Oktavia Wijaya
Oktavia Wijaya

Travel Enthusiast // www.aivatko.com

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Cerita dari Balik Panggung Opening Ceremony Asian Games 2018

5 Oktober 2018   16:59 Diperbarui: 8 Oktober 2018   09:17 2649 5 2
Cerita dari Balik Panggung Opening Ceremony Asian Games 2018
All Ceremony Departement Volunteers| Dokumentasi pribadi

Aku menjadi satu dari jutaan orang yang haru dan bangga melihat Opening Ceremony Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta pada waktu itu.

Acara semalam bukan hanya euforia pembukaan Asian Games saja, tapi juga menjadi hasil dari usaha kami, team Ceremony Departement dan semua talent yang terlibat. Hasil kerja keras kami selama berbulan-bulan itulah yang semalam disuguhkan kepada seluruh masyarakat di dunia.

Banyak sekali apresiasi yang muncul mengenai Opening Ceremony Asian Games, tetapi tak jarang juga yang berkomentar negatif mengenai itu.

"Ah yang bagus kembang apinya doang."
"Oh gitu doang? Gak rugi ya yang beli tiket 5 juta?"
"Halah itu pake stuntman doang juga dipuji-puji bagus."

Komentar-komentar itulah yang membuatku ingin menuliskan sebuah cerita dari balik panggung Opening Ceremony Asian Games 2018. Ini adalah cerita dari seseorang yang hanya volunteer, hanya orang biasa yang ingin berkontribusi nyata pada bangsa, dari ribuan orang hebat yang ada di sini.

Tergabung di Ceremony Departement Asian Games 2018, aku menjadi volunteer di costume/wardrobe bagi para dancer yang berlaga malam kemarin. Ribuan dancer itu terbagi ke dalam beberapa kelompok yaitu "Earth" yang memakai baju adat tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, "Energy" yang terdiri dari fire dancer dan kostum putih saat closing, juga kurang lebih 1500 penari Ratoeh Jaroe. Kerjaannya di bagian ini apa ya? Fitting doang?

Team PETRA! | Dokumentasi pribadi
Team PETRA! | Dokumentasi pribadi
Semua kostum penari ini, dibuat dari nol. Dari semua berbentuk kain, sampai menjadi baju yang kita semua saksikan semalam. Sejak kurang lebih 3-4 bulan yang lalu, beberapa penjahit bekerja keras seharian membuat ribuan kostum ini. Kami para volunteer juga ikut membuat kostum-kostum tersebut. Kostum dan head piece, semuanya dibuat handmade. 

Salah satunya topi yang terlihat seperti api yang berkobar itu, dibuat dari mulai memotong-motong kain meteran, kemudian dipotong lebih kecil lagi menjadi kotak, dibentuk seperti bunga, dijahit, dan dirangkai satu-satu sehingga menjadi sebuah head piece.

Ratusan rak berjajar di ruangan kami, setiap orang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Setiap stel kostum harus diberikan nama, semua aksesoris harus dimasukan ke plastik dan diberi nama, pokoknya semua harus rapi dan jangan sampai ada yang kurang. 

Setiap rak harus diberi nama, dibawa ke ruangan fitting, kemudian diperbaiki lagi yang masih kurang. Semua harus dipastikan rapi, harus pas dengan badan penari, harus hati-hati, tidak boleh ada yang sobek ataupun kurang. Semua harus dikerjakan dengan cepat dan cekatan plus instruksi berbahasa inggris yang terkadang membuat kami bingung.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Tapi terima kasih untuk keseruan selama menjadi volunteer. Semua volunteer dari yang tadinya gak kenal jadi kenal, dari yang awalnya gak ngerti sama sekali tentang gimana cara bikin kostum buat event segede ini jadi ngerti dan terbiasa, dari yang biasanya loading kalo dikasih instruksi jadi gercep dan langsung ngerti. Semangat memang naik turun, kesibukan kami juga beda-beda, tapi pas menjelang hari-H semuanya kompak. Semuanya sama-sama capek, kena omel, pegel, tapi kebayar lunas pas liat Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin.

Di malam pembukan Asian Games 2018, adalah hari di mana usaha kita selama berbulan-bulan ini akan ditunjukan kepada seluruh dunia. Haru dan bangga malam itu. Terharu melihat hasil keringat kita semua disambut dengan meriah, dan bangga karena aku menjadi bagian dari acara keren ini. 

Dengan berkolaborasi, Indonesia bisa membuat acara yang menjadi trending topic di dunia. Acara yang memperlihatkan keindahan dan kekayaan Indonesia, acara yang memberikan pelajaran mengenai persatuan bangsa, dan acara yang menunjukan bahwa karya anak bangsa bisa dipuji banyak orang di dunia.

Bayaran termahal bagi seorang volunteer adalah keberhasilan dari apa yang dia kerjakan. Ketika ada apresiasi positif kepada karya kami, that means a lot for us! Menjadi volunteer adalah soal keikhlasan membantu dan berkontribusi, bukan tentang meraih keuntungan yang banyak secara materi. 

Kenapa negara lain memuji Opening Ceremony ini sedangkan di Indonesia sendiri masih ada yang tidak mengapresiasinya? Kenapa harus mencari celah salah dan mengkritisi acara ini hanya karena beda pandangan politik? Tidak bisakah kita menikmati acara ini sebagai Indonesia? Sebagai bangsa yang bersatu dan menjunjung Bhinneka Tunggal Ika?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2