Mohon tunggu...
Nor Pikriadi
Nor Pikriadi Mohon Tunggu... -

Seorang pembelajar sejarah yang coba menulis sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Matinya Jiwa KEPEMUDAAN Pada PEMUDA

28 Oktober 2011   12:24 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:23 397 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

[caption id="attachment_138578" align="alignnone" width="853" caption="google.com...seeartend.tumblr.com"][/caption]

Oleh: Norpikriadi

Pemuda itu menyeretku untuk duduk di onggokan tanah kering, sore itu. “Aku hendak bicara,” katanya dengan nafas tersengal. “Tentang apa?” tanyaku, nafasku biasa.

“Tentang eksistensi pemuda. Eksistensiku, eksistensi kaumku...” Ia menyahut sambil mengatur nafasnya yang tersengal, seakan baru usai meniti lorong waktu yang amat panjang. “… di negeri ini.”

“Indonesia?”

“Ya iyalaahh… di mana lagi? Kaupikir di mana ruang yang kerap sumpek yang kita tempati selama ini?”

“Sumpek?”

“Ups, sorry aku lupa bahwa kesumpekan itu tak pernah menghampirimu. Kau selalu betah dengan ruang mana pun. Tak masalah bagimu, karena engkaulah padanan Sang Ruang. Kau kan Sang Waktu?”

Aku cuma mesem. “Lalu kenapa kau merasa sumpek di ruang yang konon gemah ripah loh jinawi itu?” Sebelum ia sempat cuap-cuap lagi aku menyambung kata-kataku sendiri, “Ups, sorry aku lupa bahwa engkau sang pemuda. Dirimu adalah wadah di mana segala gejolak bersarang. Tempat di mana serba ketakpuasan bercokol. Anti kemapanan. Jangankan cuma sebuah negeri di dunia, alam kahyangan pun mungkin kaurasa sumpek andai dinamika di sana tak berjalan seiring dengan semangat mudamu, hehehe…”

Kali ini ia yang mesem. Bangga. Bersiul.

“Engkau…,” lanjutku. “adalah agen of change, siapa pun faham akan itu. Semua perubahan fundamental di negeri yang kaubilang sumpek ini juga dapat dipastikan sebagian besar--jika tak ingin disebut seluruhnya--adalah hasil ulah, eh… hasil karyamu. Kegelisahanmu atas nasib bangsa yang terpuruklah yang kerap menjadi amunisi peledak bagi perubahan demi perubahan. Jejakmu begitu kuat di setiap proses perubahan yang terjadi, meskipun hasilnya tak selalu ideal seperti tujuannya semula, hahaa…”

Sengaja kuendingkan fakta berbalut sanjungan itu dengan nada sinis dan ledakan tawa, agar lawan bicaraku ini tidak menjadi terlalu jumawa. Benar saja. Dadanya yang tadinya membusung menciut tiba-tiba. Dagunya yang tadinya mendongak sontak menormal. Ia memandangku tak senang. Sesaat matanya menyayu. Lesu. Angin sore menyepoi. Mengibarkan sebagian helai rambutnya yang gondrong.

“Engkau sang waktu…,” ujar pemuda itu seperti bergumam. Menghirup nafas dalam-dalam, menghelanya kuat-kuat. Lalu menyambung, “telah menyaksikan berbagai aksiku dan kaumku di panggung sejarah negeri ini. Meski kesaksianmu senantiasa bisu, tapi file-mu tentu melulu tentang kami jika itu menyangkut perubahan.”

Ternyata kelesuan pemuda itu cuma sesaat, sebelum ia mengumandangkan dengan penuh semangat peran kaumnya dalam sejarah. Sorot matanya menyala. Nada suaranya berapi-api. “Kau tentu mencatat, betapa besar perananku dan kaumku dalam proses perubahan negeri ini. Saat bangsa ini bungkam dalam cengkeraman penjajah, kamilah yang pertama kali bersumpah untuk selalu bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu.”

“Sumpah Pemuda 1928?”

“Yaps!” Benar-benar membusungkan dada si pemuda itu, kini. “Eh, kau tahu siapa yang sesungguhnya memproklamasikan kemerdekaan negeri ini?”

“Kau dan kaummu juga, para pemuda? Bohong, seluruh dunia tahu Soekarno-Hatta lah yang melakukannya!”

“Betul, tapi kami yang mendesak mereka. Kami culik mereka ke Rengasdengklok, agar segera memproklamasikan kemerdekaan.”

Masih bisa diperdebatkan sebetulnya, benarkah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 itu hasil desakan para pemuda?* Tapi aku diam saja. Kubiarkan saja ia terus bicara.

“Ketika penjajah datang kembali hendak menganulir kemerdekaan yang telah diraih, darah kami pulalah yang banyak tertumpah di garis depan perang revolusi. Kami, para pemuda, bergeletakan berkalang tanah pertiwi. Darah kami menyucikan tanah merdeka ini.”

“Tapi kau masih hidup, dan menceritakannya.”

“Ah!” Pemuda itu tertawa. “Lupa kau rupanya. Aku… lebih tepatnya ragaku, telah mati berkali-kali, tapi jiwa kepemudaanku selalu hidup. Seperti halnya dirimu hei sang waktu..., diriku abadi.”

Aku diam. Coba untuk lebih memahami makhluk macam apa di hadapanku ini.

“Makanya jangan heran aku dan kaumku selalu turun gunung jika keadaan membutuhkan.” Pemuda itu berkata-kata lagi. “Saat penguasa negeri merdeka ini tergelincir ke lembah kediktatoran aku dan kaumku tak membiarkannya. Tahun 1966 Kami usung Tritura tinggi-tinggi. Rezim Orde Lama pun tumbang, meski darah kami tumpah lagi sebagai tumbal.”

“Arief Rahman Hakim?”

pemuda itu mengangguk

“Tetapi tidakkah kau dan kaummu saat itu merasa jadi pion?” Sengaja aku memancingnya. “Ada pihak lain bermain yang kemudian mengambil kendali sejarah dari tangan kalian?”

“Mungkin saja,” sahutnya acuh tak acuh.

“Atau karena daya kritis sebagian kalian menumpul karena diserap dalam rezim baru yang menawarkan kenikmatan birokrasi?” Terus saja aku memancingnya. “Koreksi terhadap era sebelumnya yang terlalu anti kavitalis menjadi kebablasan, karena negerimu kemudian menjadi target yang sangat empuk para investor asing.”

“Tapi kami kan bangkit lagi melawan?” Suara pemuda itu meninggi. “Meski berakhir dengan kerusuhan yang sebetulnya di luar skenario aksi kami.”

“Malari 1974?”

Pemuda itu mengangguk lemah, tersenyum getir. “Lalu kami dijinakkan di kampus melalui apa yang dikenal dengan NKK dan BKK. Tapi kami tak patah semangat, meski cukup lama diam. Ketika kekuasaan kian korup, kian menindas, dan karenanya kian mendiktator pula, kami kembali turun ke jalan. Menumpahkan darah juang kami. Menuntut reformasi, sampai rezim korup itu tumbang pada tahun 1998!” Senyum getirnya tadi berganti tawa bangga kini.

“Saat ini apakah engkau tak merasa perlu untuk turun ke jalan lagi?”

“Untuk apa?” Pemuda itu mengangkat bahu. “Kami tak punya penjajah lagi. Kami tak punya diktator lagi. Jadi, kebanyakan kami kaum muda merasa tak punya alasan lagi untuk turun ke jalan menuntut perubahan. Penguasa kami saat ini lahir secara demokratis, buah dari perjuangan kami sendiri.”

Astagaaa… Aku membayangkan diriku sebagai manusia yang tengah mengurut dada sambil geleng-geleng kepala. Tapi aku ingat, aku cuma Sang Waktu. Tugasku cuma menyaksi dan mencatat peristiwa yang terjadi. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku seperti tak lagi betah mendengar ocehan pemuda ini. Mungkin karena proses komunikasi yang tak imbang. Aku merasa ia yang lebih banyak bicara. Kini aku ingin membaliknya.

“Lantas, apa arti kepemudaanmu kini?” Aku memulai. “Bukankah kodratnya harus selalu merasa sumpek bila ada ketakadilan, kemelaratan, ketertindasan? Bahkan jika itu ada di era demokrasi?

Atau jangan-jangan jiwa kepemudaanmu telah terjebak pada raga-raga muda 1990-an yang dulu gencar meneriakkan reformasi seperti yang kauceritakan tadi? Raga-raga yang kini banyak menghuni kursi empuk di pusat-pusat kekuasaan sana?” Pemuda itu memandangku tak senang. Tapi aku tak peduli, terus saja bicara: “Yang jadi elit-elit partai, yang di antaranya bahkan dengan gagah berteriak ingin membubarkan lembaga yang tak seharusnya dibubarkan? Oh, pantas saja kasus-kasus penggelapan pajak, wisma atlet, kemenakertrans mengindikasikan keterlibatan orang-orang muda.” Untuk sesaat aku mengisi jeda dengan tarikan nafas.

“Bukankah kau hei pemuda,” ujarku kemudian. “Harusnya merasa menangis dan prihatin terhadap itu semua? Atau jangan-jangan keprihatinan dan tangisanmu saat ini lebih mudah tertumpah saat tewasnya Simoncelli di arena balap? Atau saat ST12 bubar? Atau saat MU dibantai 1-6 oleh ManCity?”

“Eh, jangan salah. Aku juga menangis saat Timnas dibantai Iran dan Qatar.” Pemuda itu menyela.

Aku nyaris tak sanggup menahan gelak tawa. “Bukan ke situ arah pembicaraanku,” lanjutku. “Begini… Saat ini adakah di antara para pemuda termasuk dirimu, yang menangis prihatin ketika terdapat sepasang manula hanya bisa makan nasi aking? Taruhan, yang seperti mereka pasti tak sedikit di negeri ini. Prihatinkah kau hei pemuda, saat balita di negerimu banyak yang menderita gizi buruk karena kemiskinan orang tuanya?”

Pemuda itu hanya tertawa hambar.

“Lalu…” lanjutku. “Menangis dan prihatinkah engkau hei pemuda ketika atap sekolah banyak yang bocor, di mana murid-muridnya senantiasa diliputi rasa takut di tiap jam belajar karena khawatir dindingnya yang retak bakal ambruk?” Kali ini aku tak memberi kesempatan baginya untuk buka suara. “Dan itu terjadi justru di saat anggaran pendidikan katanya dinaikkan sekian persen.

Hanya diam dan tak sumpekkah dirimu ketika kebijakan garam impor menepikan nasib petani garam lokal? Bagaimana pula nasib para pencari keadilan ketika pengadilan justru memvonisnya bersalah meski sesungguhnya mereka adalah pihak korban?

Belum lagi maraknya provider-provider nakal yang mengakali pulsa para pengguna ponsel kalangan bawah yang lugu-lugu? Adakah kepedulianmu atas itu semua?” Aku memberondongkan seabrek fakta ke hadapan pemuda yang begitu pede ini. “Harusnya,” lanjutku tanpa ampun. “Engkau dan kaummu jadi pembebas, bukan pembisu apalagi penikmat, atas segala ketakberesan itu.”

“Ah, diam kau!” Tiba-tiba ia membentakku. Sepertinya ia benar-benar marah kini. “Kau adalah sang waktu. Kembalilah ke kodratmu sebagai penyaksi. Sebagai pencatat. Tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, biarlah cukup kami saja yang mementaskannya di panggung sejarah.”

“Tidak usah mengajakku bicara kalau begitu…”sahutku ketus seraya berdiri. Beranjak meninggalkan onggokan tanah dan pemuda yang duduk di atasnya.

“Eh, tungguu…!” Ia berteriak seraya berusaha menarik tanganku agar kembali. “Ceritaku belum tuntas. Runtuhnya rezim orde baru tahun 1998 itu tidak kami bayar gratis. Darah kami tumpah lagi di Trisakti, lalu di Semanggi, lalu di…..”

Tak kuhiraukan lagi suaranya yang sampai parau memanggilku. Untuk apa? Aku telah jenuh menyimak kisah tentang sepak terjang dan kehebatannya di masa lalu. Yang penting bagiku, kapan sang pemuda itu dengan segenap energi kepemudaannya untuk beraksi lagi. Membenahi situasi bangsanya kini yang harusnya bikin ia sumpek, sebagaimana kesumpekannya yang sudah-sudah. Mungkin tak harus lagi ada revolusi, karena memang sudah tak perlu itu. Tapi berbuat lebihlah, ketimbang lebih banyak menghabiskan energi kepemudaan di arena tawuran antar fakultas, antar sekolah, antar kampung, antar suporter bola.

Aku akan menyaksi dan mencatatnya, karena akulah Sang Waktu.

*Cuma Fiksi

*Bung Hatta sendiri melalui bukunya membantah pendapat tersebut. Saat ini saya kelupaan di mana menaroh buku itu hingga belum bisa menyebutkan judul, nama penerbit, tempat dan tahun terbitan. Maaf. Mungkin ada kawan Kompasianer yang bisa membantu menyebutkan . .....

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan