, sang lelaki memilih diam dan memandanginya dengan penuh kasih.

Sang lelaki lalu keluar kamar, dan meminta tiga anaknya untuk tidak mengganggu ibu. "Gak mau kan kena samber Ibu!". Ketiga anaknya yang sudah meranjak remaja itu sudah tahu dengan peringatan tersebut, jangan sampai kena samber alias kena marah yang sebenarnya gak perlu.

Air dingin dikulkas masih ada. Pempek kiriman dari Palembang masih ada di kulkas stok makanan. Pempek dikeluarkan dan kompor dinyalakan. Goreng 100 biji.

Bau pempek goreng yang khas dan cuka yang dipanaskan membuat hidung anak-anak yang ada di teras pun merangsek ke dapur. Tanpa komando, mereka sudah tahu tugasnya, Sulung mengambil piring, dan pempek yang sudah digoreng dibagi-bagi dalam piring. Bude yang kurang suka pempek juga dibagi, dan biasanya jatah lebihnya akan diberikan oleh Bude untuk bungsu sang anak asuh.

Air dingin, sepiring pempek berisi 25 biji, dua mangkuk cuka pun masuk ke kamar. Baunya menggoda. Sang perempuan pun menoleh. Tanpa banyak kata terjadi perlombaan makan pempek. Pempek yang panas itu dicelup ke cuka, digigit dan cukanya diteguk. Tandas kurang dari 30 menit.

Sang lelaki masih belum berani membuka pembicaraan. Pedasnya cuka. Membuat keringat keluar dari jidat.

"Terima kasih," itulah kalimat yang pertama kali terucap setelah kutemukan perempuan itu tiga jam lalu di pojokan kamar. Sebuah kebiasaan lama, menenangkan diri di pojokan. Dulu dia juga begitu ketika masih gadis dan berjaga di IGD. Sumpah untuk menolong sesama itu yang dia pegang dan junjung tinggi.

Tembus seribu kasus baru dalam beberapa hari terakhir. Dan itu berulang. Sungguh berat itu. Beberapa temannya yang berhubungan langsung dengan pasien positif Covid 19 juga ada yang positif.

"Itu nyata ayah. Kenapa orang masih saja ada yang menyangkalnya. Itu nyata. Itu nyata," katanya terbata.

Menangislah perempuan itu. Kembali menjadi shoulder to cry on. Entah karena dulu nih perempuan gemar dengerin lagu-lagu barat atau karena memang kebiasaannya. Kalau lagi dapat trouble di pekerjaannya selalu minta peluk dan menyandarkan kepala di pundak lakinya.

Bohongkan kalau mereka tidak tahu. Lah, temanku yang sedang menjaga ayam dan ikan di dusun di Bukit Barisan Sumatra saja tahu kok.
Lalu masalahnya di mana? Tidak lain dan tidak bukan hanya masalah popularitas yang berujung entah ke mana. Orang yang melawan arus utama di zaman serba daring ini tentu akan trending atau viral.

Persoalan lainnya adalah orang seluruh dunia bicara mengenai bahaya Covid 19 tetapi tiba-tiba ada orang bilang itu tidak berbahaya. Apakah orang di seluruh dunia yang sudah sekolah dan belajar serta memiliki peralatan yang canggih untuk penelitian tetiba menjadi tak berarti oleh segelintir orang yang keilmuannya dan kompetensinya patut dipertanyakan.

Jejak-jejak pandemi seperti black death (lebih dari 100 juta tewas), plague, cacar air, kolera, yang memakan banyak korban di seluruh dunia terdokumentasi dengan baik. Bahkan ditulis di beberapa buku dan jurnal ilmiah.  

Lalu kubisikkan di telinga perempuan itu, "ah sudahlah. Alam sedang mencari keseimbangannya. Kau dan aku akan menjadi nahkoda bersama untuk tiga anak kita mengarungi seleksi alam yang maha dahsyat di abad ini."

Kukecup keningnya dan seperti biasa, "semua akan baik-baik saja. Sama ketika kita mengalami kesulitan demi kesulitan dalam hidup ini. Aku mencintaimu apa adanya."

Dalam hati berdoa pada Sang Pemberi Kehidupan, "semoga tidak termasuk seleksi alam yang gugur di Pandemi Covid 19". Semoga.

Salam Kompal

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun