N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Freelance writer

Digital Nomad | Passionate Thinker | Free(lance) Writer | Wandering Mind | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ketika Kabut Itu Pergi (1) #5

15 September 2018   08:08 Diperbarui: 18 September 2018   01:01 337 1 0
Cerpen | Ketika Kabut Itu Pergi (1) #5
Sumber: Pixabay

Cerita ini merupakan fragmen kelima dalam omnibus Tenggelam di Langit. Khusus fragmen kelima ini, bisa kamu nikmati tanpa terlebih dulu membaca cerita sebelumnya.

Kendati begitu, empat fragmen lainnya tetap penting untuk memahami semesta mereka secara lebih utuh.

Fragmen 1. Eksoskeleton

Fragmen 2. Elegi Jasad Renik

Fragmen 3. Metazoa (1)

Fragmen 3. Metazoa (2)

Fragmen 4. 344 Meter per Sekon

***

Fragmen 5. Ketika Kabut Itu Pergi

(Semesta dalam perspektif orang keempat)

Mobil-mobil bercengkrama menggunakan bunyi klakson dan karbon monoksida. Di dalamnya, orang-orang menatap nanar lampu lalu-lintas yang belum berganti warna. Mereka bergegas, tapi menghindar untuk tiba lebih awal. Pikiran mereka terpenjara pada akhir pekan dan perihal lain yang belum waktunya.

Sementara di jok belakang, anak-anak berseragam kesulitan mengeja kebahagiaan. Nasib mereka ditentukan oleh kenaikan kelas dan hasil ujian nasional. Mereka membaca banyak hal, tapi tidak mempelajari apa-apa. Sinapsis otak mereka kebanjiran berita dari televisi dan linimasa. Tinggal menunggu waktu, hingga akhirnya terperangkap dalam tubuh manusia dewasa yang merindukan masa kecilnya.

Kelak, akan banyak yang berhenti sebelum sampai. Lari di tempat dan memuja kata andai. Membeli barang-barang mahal tapi tidak begitu berharga. Menjadi orangtua yang mencintai pekerjaan seperti anak-anak mereka mencintai permainan di layar telepon pintar.

Duduk bersama, dan tidak banyak bicara. Meja makan mereka kesepian, ditemani piring-piring dan gelas-gelas bersih. Akhir pekan datang, waktu bagi pusat perbelanjaan. Mengosongkan sofa ruang keluarga dan memadati jalan-jalan.

Jenis lain, sedikit berbeda. Ada para pengembara. Kantor mereka pantai, gunung, pohon-pohon tinggi, dan apa saja yang tampak bagus dalam Instagram.

Berlomba-lomba menceritakan tempat-tempat indah yang jarang terjamah. Menjauhi keramaian orang untuk menjadi pusat perhatian. Mengagumi alam, tapi sibuk mengurusi baterai dan mencari-cari aliran listrik. Tidak bisa hidup tanpa koneksi internet dan merutuki kartu memori yang sudah penuh. Mereka terus berjalan, tapi melupakan tujuan.

Masih ada lagi, dia yang memang berbeda.

Satu di antara tujuh dalam mobil biru yang melaju menuju selatan Kota Karagan. Sesuai permintaan yang bersangkutan, semua orang memanggilnya Jay. Berkulit coklat kemerahan, seperti madu hutan. Rambutnya menyerupai ombak di tengah lautan. Mata setajam elang itu selalu menatap penuh kepastian, tapi menyimpan bayang-bayang.

Dua kali aku dipertemukan dengannya. Dalam pendakian Gunung Tanduran, dan sekarang, Gunung Parung. Kedua pendakian diadakan oleh tim penyelenggara yang sama. Sebuah perjalanan terbuka, wadah bagi orang-orang ramah mencari teman. Sebagian besar, setidaknya. Aku dan dia termasuk dalam sisanya. Kami tidak ramah, juga tidak menunjukkan gelagat ingin menjalin pertemanan.

Dalam dua kali perjalanan, aku tidak pernah melihatnya antusias dalam suatu percakapan. Dia cenderung menghindar. Saat ada waktu senggang, para peserta sibuk berkenalan, berfoto dengan teman baru, bernyanyi bersama, atau apa saja yang dilakukan orang normal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4