Mohon tunggu...
Nur Janah Alsharafi
Nur Janah Alsharafi Mohon Tunggu... Konsultan - Seorang ibu yang menyulam kata dan rasa dalam cerita

ibu 4 anak dengan sejumlah aktivitas . Tulisan-tulisan ini didokumentasikan di blog saya : nurjanahpsikodista.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Amanda

23 Desember 2019   10:37 Diperbarui: 23 Oktober 2020   00:31 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika ibu bertanya tentang Amanda, aku hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja. Ini berlangsung cukup lama, sejak Amanda melangkahkan kakinya ke asrama.  Namun kali ini kegalauan itu makin mebumbung tinggi, menyusupi bergumpal awan resah dan cemas yang makin pekat dan menghitam.

Meski sejak awal aku siap tentang kejadian ini, namun kesiapanku ternyata belum tuntas . Kesiapanku belum ada topping ikhlas. Ini terjadi ketika Amanda mengirimkan kembali pesan keduanya melalui telegram . "Mama, seminggu yang lalu aku dipanggil Pimpinan tinggi Sekolahku, Bapak Utomo namanya.

Awalnya ia tak mengenalku ma. Ia memanggil dan mewawancarai aku setelah aku terpilih sebagai pemenang pertama duta mahasiswa untuk utusan ke Konferensi di salah satu Negara di Eropa.  Ia mewawancarai aku ma, bahkan lebih tepat menginterograsi. Ia usut asal usulku, termasuk mengapa aku menyandang nama Utomo.

Saat itu aku Cuma bilang bahwa itu nama papaku, dan papaku pergi taka da kabar berita. Maafkan aku ya ma, aku cuma mengulang cerita mama. Itu yang selalu mama ucapkan jika aku bertanya tentang papa.

Pak Utomo aneh ma, ia bertanya apakah aku punya tanda merah di paha kananku. Aku takut ma, tanda merah itu memang ada namun aku hanya diam tak sanggup menjawabnya. Ma, doakan Amanda ya ma. Amanda sayang mama banyak-banyak. Peluk cium putrimu -- Amanda "

Pesan itu membuat ruh-ku serasa terbang tinggalkan jasad, gundahku memuncak setinggi gunung. Resahku seperti ombak tergulung-gulung. Tiba-tiba aku limbung, aku yang tegar terasa rapuk bagai kerupuk. 

Aku yang kuat terasa lemah lunglai tak sanggup berandai. Pijakanku di bumi terasa lepas, cuma senandung istighfar yang masih sanggup kuatkan.

Ya Allah,  haruskah aku kehilangan Amanda

Ya Allah , haruskah putri jiwaku hilang dari hidupku

Ya Allah, benarkah itu ayah kandung Amanda

Ya Allah, kuatkan hambaMu yang lemah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun