Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu... Seniman - Avonturir

Gelandangan virtual

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

FOMO Vs JOMO, Anda Tipe yang Mana?

25 April 2021   10:22 Diperbarui: 25 April 2021   20:08 2854
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
FOMO vs JOMO - Ilustrasi oleh N. Setia Pertiwi

Ya, tidak ada salahnya menjadi FOMO.

Karena, perkara FOMO bukan tentang benar atau salah. Dua kata itu terlalu subjektif dan dinamis sesuai konteks, kan?

Tapi, kita bisa sama-sama mencermati dan menganalisis dampak yang timbul dari FOMO. Tadi yang positif, mari kita bahas yang negatif. Sejauh apa, sih?

***

Dalam artikel How FOMO is affecting your mental health, and needs to be addressed, psikolog Neerja Birla, menyatakan bahwa FOMO berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, antara lain: mood swing, kesepian, rendah diri, kegelisahan, pikiran negatif, hingga depresi.

Di samping itu, cukup jelas bahwa FOMO amat lekat dengan limpahan informasi. Sementara Nicholas Carr dalam buku The Shallow (2010), telah membahas bahwa limpahan informasi dapat membuat kita berpikir lebih dangkal.

Jika ditelusuri lebih jauh, tibalah kita pada masyarakat yang sangat mudah menyimpulkan dan saling menghakimi. Serbuan informasi yang masuk, tidak punya waktu untuk mengendap lebih dulu, karena FOMO membuat kita terburu-buru.

Ketika kita bercermin: Yang kita sangka bijaksana, rupanya masih egois. Yang kita kira jernih, rupanya masih bias. Yang kita pikir dalam, rupanya masih permukaan. Yang kita anggap penting, rupanya cuma remahan.

Terlebih, jika ternyata, kita juga memiliki ego yang cukup tinggi, naif, dan reaktif. FOMO hanya akan mempertinggi risiko insecurity, yang menimbulkan perilaku tidak menyenangkan, seperti:

  • merasa tahu segala,
  • tidak dapat menjadi pendengar yang baik,
  • mencari pembenaran,
  • merendahkan orang lain, dan
  • hal-hal lain yang berfokus pada upaya untuk memperoleh pengakuan.

Terus saja, mengejar kemenangan-kemenangan kecil yang fana, bahkan dengan menyakiti orang-orang terdekat kita.

Perilaku kompulsif semacam ini, yang harus kita waspadai melalui introspeksi berkelanjutan. Karena, tentu kita butuh sadar, untuk dapat menghindar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun