Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Si Burung Besi yang Kehilangan Langit

7 Agustus 2020   21:26 Diperbarui: 9 Agustus 2020   06:02 1378 61 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Si Burung Besi yang Kehilangan Langit
Foto: Dokumentasi Pribadi

Parkiran Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Cengkareng begitu sepi saat kami tiba sekira pukul 04.20 pagi tadi. Dari 6 pintu masuk yang tersedia, hanya 1 pintu yang di buka dengan dua petugas yang berjaga.

Tak ada lalu-lintas kendaraan seperti sebelum pandemi. Dari lantai 1 hingga lantai 4 tempat kami parkir, suasana benar-benar kaku aktivitas. Papan informasi yang tergantung pada setiap lantai seakan memberikan kami informasi dan fakta, bahwa situasi sedang tak baik-baik saja. 

Di lantai 1, terpampang jelas jumlah area parkir yang kosong sebanyak 100. Di lantai 2 sedikit lebih turun,85 dan di lantai 3 dan 4 menunjukan angka 200, alias benar-benar kosong.

Kalau pun seandainya punya niat menghitung dari lantai 1 hingga 4, saya rasa kami benar-benar menemukan nilai absolut berapa kendraan yang sedang parkir. Selain itu, tak nampak aktivitas baik penumpang maupun petugas dilapangan.

Jika mampu digambarkan, maka kata yang tepat ialah mencekam. Bukan karena khayalan tentang makhluk halus, jin atau genderuwo yang senang punya tempat baru, melainkan di sini, kematian benar-benar sedang terjadi. Kematian ekonomi.

Dan, memang pemandangan ini sudah tersaji ejak awal perjalanan pada pukul 03.00 pagi tadi, saya memperhatikan. Dua Pintu Tol yang kami lewati menuju Bandara tak seramai sebelum pandemi. Bahkan, jalanan benar-benar sepi. 

Padahal, berdasarkan pengalaman, setiap kali melakukan penerbangan, atau sedang menuju bandara. Waktu-waktu segini ialah waktu terpadat dunia penerbangan. Setiap terminal yang kami lewati benar-benar tak berpenghuni. Burung besi nampak gagah saat take off maupun lending.

Ini sesuatu yang benar-benar menjadi benalu pada diri, mungkin ini pertama kalinya ke Bandara sejak Januari silam. Ini pun karena mengantar seorang kawan yang akan fligt menuju Riau pada pukul 06.00 nanti.

****

Setelah parkir, kami menuju masuk dan menuju counter untuk Cek in. Sepanjang perjalanan, saya seakan-akan sedang bertualang mencari harta karun. Suasana benar-benar sepi. Bangunan megah tempatnya pesawat Garuda dan Citilink ini benar-benar kehilangan pamor. Kehilangan sisi ekslusif.

Lampu-lampu yang redup, kursi-kursi kosong, jalanan yang diberi garis agar tak dilewati menjadi pemandangan absurd. Lapak-lapak pun demikian, baik lapak makanan, survenir dan dll.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN