Mohon tunggu...
SANTOSO Mahargono
SANTOSO Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan - Penggemar Puisi, Cerpen, Pentigraf, Jalan sehat, Lari-lari dan Gowes

Pada mulanya cinta adalah puisi. Baitnya dipetik dari hati yang berbunga

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Berbicara dengan Kuntum Mawar

14 Juli 2021   21:46 Diperbarui: 19 Juli 2021   22:50 541
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi bermain di taman bunga. (sumber: unsplash.com/@alvannee)

Tiba-tiba saja kehidupanku berubah. Biasanya acuh terhadap tanaman dan ragam bunga di rumah, tapi kali ini timbul keinginan merawatnya. Bahkan mulai iseng ingin punya tanaman sendiri dan merawatnya sendiri. 

Mulanya hal ini menjadi sesuatu yang aneh bagi istriku. Namun melihat ketekunan dan kegigihanku, akhirnya istriku terbiasa.

Aku ingin merawat kuntum mawar. Selain lebih mudah, ternyata mawar hanya butuh lokasi yang cerah, penyiraman rutin pagi dan siang. Benarkah? ternyata tidak demikian. Buktinya sudah dua kali ini aku mengalami kegagalan.

"Sudahlah mas, jangan menanam kuntum mawar lagi, nanti mati lagi seperti kemarin" sergah istriku.
"Ya namanya juga usaha dik, kalau tanam lagi" balasku seraya memindahkan kuntum mawar dari polibag ke pot yang baru.
"Merawat tanaman lainnya kan juga bisa, misalnya melati atau bunga mahkota" saran istriku.

Aku terdiam, hatiku masih yakin kali ini akan berhasil. Kulanjutkan menanam kuntum mawar ini. Sementara istriku hanya duduk sambil mengelus-elus perutnya.

"Apa sih mas menariknya bunga mawar?" tiba-tiba istriku menyodorkan pertanyaan.
"Gimana ya dik, cantik sih, seperti kamu" godaku.
"Gombal" balasnya.
"Habisnya gak ada yang cantik lagi di rumah ini selain kamu seorang"
"Maksud mas?"
"Oh, maaf dik"

Istriku tertunduk. Aku keceplosan. Memang tak ada yang cantik di rumah ini selain dia. Istriku telah lama mengidamkan anak perempuan. Namun rasanya jauh sulit. 

Usia perkawinan sudah lima tahun. Belum ada tanda-tanda kehamilan. Terkadang memikirkan kehamilan seperti takdir yang tak memihak. Kalau pasangan lain bisa punya anak mengapa aku tidak? 

Ah, lupakan saja. Istriku bangkit dan masuk kamar. Selalu begitu ketika aku keceplosan menyentil soal anak meski tak secara langsung.

-----*****-----

Selama seminggu merawat kuntum mawar belum nampak hasil yang menggembirakan. Padahal setiap pagi dan sore sudah rutin menyiramnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun