Mohon tunggu...
Nur Safira Yuni Hana
Nur Safira Yuni Hana Mohon Tunggu... UIN Walisongo Semarang

Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Dampak Kekerasan Verbal terhadap Perkembangan Anak Usia Sekolah

20 April 2021   11:03 Diperbarui: 20 April 2021   11:16 107 2 0 Mohon Tunggu...

Pendidikan anak seringkali tidak lepas dari bentuk kekerasan. Bentuk kekerasan tidak hanya berupa secara fisik atau jasmani tetapi juga terdapat kekerasan secara verbal. Dan kekerasan vebal ini dampaknya lebih buruk dari kekerasan fisik yang jika kita mendapatksn kekaran fisik maka bekasnya terlihata dan bisa di sembuhkan dengan obat-obatan sedangkan kekerasan verbal lukanya tidak terlihat dan membutuhkan waktu pemulihan yang cenderung lama. Kekerasan verbal bisa terjadi kepada siapa saja bahkan kepada anak-anak. Masa kanak-kanak merupakan masa yang peting sebagai pembentukan kepribadian dan perkembangan psikologis anak, anak usia sekolah yaitu anak berusia 6 sanpai 12 tahun. Dan seharusnya anak  mendapatkan perlakuan yang baik, kebutuhan dan hak-haknya terpenuhi. Tetapi sekarang ini banyak di temuai kekerasan-kekerasan terhadap anak yaitu kekerasan berupa fisik maupun kekerasan verbal.   

Pelaku kekerasan verbal ini bisanya dilakukan oleh pihak terdekat si anak seperti orang tua, guru, keluarga, atau orang-orang di lingkungan sekitar sang anak. Kekerasan orang tua kepada anak seperti merendahkan kemampuan sang anak, membadingka anak dengan orang lain, membentak anak, atau melabeli anak dengan hal negatif. Contoh  "Masa kaya gini aja nggak bisa sih? Makanya belajar yang rajin",  atau orang tua yang melabeli sang anak neng hal-hal negatif seperti "Dasar nakal" atau "Anak pemalas" dan label negatif lainnya. Dan jika orang tua terus melabeli atau mencap anak dengan hal-hal negatif  tersebut maka anak akan yakin dengan kebenaran kata-kata tersebut, anak akan beranggapan mereka nakal, pemalas, dan pelabelan-pelabelan yang lain yang sering di lakukan atau di ucapkan oleh orang tua ataupun guru mereka.

Kekerasan verbal yang di lakukan seorang guru pada anak atau peserta didik kurang kebihnya sama seperti kekerasa verbal yang di lakukan orang tua terhadap anak yang membedakan hanyalah tempat mereka mendapatkan kekersan verbal tersebut, jikan seorang guru melakukan kekerasan verbal kepada anak (peserta didik) maka itu pada saat berada di lingkungan sekolah. Kekerasan verbal yang sering dilakukan guru terhadap anak (pesrta didik) adalah membadingkan bandingkan antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain, membentak mereka dengan kata-kata yang kasar atau terkadang juga guru merendahkan kemampuan dari sorang peserta didik. Sebenarya, orang tua maupun guru  memiliki niat baik untuk mendidik. Akan tetapi tanpa disadari oleh mereka penggunaan bahasa dan penyampaian yang tidak tepat dapat menyakiti perasaan anak atau peserta didik. Dan hal inilah yang kemudian berdampak negatif pada perkembangan mental anak.

Kekerasan atau agresi, umumnya didefinisikan dengan menekankan pada bentuk dan tujuan dari perilaku tersebut.  Agresi sebagai bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental. Sedangkan kekerasan verbal (Verbal Abuse) adalah setiap ucapan yang ditunjukan kepada seseorang yang mungkin dianggap merendahkan, tidak sopan, menghina, mengitimidasi, rasist,  homofobik, ageism atau menghujat. Termasuk membuat pernyataan sarkastik, menggunakan nada suara yang merendahkan atau menggunakan keakraban yang berlebihan dan tidak dingginkan (Edo Dwi Cahyo, dkk. 2020). Pengertian lain dari kekerasan verbal adalah kekerasan dari perkataan yang menyebabkan rasa sakit pada perasaan maupun pada psikis (Bonita Mahmud, 2019). Mengucapkan kata-kata yang kasar tanpa menyentuh fisik, seperti mengancam, memfitnah, menghina merupakan contoh-contoh kekerasan verbal. Jika hal ini berlangsung secara terus menerus, maka akan menyebabkan terganggungnya perkembangan pada anak. Beberapa bentuk kekerasan verbal yang sering terjadi pada anak diantaranya mengancam, memfitnah, menghina, membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh anak, dan sebagainya. Jika anak mendapatkan kekerasan verbal secara terus menerus, maka akan menyebabkan terhambatnya perkembangan anak. Anak akan merasa terkucilkan, merasa tidak dibutuhkan, hingga membuat anak menjadi rendah diri. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada aspek perkembangan yang lain.

Kekerasan verbal yang dialami oleh anak pada usia sekolah yang dialami pada lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah akan berakibat atau berdampak pada perkembangan anak atau peserta didik. Perkembangan anak usia sekolah di tunjukan dengan sikap yang selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang selalu diinginkan atau mencapai prestasinya, sehingga anak pada usia sekolah rajin dalam melakukan sesuatu, akan tetapi apabila harapan anak tidak tecapai kemungkinan besar anak akan merasa rendah diri. Anak usia sekolah merupakan anak berusia 6 sampai 12 tahun. Periode ini merupakan periode dimana anak-anak dianggap mulai bertanggungjawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang tua, teman sebaya, dan orang lain. Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu (Livan PH dan Rina Aggraeni, 2018). Upaya orang tua yang biasa terjadi dalam menyelesaikan tugas perkembangan secara optimal yaitu mendidik dan mendisiplinkan anak, dan terkadang metode kekerasan sebagai upaya yang dipilih oleh mereke untuk mendisiplinkan anak. Orang tua mengganggap bahwa kekerasan fisik dan verbal adalah hal yang wajar, terutama pada anak yang dipandang nakal.

Perkembangan anak usia sekolah disebut juga perkembangan masa pertengahan. Masa pertengahan ini ditandai dengan terjadinya perekmbangan fisik, kognitif, dan psikososial. Perkembangan kognitif anak pada usia 6 sampai 12 tahun yaitu berupa anak membutuhkan penjelasan lebih logis dan jelas karena anak usia ini masih mempunyai banyak keterbatasan nalar, sehingga orang tua tidak mudah jengkel bila anak seusia mereka ini begitu kritis dan tidak berhenti bertanya dengan kata "Mengapa?", anak lebih mudah memahami permasalahan dengan visual object, daya ingat anak yang sangat tajam pada saat berada di usia ini, mudah belajar menggunakan logikanya, dan lebih menyukai berkompetisi dengan teman-temannya (Suzie Sugijo Kanto, 2014). Anak pada usia sekolah untuk mencapai perkembangan yang optimal harus dapat menyelesaikan tugas perkembangannya, termasuk perkembangan psikososial. Hambatan mencapai tugas tugas perkembangan psikososial pada satu tahap, dapat menghambat keberhasilan tahap perkembangan-perkembangan berikutnya (Livan PH dan Rina Aggraeni, 2018). Tahap perkembangan psikososial anak usia sekolah menurut teori Erik Erikson adalah pada tahap perkembangan Industry vs inferiorty atau kerajinan dan ketidakmampuan. Pada tahap ini anak mempunyai kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi, dan berprestasi dalam belajar. Karakteristik anak usia sekolah yang normal atau produktif adalah menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, mempunyai rasa bersaing, senang berkelompok dengan teman sebayanya dan mempunyai sahabat, serta berperan dalam kegiatan kelompok.

Perkembangan psikososial anak akan terganggu apabila orang tua atau guru salah dalam memdidik anak. Karakteristik perilaku anak yang menyimpang antara lain yitu; anak menarik diri, suka mengganggu, sulit berkonsentrasi, tingkah laku mundur dari tahap usianya seperti mengompol, mimpi buruk, sulit tidur, ketakutan tidak masuk akal, menghisap ibu jari, suka marah-marah, mudah tersinggung, dan menolak masuk sekolah. Pada penelitian Afidatunisak et al (2017) menunjukan hasil bahwa ada hubungan anatara kekerasan fisik dan kekerasan verbal dengan perkembangan psikososial anak sekolah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kekerasan fisik dan kekerasan verbal yang dilakukan orang tua atau caregiver anak, mempengaruhi perkembangan psikososial anak usia sekolah. Perkembangan psikososial anak yang yang normal ditunjukan dengan anak mampu menyelesaikan tugas ( sekolah atau rumah) yang diberikan, mempunyai rasa bersaing (Kompetisi), senang berkelompok dengan teman sebaya dan mempunyai sahabat karib, berperan dalam kegiatan kelompok. Sedangkan anak yang mendapatkan kekerasan verbal maka perkembangan psikososial mereka tergangu seperti gangguan emosi pada anak, anak mengalami perkembangan konsep diri yang kurang baik, hubungan sosial anak dengan lingkungan nya akan bermasalah, anak lebih agresif serta menjadikan orang dewasa musuh, anak menarik dirik dari lingkungannya dan lebih suka menyendiri, dan anak juga akan mengalamu kesulitan dalam belajar, baik di rumah maupun di sekolah.

Faktor penyebab kekerasan verbal pada anak biasanya diawali dengan munculnya perilaku yang buruk dari anak sehingga menyebabkan orang tua melakukan hal tersebut. Namun, sebagian besar orang tua kadang lupa mengaitkan antara perilaku yang muncul dengan kondisi jiwa anak. Anak hanyalah manusia biasa yang masih membutuhkan banyak bimbingan dari orang dewasa di sekitarnya. Terkadang saat anak memunculkan sebuah perilaku, hal itu dilakukan atas dasar rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, tidak mendapatkan respon positif dari lingkungan sekitarnya. Anak juga terkadang memunculkan perilaku yang buruk karena ingin menarik perhatian dari orang dewasa di sekitarnya. Perilaku tersebut bisa juga menjadi sanksi atas kekerasan yang didapatkan oleh anak dari orang tuanya. Anak memunculkan perilaku buruk tersebut karena tidak pernah mendapatkan penghargaan atau pun perhatian dari orang tuanya. Anak lebih banyak mendapatkan kalimat berupa mencela dari orang tuanya dan inilah yang menjadi wujud dari kekerasan verbal yang kadang tidak disadari oleh orang tua. Kekerasan verbal juga bisa muncul ketika anak menunjukkan ketidakmampuan dirinya dalam menyelesaikan suatu tugas yang terbilang mudah. Pada saat itu juga anak mendapatkan kalimat menyakitkan terkait ketidakmampuannya tersebut. Seharusnya orang tua memberikan dukungan positif saat anak menunjukkan ketidakmampuannya dengan memberikan pujian karena anak sudah mau belajar untuk mencoba. Saat anak mendapatkan kekerasan verbal pada kondisi tersebut, maka anak akan merasa gagal dan bisa menyebabkan tidak adanya keinginan untuk bisa menjadi lebih baik. Karakter orang tua yang keras juga bisa menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku kekerasan verbal pada anak. Orang tua yang cenderung memiliki karakter yang keras memiliki potensi yang besar untuk melakukan kekerasan verbal terhadap anak. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola asuh yang didapatkan dari orang tua sebelumnya. Pola asuh yang keras di masa lalu akan berpengaruh terhadap cara mendidik dan membimbing anak pada masa depan.

Dampak kekerasan verbal tidak kalah berbahaya dengan dampak kekerasan fisik.Kekerasan verbal tidak berdampak pada kerusakan fisik, tetapi berakibat pada luka psikis bagi korbannya.Oleh sebab itu, kekerasan verbal ini sering digolongkan juga pada kekerasan psikologis (psychological violence). Kekerasan verbal dapat menyebabkan ketidakstabilan suasana spikologis bagi penerimanya, seperti takut, kecewa, rendah diri, minder, patah hati, frustrasi, tertekan (stress), sakit hati, murung, apatis, tidak peduli, bingung, malu, benci, dendam, ekstrem, radikal, agresif, marah, depresi, gila, dan sebagainya (Wenny Wijayanti dan Agustinus Djokowidodo, 2019). Sedangkan dampak kekerasan verbal yang dialami oleh anak-anak yaitu: yang pertama masalah kesehatan, anak yang kerap menerima kekerasan verbal mereka bisa mengalami depri dan depresi cenderung mengarah ke hal yang negatif,  yang kedua anak akan mengalami kepercayaan diri rendah, anak yang sering mengalami kekerasan verbal cenderung membuat krisis kepercayaan diri yang menyebabkan frustasi, yang ketiga anak tidak memiliki motivasi, anak yang mengalami kekerasan verbal terus-menerus gagal mengembangakan pandangan positif, yang ke empat anak menjadi anti-sosial, anak menjadi seorang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar, mereka menjadi sulit bergaul dan menutup diri.

Upaya untuk mencegah kekerasan verbal kepada anak yaitu, dengan cara mengendalikan emosi dan memperbaiki cara komunikasi dengan anak,  orang tua juga harus belajar dari pengalaman masa lalunya jika mereka pernah mendapatkan pola asuh yang sama sebaiknya orang tua tidak mengulang pola asuh yang sama tersbeut kepada anaknya, dan yang terakhir jika seorang anak atau peserta didik menunjukan ketidak mampuannya dan tidak sesuai dengan harapan maka sebagai orang tua ataupun guru tidak perlu terburu-buru mencala sang anak atau peserta didik karena kegagalannya. Anak atau peserta didik mungkin gagal atau tidak mampu melakukan tugas tertentu di satu bidang, tetapi mereka mampu melakukan atau menyelesaikan tugas di bidang yang launya

Kesimpulan 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN