Mohon tunggu...
Siti Nur Hasanah
Siti Nur Hasanah Mohon Tunggu... Administrasi - Guru/PNS

Istri/Ibu/Guru yang senantiasa melangitkan doa yg terbaik. Silahkan follow blog saya: http://nurhasanahsmpn5.blogspot.com/ twitter: @SitiNHS / Facebook: Siti Nur Hasanah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Bulan Motivasi RTC] Ketika Harus Mulai

23 Mei 2016   04:44 Diperbarui: 23 Mei 2016   13:56 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: michiganintouch.com/

HASIWAYA-SAN (Team)

Kenan meringis menahan sakit yang sangat. Nyeri menusuk sendi yang terlindung tempurung lutut kanan. Linu berdenyut tak tertahankan,sehingga ia terguling rebah. Tongkat penyangga jatuh menimpa jidatnya.

"Aduh!" pekiknya pelan, bukan karena tongkatitu. Melainkan nyeri di sendinya makin berdenyut. 

Kenan berusaha untuk bangkit, meski harus menahan nyeri yang amat sangat. Kali ini sakitnya benar-benar luar biasa. Sampai-sampai wajahnya tampak pucat pasi menahan rasa sakit.

Tongkat yang menopangnya selama ini diraihnya. Ia berusaha bangkit untuk berdiri. Akan tetapi apa yang terjadi. Nyeri ini masih saja ada. Tapi ia berusaha bangkit. "Aku harus bisa!" katanya dalam hati. Ya, ia harus bisa bangkit, karena saat ini ia dalam posisisendiri. Tak ada yang bisa membantunya. Seandainya saja ada Tomi di sisinya, pasti Tomi membantunya dengan senang hati. Tomi adalah sahabat karibnya.

Sedetik Kenan teringat akan sahabatnya, Tomi. Persahabatan yang terjalin sejak SMP membuat mereka sepertisaudara. Di mana ada Kenan, pasti di situ ada Tomi. Ada sesuatu yang hilang saat Kenan mengingat semua itu.

"Kenan, masih belum bisa jalan? Merangkak aja!" mungkin begitulah gadis itu akan mengejeknya disusul tawa yang mengikik. Tapi bukan Tomi namanya jika tak punya alasan 'bagus' untuk kelakuannya itu.

 "Psikologi terbalik namanya, pemalas!" katanya sambil mencubit hidung Kenan.

Mendengar suara Hitomi, semangat Kenan tiba-tiba membuncah. Bak ada uang jutaan di depan mata, Kenan pun dengan cepat meraih tongkatnya dan berdiri. Rasa nyeri hilang dengan tiba-tiba.

“Dasar cewek tomboy, makanya tuch … teman-teman lebih suka memanggilmu Tomi!” hardik Kenan sambal sedikit bersungut-singut. Padahal dalam hatinya, merasakan kebahagiaan yang meluap-luapkarena kehadiran Tomi yang tiba-tiba.

"Kenan, kakimu kenapa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun