Olive Bendon
Olive Bendon Travel Blogger

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. menitipkan jejak di Olive's Journey dan Perempuan Keumala

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Borok di Kaki Patung Yesus Memberkati Toraja

4 Januari 2018   12:32 Diperbarui: 4 Januari 2018   16:57 6884 5 2
Borok di Kaki Patung Yesus Memberkati Toraja
Patung Yesus Memberkati, ikon wisata religi baru di Toraja (dok. koleksi pribadi)

Promosi Rafly, sopir yang menjemput kami di Bandara Hasanuddin, Makassar, tentang kehadiran jembatan kaca di pelataran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake menggoda kami untuk memintanya membelokkan kendaraan ke Buntu Burake sesaat setelah kendaraan kami memasuki Toraja. Dalam perjalanan menanjak ke puncak bukit, saya mulai membayangkan rupa jembatan kaca yang digambarkan oleh Rafly -berdasarkan berita yang banyak beredar- akan menyerupai Zhangjiajie Skywalk di Hunan, Cina.

Ide pembangunan patung Yesus Memberkati datang dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, menyusul kehadiran salib raksasa di Bukit Singki', Rantepao, Toraja Utara, yang diresmikan pada Desember 2012 lalu. Destinasi wisata religi Patung Yesus Memberkati berada di ketinggian 1500 mdpl dan mulai dibuka untuk umum pada pertengahan 2015. Patung setinggi 40 meter yang berdiri di puncak bukit adalah hasil karya permatung asal Bantul, Yogyakarta; Hardo Wardoyo Suarto. Pembangunan kawasan wisata religi Patung Yesus Memberkati pada 2014 menghabiskan biaya 30 miliar. Pada awal 2016 kawasan ini sempat ditutup karena pemugaran serta pemugarannya tersangkut proyek fiktif dalam penyelidikan Kejaksaan Negeri Toraja.

Akhir 2017, kawasan wisata religi Patung Yesus Memberkati kembali mengalami pemugaran untuk menambah jembatan kaca sebagai pelataran pandang di kaki patung serta perbaikan beberapa sarana di sekitarnya. Kami datang tiga hari jelang hari natal ketika beberapa tukang masih terlihat asik bekerja dan pengunjung yang datang petang itu pun tak kalah seru bergambar di sekitar mereka.

Para pengunjung itu tak peduli meski menyeberangi pita pembatas dan berdiri di tempat yang tak boleh dilintasi pengunjung karena masih dalam tahap konstruksi. Tapi, tuntutan eksistensi membuat mereka melupakan keamanan diri sehingga beberapa di antaranya bebas bersandar, bahkan mencoba duduk di pagar besi yang belum terpasang sempurna dan masih menampakkan bekas las di sana sini. Anak-anak lepas dari orang tuanya yang asik bergambar sendiri, menikmati kebebasannya berlarian ke sana kemari di pelataran yang tak dipasangi pembatas yang aman.

Pengunjung asik bergambar di pelataran kaki patung Yesus Memberkati di Buntu Burake, Toraja (dok. koleksi pribadi)
Pengunjung asik bergambar di pelataran kaki patung Yesus Memberkati di Buntu Burake, Toraja (dok. koleksi pribadi)

Melihat dan memperhatikan kondisi di kawasan wisata religi Patung Yesus Memberkati saat ini, beberapa pengunjung yang peka dan peduli terhadap suasana di  sekelilingnya; mengunggah gambar dan uneg-uneg di media sosial mereka. Di akun facebooknya, Tommy Ekamitra mengunggah beberapa gambar yang  memperlihatkan konstruksi jembatan kaca di pelataran Patung Yesus  Memberkati. Tak sekadar mengunggah gambar, pada setiap gambar tersebut, Tommy, dosen Politeknik Negeri Samarinda ini dengan senang hati  menambahkan keterangan sebagai masukan yang perlu mendapat perhatian  serius dari PT Mari Bangun Persada, kontraktor pelaksana penataan  kawasan wisata Buntu Burake serta pemerintah kabupaten Tana Toraja seperti pada gambar berikut.

Sedikit masukan kepada rekan seprofesi yang mengerjakan konstruksi icon Toraja di Burake! Beberapa gambar dan coment di bawahnya untuk menggambarkan kondisi hingga saat tgl 25 Des 2017 - Tommy Ekamitra

sumber gambar: https://web.facebook.com/tommy.ekamitra
sumber gambar: https://web.facebook.com/tommy.ekamitra

Keterangan gambar: 1. Tanah pondasi ini perlu diperiksa geologist utk mengetahui ada tidaknya rekahan dalam batu. Kalau ada retak rekahan maka perlu segera digrouting dengan semen. Jika tdk, rawan runtuh sekuat apapun struktur pondasinya. 2. Semoga penglihatan saya yang keliru. Tiang ini sepertinya miring (Tommy Ekamitra)

sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra
sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra

Keterangan gambar: 3. Baut baut ini dipasang terlalu dekat dari tepi ujung. Lubang lubang baut rawan robek. Menurut pedoman bangunan baja, jarak minimal 1,5 x diameter baut. 4.  Untuk safety! Mestinya pagar ini dari besi masif atau besi pejal bukan dari baja ringan yang las-lasannya mudah robek (Tommy Ekamitra)

sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra
sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra

Keterangan gambar: 5. Beberapa las sudut tdk layak. Contohnya gambar di atas. Las las ini banyak rongga. Perlu pengawas las yg juga mantan juru las lebih bagus yg bersertifikat. 6. Plat sambungan ini untuk apa? Kalau memang girder ini disambung, 4 lubang itu untuk apa? Las pasak tidak selesai? Atau plat bekas? (Tommy Ekamitra)

sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra
sumber gambar https://web.facebook.com/tommy.ekamitra

Keterangan gambar: 7. Ini harus jadi tumpuan jepit. Semoga baut baut angker yang mengikat balok girder dan kolom beton ada dan kualitas serta ukuran baut benar. 8. Kalau ini tembok penahan gravitasi. Lebar bawahnya perlu ditambah biar lebih berat. Atau kalau mau setipis ini, diberi kolom beton bertulang per jarak 4 m (Tommy Ekamitra)

Meski kawasan wisata yang berada pada ketinggian 1500 mdpl ini sedang dipugar, pengelola tetap membuka dan membebaskan pengunjung mengitari tempat - tempat yang mereka senangi sesuka hati. Tak ada rambu - rambu peringatan untuk berhati-hati, tak ada tempat sampah, ruang toilet yang disediakan pintunya lebih banyak terkunci rapat dan tak tersedia air bersih, bahkan di warung-warung darurat penjual souvenir dan jajanan di dalam area wisata menyediaan toilet darurat tandingan!

Jika pemerintah kabupaten Tana Toraja cukup bijak menangapi dan menyikapi masukan dari pengunjung yang cukup memahami permasalahan dan kondisi di lapangan, ada baiknya  pekerjaan tersebut dihentikan dahulu untuk diaudit oleh pihak yang  berkompeten. Ini semacam borok yang harus segera dihentikan penularannya agar ke depan ketika pengunjung tumpah di pelataran di kaki patung Yesus, tak terjadi hal-hal yang merugikan keselamatan pengunjung.

Targetnya, pengerjaan penataan kawasan wisata religi Buntu Burake ini dikerjaan selama 120 hari kalender dengan dana 3,9 miliar namun sampai hari ini jembatan kaca yang akan menjadi kebanggaan Toraja itu belum terlihat terpasang di sana. Padahal menurut kabar yang beredar sejak pertengahan tahun 2017 lalu, rencananya, destinasi wisata religi Patung Yesus Memberkati diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo yang ternyata tak jadi berkunjung ke Toraja pada Desember 2017 lalu.

Pemugaran pelataran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake (dok. koleksi pribadi)
Pemugaran pelataran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake (dok. koleksi pribadi)

Kehadiran Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake sebagai ikon baru wisata religi di Tana Toraja, menambah daftar destinasi yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Toraja. Namun, tingginya minat wisatawan untuk berkunjung ke Buntu Burake perlu mendapat perhatian serius pengelola wisata untuk menghadirkan tempat wisata yang aman dan nyaman bagi pengunjung bukan sekadar dijadikan kebanggaan karena banyaknya wisatawan yang berkunjung. Tentu saja pengunjung pun diharapkan untuk menjaga kebersihan dan menaati peraturan yang berlaku di setiap destinasi wisata dimana pun yang dikunjungi, saleum [oli3ve].