Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, penulis 2 novel: - Jatuh Bangun Mengejar Sayang - Rindu di Ujung Mimpi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kisah Pencari Sihir

14 September 2018   21:39 Diperbarui: 15 September 2018   04:26 627 15 9
Kisah Pencari Sihir
Sumber ilustrasi: iyakan.com

Kakek berjenggot itu menyilakan saya duduk. Barangkali dia tidak menyangka  kalau saya datang dari luar daerah, berjalan kaki selama tiga hari, ditambah lima jam naik  kuda baru sampai di hadapannya  saat itu.

Saya mengambil posisi di antara dia dan onggokan ranting, dedaunan, dan tulang belulang. Bau kemeyan memadati ruangan. Melihat tampilan fisiknya, mengukuhkan keyakinan bahwa saya tengah  berhadapan dengan penyihir terhebat sejagat.   Jenggotnya panjang, rimbun dan putih. Bulu dada dan tangannya hampir menutupi seluruh  permukaan kulitnya. Baju, celana, sampai lacak pengikat kepalanya serba hitam. Begitu juga gelang, kalung, dan cincin dari akar kayu yang memenuhi lengan, leher, jemarinya yang berkuku panjang melengkung.

"Apa yang bisa saya bantu?" selidiknya setelah saya bersalaman dengannya.

"Harga diri orangtua dan keluarga saya diinjak, Kek."

"Terus?"

"Saya akan menuntut balasan. Supaya pelakunya dibunuh."

"Ow ...! Itu soal gampang. Baru saja orang punya hajad sepertimu meninggalkan tempat ini." Kakek beruban tersebut menjangkau sebuah piring yang berisi tulang belulang. Di antaranya ada yang  seperti iga sapi untuk dibikin sop.

"Ini baru dikeluarkan dari rusuk seseorang atas permintaan  pihak lawannya," ujar tukang sihir tersebut."Setelah benda ini dikeluarkan, pemiliknya akan lumpuh layu dan tak bisa berdiri. Obatnya hanya satu. Yaitu mati. Kecuali dia datang ke sini minta maaf. Kesehatannya akan dikembalikan seperti semula."

Saya mengamatinya dengan seksama. "Luar biasa. Kakek ini benar-benar sakti." Apa yang dikatakan orang bahwa dia sangat hebat memang terbukti. Keyakinan saya terdobrak seratus persen. Orang yang akan saya bunuh, pasti mati.

Sebelumnya saya dapat informasi, dukun profesional ini mampu bertahan hidup di dalam kubur selama  empat puluh hari empat puluh malam. Selama di dalam tanah dia berdoa supaya segala keinginan  pasiennya terkabul melalui tangan dinginnya.

Saya diam dalam hayal. Di mata saya terpapar mayat  lawan berat saya yang telah dikapani, dishalatkan di masjid lantas diantar ke pemakaman. Saya berbisik dalam hati, awas kau nanti, laki-laki keparat!

Ini adalah penyihir ke dua puluh satu yang saya datangi, dalam rangka melampiaskan dendam di dada ini. Kalau tak sampai mati minimal dia gila. Demikian misi yang telah terjadwal dalam angan. Saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk itu, membayar sejumlah yang diminta dukun. Belum lagi ongkos perjalanan dan beberapa pendamping.

"Permisi. Bakar kemeyannya segera kita mulai," kata sang penyihir.

"Silakan, Kek!"

Sambil menaruh benda yang berasal dari getah gaharu tersebut di atas cawan berisi bara api, mulutnya komat-kamit membaca mantra. Asap wangi membumbung ke angkasa.

Kakek bertubuh pendek berkulit legam tersebut berbaring di atas tikar pandan.

Tanpa diminta, isterinya keluar dari kamar, terus menutup tubuh suaminya itu dengan kain putih. Beberapa menit berselang, jasad hidup tersebut bergetar seperti orang kedinginan. Sekira lima menit kemudian, dia mengericau dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Suaranya beda dengan sebelumnya. Sesekali lemah lembut seperti perempuan, lain kali menggelegar bagaikan raja mengeluarkan perintah. Percakapan berlangsung antara dia dan isterinya saja. 

Begitu bangun, sang dukun membuka selimutnya sendiri. Kelihatannya dia kecapean. Sambil meletuk-letuk jemari, mulutnya menguap beberapa kali.

Isterinya berujar, "Ini dia obat yang beliau peroleh." Perempuan tengah baya tersebut menunjuk ke bekas alas tidur suaminya barusan.

Sungguh, gila dan luar biasa. Di sana menancap beraneka ragam onak. Meskipun terbiasa membantu ayah bekerja di kebun atau hutan, saya tak hafal persis duri-duri tersebut berasal dari pohon apa. Hanya ranjau salak yang saya kenal,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3