Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Guru

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Dari Genthong Keluar Emas Perhiasan

2 Juli 2015   19:47 Diperbarui: 2 Juli 2015   19:47 149 0 0

CERITA PENDEK

DARI GENTHONG KELUAR EMAS PERHIASAN

Ketika masih kelas 2 SD dulu, sekitar tahun 78-an sebelum berangkat sekolah, aku harus mengisi genthong tempat air. Kebetulan kami masuk sekolah siang hari. Aku dan mbak Ika bekerja sama menimba air. Tali karet untuk menimba kami tarik bergantian, sehingga tidak terlalu berat.

Dua genthong air kami isi penuh. Genthong yang satu, ukuran besar airnya untuk memasak. Kadang-kadang untuk persediaan minum kalau kami kehausan dari bermain. Air genthong atau air langsung diambil dari sumur, bila diminum rasanya segar karena kaya mineral. Saat itu air dari sumber mata air aman diminum tanpa dimasak lebih dahulu.

Genthong yang kedua ukurannya kecil. Genthong ini diletakkan di bibir sumur, lalu diikatkan pada tiang dengan tali. Dua tiang sumur bagian atas dihubungkan dengan kayu. Kayu inilah untuk menempatkan katrol atau kerekan. Genthong kedua digunakan untuk persediaan air wudhu. Kami menyebutnya dengan sebutan padasan.

Bagi masyarakat Yogya saat itu, bila memiliki air dalam genthong merasa lebih nyaman dan ayem. Rata-rata hampir tiap keluarga atau tiap rumah memiliki genthong tempat air. Waktu itu dunia plastik belum merajai seperti sekarang ini. Ember yang digunakan juga dari karet atau dari seng. Kalau bukan ember besar dari seng yang digunakan untuk mencuci pakaian, biasanya orang memiliki pengaron. Pengaron atau tempat air dari tanah liat (gerabah).

Setelah plastik mulai dikenal masyarakat, pengaron dan genthong juga mulai ditinggalkan. Akan tetapi Ibu dan Bapak tetap menggunakan genthong sebagai tempat menyimpan air.

“Orang-orang sudah tak lagi menggunakan genthong, Bu.”kataku

“Biarlah. Memang resiko pecah sangat besar. Tapi selagi tidak kena pukulan atau hantaman, genthong ini tidak akan pecah.”

“Pakai ember plastik saja, Bu.”

“Terlalu sayang bila tidak digunakan.”

Aku diam, tidak menanggapi Ibu lagi. Sewaktu keluarga pindah rumah, genthong tersebut juga dibawa. Genthong besar tetap diisi air, sedangkan genthong kecil tidak digunakan untuk padasan lagi. Genthong kecil ini digunakan Ibu untuk menyimpan beras. Genthong ditutup dengan tutup semacam cowek (cobek) dari tanah liat ukuran besar.

Usia genthong yang dimiliki Ibu dan Bapak hampir sama dengan usiaku, yakni empat puluh tiga tahun. Sekarang dua genthong tersebut merupakan barang kuno dan antik. Genthong kecil sekarang berada di dalam kamar Ibu dan Bapak. Tidak lagi digunakan untuk menyimpan beras. Aku sendiri tidak tahu untuk apa. Bagaimanapun aku harus menghargai Ibu dan Bapak. Aku tak ingin menyakiti mereka dengan meremehkan barang masa lalu.

Genthong besar ditempatkan di depan rumah. Diisi dengan air separo wadah, digunakan untuk memelihara beberapa ekor ikan. Aku dan saudara-saudara membiarkan Ibu dan Bapak dengan kesukaannya/klangenannya. Toh, dengan merawat genthong dan ikan, mereka tidak merepotkan anak-anak.

00000

“Mia, aku mau bicara. Kamu bisa pulang ke rumah Ibu dan Bapak, bukan? Diusahakan ya. Ada yang perlu kita bicarakan,” kata mbak Nana dari telepon.

“Ya, insya Allah aku pulang.”

Ada apa dengan Ibu dan Bapak? Kok tiba-tiba aku disuruh pulang? Aku pulang sendiri, suami dan anak-anak aku tinggal. Semoga anak-anakku tidak rewel. Aku tidak mereka-reka apa yang sudah terjadi di rumah Ibu. Nanti kalau sudah sampai kampung kelahiran semua juga akan terjawab.

Sampai di rumah Ibu dan Bapak, suasana juga tenang seperti hari-hari biasa. Alhamdulillah Ibu dan Bapak sehat wal afiat. Doaku setiap hari memang tak berlebihan, hanya mohon kepada Allah agar Ibu dan Bapak dititipi kesehatan lahir dan batin. Dengan sehat Ibu dan Bapak tentu akan lebih sujud dan syukur.

Mbak Nana mengatakan bahwa Ibu ingin menunaikan ibadah haji.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2