Mohon tunggu...
Okky Putri Rahayu
Okky Putri Rahayu Mohon Tunggu... Ngeblog saat senggang

Pernah belajar mencampur larutan kimia, kini lebih suka mencampur kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Menunggu Matinya Siti

1 Juni 2020   10:28 Diperbarui: 2 Juni 2020   00:02 274 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Menunggu Matinya Siti
ilustrasi sembunyi dari kenyataan. (sumber: pixabay)

Sudah satu minggu ini kampungku berubah sepi. Semua orang kini mengunci diri di dalam rumah masing-masing. Tak ada satupun orang yang keluar dari rumahnya, kecuali para bapak-bapak yang bergantian patroli keliling desa.

Aku sendiri juga seminggu ini menahan bosan karena tidak pergi ke warung kopi. Rasanya mulutku gatal ingin mengobrol soal pemeran utama di film bokep kesukaanku dengan Lek Paimo, si pemilik warung. Sebuah obrolan yang menjadi tiket bagiku untuk bisa dapat segelas kopi tanpa perlu bayar. Belum lagi jika aku menunjukkan videonya ke Lek Paimo, aku bisa menjarah apapun di warungnya.

Tapi belakangan, semua warga ketakutan. Termasuk Bapakku yang menjadi galak jika ada siapapun yang melangkah keluar rumah selain dia. Sebab, hanya Bapak yang boleh keluar untuk keperluan patroli atau mengambil persediaan beras dan sayur di balai desa. 

Aku, ibu dan adek perempuanku seperti tawanan di rumah kami sendiri. Jika melanggar, maka Bapak tak akan segan menghajar. Sejujurnya, pernah suatu hari aku mengendap-endap keluar, dan setelah itu, Bapak memukul kakiku dengan sapu.

Aku sendiri heran dengan kekompakan seluruh kepala keluarga di kampung ini. Merekalah yang memutuskan gerakan mengunci diri di rumah. Mereka juga mengatur pembagian sembako dan sayur mayur hingga kebutuhan pokok lainnya. Dalam proses berdiam diri di rumah itu, para bapak-bapak memastikan bahwa tak ada yang kekurangan makanan. Dan tetap aman di dalam rumah.

Sikap itu tentunya bukan tanpa sebab. Semua itu bermula ketika Siti, janda kembang yang pergi merantau jadi pembantu di Batam pulang. Warga mendadak ketakutan saat melihat Siti yang penuh bintil-bintil kemerahan. Bintil-bintil yang memenuhi wajah, tangan dan kaki. 

Menurut cerita yang beredar, Siti tertular penyakit dari orang asing yang berkunjung ke Batam. Warga pun pelan-pelan menjauh dari rumah Siti. Termasuk Ibuku yang bahkan membuang oleh-oleh dari Siti. 

Sejujurnya, ibuku membakarnya. Katanya, itu mengandung virus. Aku sendiri hanya memandangi coklat yang leleh terbakar itu dengan hati yang hancur. Sayang sekali, coklat dari Singapura itu dimusnahkan begitu saja.

Menjadi janda muda memang bukan beban yang ringan. Semua bapak-bapak yang senang melihat Siti dengan kecantikannya, tak sejalan dengan kejijikan para ibu-ibu yang memandang Siti adalah penggoda lelaki orang . Kini ditambah, Siti pulang dengan berpenyakit aneh. Kulitnya penuh bintil, dan hidungnya terus berair. Dia juga sering terlihat mual.

Pernah satu hari, Siti datang ke bidan di kampung kami. Dan semua berawal dari sana. Ketika si bidan menyebut Siti terjangkit virus dari luar negeri.

Usaha Siti pun tak berhenti. Kudengar dari Lek Paimo, Siti juga bahkan berobat ke rumah sakit di kabupaten. Tapi semua memulangkan Siti dengan dalih Siti tidak apa-apa dan penyakitnya tidak bahaya. Lalu mereka memberikan obat alergi dan juga obat lambung. Siti pun kembali ke rumahnya.

Menjadi sebatang kara dan penyakitan, membuat Siti justru semakin dikucilkan. Semua orang menatap ngeri dan jijik pada binti-bintil di kulit Siti yang kian hari kian banyak dan bernanah.

Dan buruknya, ketika anak Pakde Jali tak sengaja ke rumah Siti. Tak lama kemudian, anak Pakde Jali demam tinggi dan dibarengi bintil bintil merah di kulit. Semua orang mulai panik dan menuduh Siti yang tidak-tidak.

Tak berhenti di situ, anak Bu Idah juga mengalami gejala yang sama. Semua anak-anak teman bermain anak Bu Idah juga. Para orang tua lalu berbondong-bondong membawa anaknya ke bidan.

Dan bidan menyebut itu hanyalah penyakit cacar. Tak puas dengan jawaban bidan, para ibu membawa anaknya ke Mbah Yarsi. Kepala desa yang juga berprofesi sebagai orang pintar, yang kemudian menyebut bahwa anak-anak tertular virus dari Siti.

Dan itulah mengapa semua warga kini mengunci diri. Sembunyi dari kengerian penyakit Siti yang disebut Mbah Yarsi sebagai sial bagi kampung ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x