Mohon tunggu...
Santoso Mahargono
Santoso Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan

Manusia biasa yang ingin selalu belajar, suka membaca, menulis puisi dan menghimpun kata.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Rumahku

12 Juni 2019   15:58 Diperbarui: 12 Juni 2019   16:33 0 4 1 Mohon Tunggu...
Rumahku
scontent-lga3-1.cdninstagram.com

Hampir sepuluh tahun aku tidak pulang kampung, nasib sebagai perantau kadangkala kurang beruntung, apalagi anakku mulai pandai berhitung, yang penting komunikasi dengan orang tua tetap terhubung.

Selama perjalanan pulang, istri dan anakku senang, mereka sedang melukis bayang-bayang. Istriku sedang mengingat ranjang, berikut atap rumah yang berlubang, melupakan angkutan desa yang melaju hingga ujung gang. Kita segera turun dan melenggang.

Sore itu kita berjalan saja hingga ke rumah, tubuhku ditindih barang bawaan yang menjajah, sambil melangkah aku harus mengalah, membiarkan anak dan istri bebas melangkah, sambil terus mengamati rumah-rumah, banyak rumah baru yang megah-megah.

Beberapa orang lama menyapa, beberapa orang baru memandang tanya, terdengar pula suara anjing penjaga, serta langkah sandal jepit kita. Rupanya gang ini sudah berubah rupa. 

Sampai di depan rumah, anakku terperangah, "Pak, yang inikah? Apa bukan yang sebelah?"

"Bukan nak, itu terlalu mewah, ini rumah ayah!" Pintu gubug pinggir sawah mulai kubuka ruah, terlihat ranjang berkasur merah, serta atap yang berlubang tengah. Bapak ibu mengulum senyum renyah, tangannya menjulur murah, membuat anakku berhenti melangkah, membakar lukisan bayang rumah, saat senja ditepi sawah.

Malang, 12 Juni 2019
Kadangkala bayangan ayah dan anak berbeda, dan memang apa yang dialami ayah dan anak TIDAK BOLEH sama.

 
 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x