OtnasusidE
OtnasusidE Petani

Menyenangi Politik, Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Skripsi, Disertasi, dan Pemilu Serentak

16 Mei 2019   11:38 Diperbarui: 16 Mei 2019   13:21 168 13 5
Skripsi, Disertasi, dan Pemilu Serentak
Suasana usai rapat pleno di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Selatan, Senin (13/5/2019). Dari hasil rapat tersebut, Capres 02 berhasil unggul di 16 Kabupaten/kota Sumatera Selatan. (KOMPAS.com/AJI YK PUTRA)

Dulu sekali ketika masih kuliah dan sedang menyelesaikan skripsi, awak dibuat kalang kabut. Pasalnya awak diultimatum ubak dan umak di dusun kalau semester ini tidak lulus alias tidak selesai kuliah, ubak dan umak tak kirim wesel lagi untuk bayar kuliah. Hampir lima tahun dan bisa jadi awak mahasiswa abadi.

Walau untuk sehari-hari, makan sudah aman karena kerja sambilan, bantu-bantu di sebuah lembaga di universitas tetapi masih butuh pula kiriman dari dusun untuk jaga-jaga. Kerja serabutan apa saja yang penting bisa bertahan hidup.

Untungnya awak dulu tidak pernah menyalahkan pemerintah, dulu Orde Baru. Tak malu kerja di kampus. Nyapu kantor ataupun terkadang membelikan nasi bungkus untuk dosen-dosen. Semua masih naik angkot dan juga ditambah jalan kaki. Belum ada go food dulu.

Untungnya, aku di lembaga bertemu dengan dosen-dosen yang baik hati dan mau berdiskusi apa saja. Mau pula meminjamkan buku-bukunya mengenai politik dan kebijakan publik serta kesehatan. Buku yang membuatku tertarik kufotokopi. Sosiologi, antropologi, politik, kebijakan publik dan public health adalah buku-buku yang membuatku gila. Semuanya dalam Bahasa Inggris.

Ketika membuat skripsi awak diizinkan kepala lembaga, menggunakan komputer lembaga dengan catatan kertas bawa sendiri kalau mau ngeprint. Komputer itu barang mahal. Bisa ngetik pakai komputer dulu itu sebuah kemewahan.

Berjibaku di lapangan untuk pengambilan data kualitatif dan juga data sekunder. Beruntung pula buku-buku yang kusukai ternyata banyak pula yang mendukung penelitian. Walau Inggrisku patah-patah tetapi makna dari tulisan itu masih bisa diterjemahkan. Khusus untuk kasus-kasus tertentu terus terang aku minta tolong dengan dosen-dosen yang baik hati itu untuk memeriksa terjemahanku.

Ujian skripsi akhirnya kujalani. Ada dua dosen penguji yang menanyakan mengenai buku-buku yang kukutip. Apakah benar buku itu ada atau aku hanya mengutip dari buku orang lain dan seolah-olah aku yang baca buku tersebut. Buku-buku yang kukutip kemudian ditanya keberadaannya. Bila di rumah/kost, akupun diberi waktu untuk mengambilnya.

Beruntung, sehari sebelum ujian skripsi, buku-buku dan data-data penelitian skripsi kusimpan di lembaga. Bahkan waktu itu, aku dikasih pinjam oleh lembaga untuk memakai notebook yang ada trackball sebelum mouse ada untuk mengetik dan menyimpan data penelitian skripsiku.

Rapat Pleno KPU Kabupaten/Kota di Bukit Barisan Sumatra. Foto: OtnasusidE
Rapat Pleno KPU Kabupaten/Kota di Bukit Barisan Sumatra. Foto: OtnasusidE
Halaman yang kukutip dalam skripsi sudah kutandai. Dan boom. Mereka tertawa semua ketika kutunjukkan semua data dan buku yang kukutip. Aku tersenyum kecut. Dah, habis sudah. Nggak lulus ini. Uang semesteran bakal bayar lagi ini.

"Ini baru jujur," kata salah seorang dosen penguji. Ternyata mereka hanya ingin melihat kejujuran mahasiswanya yang mendekati proses menjadi mahasiswa abadi.

Belasan tahun ke depan. Di jenjang S3, seorang ibu beranak tiga harus membuktikan dirinya di depan profesor untuk menghitung jumlah sampel yang harus diambilnya untuk disertasi. Penghitungan manual itu sebenarnya hanyalah filter dari profesor, apakah benar ibu beranak tiga ini yang membuat disertasinya atau ada orang lain yang membuatkannya.

Si ibu beranak tiga pun bisa membuktikan dan dia pun lulus dengan indeks prestasi yang sangat mengejutkan. Betul ada perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai semua itu. Jujur, betul memang dilakukan sendiri dan datanya ada.

Baru-baru ini. Inilah yang menyebabkan saya berhenti sebentar menulis di Kompasiana, saya diminta oleh seorang teman untuk membantunya dalam Pileg.

Setelah Pileg saya pun diminta untuk mengumpulkan C1 di setiap TPS. Satu yang bikin kepalaku sakit adalah, setelah Pileg dan Pilpres ternyata ada TPS yang belum selesai menghitung, walau waktu sudah berjalan 24 jam lebih. Sungguh ini membuatku menjadi terpana, ternganga, dan terpaku.

Mereka berjuang dalam semua keterbatasan. Mereka berjuang untuk jujur untuk dapat menyelesaikan semua perhitungan dengan disaksikan oleh seluruh saksi, serta Panwaslu. Mereka transparan dan terbuka. Entah sudah berapa gelas kopi diteguk untuk memelototkan mata agar klop menghitung suara pemilih. Bukan hanya suara sah dan tak sah, tetapi juga jenis kelamin, itu yang membuat temanku yang petugas KPPS pucat pasi kelelahan ketika memberikan salinan C1.

Setelah C1 terkumpul. Pleno di tingkat kecamatan pun harus pula diikuti. Ada kecamatan yang cepat. Ada pula yang lambat karena memang besar mata pilihnya.

Bagi yang tak punya saksi di setiap TPS, selamat berprasangka. Bagi yang punya, tinggal mencocokkan saja data C1nya. Ada Panwascam yang terkadang menyela untuk menanyakan kebenaran ataupun saksi yang menyela untuk mengulangi data yang disebutkan oleh KPU dalam sidang pleno.

Setelah semua kecamatan selesai sidang Pleno. Eh, beberapa hari kemudian si teman ini masih pula bilang tolong suara dijaga hingga ke tingkat kabupaten/kota.

Mo apa lagi, ya ikuti saja. Sidang pleno tingkat kabupaten/kota mulai pukul 09.00 dan selesai 03.38 dini hari. Apa badan nggak melayang terbang. Kopi pun dihajar sebagai pengusir kantuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2