Mohon tunggu...
Adhi Nugroho
Adhi Nugroho Mohon Tunggu... Blogger | Author | Analyst

Kuli otak yang bertekad jadi penulis dan pengusaha | IG : @nodi_harahap | Twitter : @nodiharahap http://www.nodiharahap.com/

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Secuil Kisah Berhaji Saat Remaja

8 Oktober 2020   21:13 Diperbarui: 8 Oktober 2020   21:19 232 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Secuil Kisah Berhaji Saat Remaja
Secuil Kisah Berhaji Saat Remaja. | Grafis: olah pribadi.

“Nodi, kalau Ibu ajak naik haji, kamu mau, kan?”

Mataku menyipit. “Maaf, Bu? Haji?”

“Iya. Pergi haji,” bisik Ibu. “Supaya ada yang jagain Bapak selama di Tanah Suci.”

Aku tercengung. Tubuhku roboh ke pelukan sofa. Aku sadar, ini permintaan yang tidak bisa kutolak dan mesti kusanggupi. Tapi…

“Kalau bukan kamu,” lanjut Ibu tanpa menunggu jawabanku, “siapa yang akan mendorong kursi roda Bapak saat bertawaf nanti?”

***

Andai permintaan Ibu diajukan kepadaku sekarang juga, sudah pasti aku tidak akan berpikir dua kali. Hanya saja, seruan Ibu untuk pergi berhaji dialamatkan kepadaku empat belas tahun lalu. Ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Masih remaja. Teenager, istilah kerennya.

Bukan apa-apa. Jangankan mencari uang untuk mengisi saldo tabungan haji, lulus sekolah saja belum. Apalagi, ujian kelulusan sudah di depan mata. Mendapat amanat berhaji sejak remaja, terlebih dari orangtua sendiri, bukanlah perkara biasa.

Apa boleh buat. Skenario Tuhan seringkali tak terduga. Kalau sudah berkehendak, siapa pula yang bisa menolak panggilan-Nya?

Berhaji saat remaja. Dari kiri ke kanan: Aku, Aa Gym, Bapak, Ibu, dan Teh Nini. | Foto: dokumentasi pribadi.
Berhaji saat remaja. Dari kiri ke kanan: Aku, Aa Gym, Bapak, Ibu, dan Teh Nini. | Foto: dokumentasi pribadi.
Aku terbilang beruntung bisa menunaikan rukun Islam yang kelima saat remaja. Aku ingat, saat berpamitan, teman-teman di sekolah bertanya-tanya atas keputusan yang kuambil. Mereka penasaran, apa yang membuatku bersedia menunaikan ibadah haji sejak dini?

Sebetulnya jawabanku bersifat personal. Tapi tak mengapa. Mana tahu pembaca budiman ada yang berada di posisiku, lantas beroleh faedah dari kisah ini. Bukan riya, apalagi jemawa. Sebab berhaji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang tergolong mampu. Tidak hanya ihwal materi, tetapi juga perihal fisik dan mental.

Berbakti kepada kedua orangtua. Itulah yang menjadi alasan utamaku ketika menyanggupi permintaan Ibu.

Saat itu, Bapak memang kurang sehat. Serangan stroke pada 2002 menyebabkan sisi kanan tubuhnya tidak dapat berfungsi secara sempurna. Kalau berjalan, Bapak terpaksa memakai tongkat atau dibantu kursi roda.

Ibu bercerita, banyak rukun haji yang tidak bisa dikerjakan sepasang suami-istri secara bersama-sama. Berwudu dan menunaikan salat di masjid adalah dua di antaranya. Karena itulah Ibu tidak bisa mendampingi Bapak sepanjang waktu di Tanah Suci nanti.

Bapak memerlukan tenaga lelaki untuk membantu menyempurnakan ibadah hajinya. Mendorong kursi rodanya saat bertawaf, membantunya berwudu, hingga melemparkan jamrah untuknya saat di Mina kelak.

Alhamdulillah. Tuhan menakdirkanku menjadi lanang semata wayang. Kedua kakakku perempuan. Aku pun beroleh dua kesempatan emas sekaligus. Berbakti kepada orangtua dan berhaji selagi muda. Sungguh perkara mulia yang tidak akan pernah terjadi jika bukan karena kehendak-Nya.

Keajaiban di Tanah Suci

Banyak orang yang pergi berhaji mengalami kejadian unik selama di Tanah Suci. Kami salah satunya.

Jadi begini. Saat semua rukun haji rampung kami tunaikan, dalam perjalanan menuju Madinah, Bapak terserang stroke lagi. Kali ini pembuluh otak di sebelah kanan yang tersumbat.

Alhasil, Bapak mesti mendapat perawatan intensif di King Fahd Hospital. Aku dan Ibu mesti menemani Bapak sepanjang waktu. Ruang perawatan berukuran seadanya praktis menjadi “penginapan” kami selama di Kota Nabi.

Cobaan ini jelas memukul kami, khususnya Ibu. Pipinya basah tiap kali tuntas menunaikan salat. Apalagi, tim dokter mengatakan bahwa Bapak harus menunda kepulangannya ke Tanah Air lantaran kondisinya belum menunjukkan kemajuan.

Seminggu menjelang jadwal pulang, Ibu sempat berkata, “Nod, kalau kondisi Bapak belum membaik juga, kamu pulang sendiri saja, ya. Biar Ibu sendiri yang jagain Bapak di sini.”

Kontan batinku teriris. Gelembung air mataku pecah. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan kedua orangtuaku di Tanah Suci? Terlebih Bapak masih terbaring tak berdaya.

“Enggak, Bu!” Aku menolak. “Pergi bertiga, pulang juga harus bertiga. Apa pun yang terjadi, aku tetap di sini sampai dokter mengizinkan Bapak pulang.”

Isak tangis Ibu pecah. Dalam diam kami berpelukan, tidak ingin kegelisahan kami terdengar oleh Bapak yang sedang terkulai lemah.

Dalam salat kami terus berdoa. Siang-malam kami tetap berzikir. Sebab kami percaya, Tuhan pasti menepati janji. Dia berjanji tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Ketika semua harapan kami gantungkan kepada-Nya, saat itulah Dia benar-benar menunjukkan kebesaran-Nya.

King Fahd Hospital di Madinah, tempat Bapak dirawat. | Foto: kfmc.med.sa.
King Fahd Hospital di Madinah, tempat Bapak dirawat. | Foto: kfmc.med.sa.
Keesokan harinya, kesehatan Bapak tiba-tiba membaik. Dokter pun terkejut, tidak menyangka Bapak akan pulih secepat ini. Seseorang yang terserang stroke, apalagi kali kedua, biasanya harus menjalani perawatan panjang dan melelahkan.

Saat kami bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Sang Abdi Sehat hanya berkata, “Jika Allah sudah berkehendak, apa pun pasti terjadi.”

Setelah melewati serangkaian proses pemeriksaan, akhirnya dokter memberi lampu hijau. Kami pun kembali ke Tanah Air sesuai jadwal semula.

Kalau dipikir-pikir, takdir Tuhan memang begitu sempurna. Andai saja aku tidak pergi berhaji, Bapak pasti kesulitan menunaikan rukunnya. Jika saja kutolak ajakan Ibu pergi ke Tanah Suci, tidak akan ada sosok yang menenangkan hati Ibu selagi Bapak dirawat di rumah sakit.

Meskipun aku paham, apa pun yang kulakukan tidak akan pernah sanggup membalas kebaikan kedua orangtua. Sampai kapan pun jua. Namun, dengan berhaji selagi muda, paling tidak aku bisa berbakti kepada kedua orangtua sekaligus menunaikan rukun agama.

Bukankah itu kesempatan terbaik bagi seorang anak untuk mendulang pahala?

Dari kisah ini, kutitipkan pesan kepada pembaca budiman. Sekalipun sulit, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan berbakti kepada orangtua. Jangan pernah! Sebab ketika mereka telah berpulang, kesempatan itu tidak akan pernah terulang.

Kini, Bapak telah berpulang. Aku bersyukur bisa menemani dan membantunya menunaikan ibadah haji empat belas tahun silam. Doaku satu saja. Semoga kami dipersatukan kembali di taman surga-Nya.

Pentingnya Berhaji Sedari Muda

Berbekal cerita tadi, maka kutempatkan berbakti kepada orangtua sebagai urutan pertama pada tiga alasan mengapa generasi milenial harus berhaji selagi muda.

Seperti Bapakku dulu, mungkin orangtuamu juga memerlukan bantuanmu untuk menyempurnakan rukun hajinya. Entah karena sakit, entah lantaran faktor usia. Yang jelas, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu.

Alasan kedua berkaitan dengan fisik. Pembaca budiman, haji adalah satu-satunya ibadah wajib yang tidak hanya menuntut materi, tetapi juga kekuatan fisik. Dari enam rukun haji, tiga di antaranya membutuhkan kondisi tubuh yang prima: tawaf, sai, dan wukuf.

Belum lagi perjalanan menuju Tanah Suci yang memakan waktu lebih dari sembilan jam. Setelah tiba di sana, kita pun harus menahan terik matahari pada siang hari dan melawan hawa dingin tatkala malam hari. Bukan apa-apa, ini padang pasir, Kawan!

Oleh sebab itu, jangan pernah menunggu tua. Berhajilah sedari muda. Selagi ketegaran dan kekuatan masih melekapi raga. Selama mampu, tunaikanlah segera. Jangan ditunda-tunda. Sebab kita tidak pernah tahu bilamana kita akan berpulang kepada-Nya.

Tiga alasan berhaji sedari muda. | Grafis: olah pribadi.
Tiga alasan berhaji sedari muda. | Grafis: olah pribadi.
Sekarang, tiba saatnya kuungkap kausa yang ketiga: panjang antrean. Tahukah, Kawan? Kementerian Agama (Kemenag) menyebut rata-rata waktu tunggu jamaah haji Indonesia mencapai 20 tahun! Beberapa daerah bahkan antreannya lebih lama lagi.

Sulawesi Selatan, misalnya. Warga Tanah Toraja mesti menahan rindu bertemu kakbah selama 39 tahun. Sebelas-dua belas dengan penduduk Bumi Lambung Mangkurat—julukan Kalimantan Selatan—yang mesti tabah menanti selama 29 tahun.

Terbayang, tidak? Jika daftar haji sekarang, maka kita akan diberangkatkan kira-kira pada 2040 mendatang. Belum lagi kedatangan pandemi korona yang memaksa pemerintah Arab Saudi menghentikan penyelenggaraan haji dan umrah sepanjang 2020. Semakin panjang saja antreannya, Kawan!

Nah, mumpung masih muda, sisihkanlah sebagian pendapatan untuk tabungan haji. Selain sebagai sarana mempersiapkan diri, tabungan haji juga membuktikan niat dan ikhtiar kita dalam menunaikan rukun Islam yang kelima. Jangan lupa, setiap niat baik akan dicatat penuh sebagai pahala sekalipun belum dilakukan.

Menabung recehan untuk berhaji. Kini, saatnya membuka tabungan haji di Danamon Syariah. | Foto: dokumentasi pribadi.
Menabung recehan untuk berhaji. Kini, saatnya membuka tabungan haji di Danamon Syariah. | Foto: dokumentasi pribadi.
Di usiaku yang kini berkepala tiga, sudah empat tahun lebih aku menyisihkan dana untuk berhaji. Bukan untukku, tetapi buat istri. Semisal mencukupi, lantas beroleh rezeki lebih, barulah kelebihannya untukku. Lagi pula, siapa juga yang tidak ingin kembali ke Tanah Suci?

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Tiap hari kumasukkan uang di kaleng bekas yang kusulap jadi celengan. Sekali waktu Rp50 ribu. Lain kala Rp100 ribu. Berapa saja yang penting konsisten. Hingga akhirnya, celenganku terisi penuh dan kehabisan daya tampungnya.

Kini, tiba saatnya memindahkan uang celengan ke tabungan haji. Pertanyaannya, tabungan haji mana yang oke punya?

Omong-omong soal tabungan haji, preferensiku pasti tertuju ke Danamon Syariah. Selain beroperasi sesuai prinsip Islam, bank yang dahulu bernama Bank Kopra Indonesia ini juga diawasi OJK dan telah malang melintang di sektor perbankan Tanah Air selama lebih dari 64 tahun.

Nah, produk Tabungan Haji Danamon Syariah sendiri terbagi menjadi dua jenis. Supaya terang-benderang, tilik saja infografis berikut.

Dua jenis Tabungan Haji Danamon Syariah. | Data: Danamon Syariah. | Infografis: olah pribadi.
Dua jenis Tabungan Haji Danamon Syariah. | Data: Danamon Syariah. | Infografis: olah pribadi.
Pertama, Rekening Tabungan Jemaah Haji (RTJH). Melalui tabungan ini, kita bisa membayar setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang langsung terkoneksi dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) besutan Kemenag.

Itu artinya, kita bisa mendapat kepastian nomor kursi haji secara otomatis saat membuka tabungan berakad wadiah ini. Cukup menyetor saldo awal sebesar Rp25 juta, maka nomor urut haji langsung berada dalam genggaman.

Para orangtua yang ingin anaknya berhaji, seperti Ibu saya dulu, juga tidak perlu khawatir. Sebab RTJH bisa dibuka oleh remaja berusia minimal 12 tahun. Daftar sekarang, maka Sang Anak bisa berhaji pada usia 32 tahun nanti.

Kedua, Tabungan Rencana Haji. Tabungan ini cocok banget buat generasi muda yang belum terbiasa tetapi ingin sekali berdisiplin menyisihkan uang untuk berhaji. Pasalnya, simpanan berakad mudarabah ini bersifat auto-debet. Mulai dari Rp300 ribu hingga Rp5 juta per bulan, selama 6 hingga 72 bulan. Tinggal pilih saja sesuai kesanggupan.

Sama seperti RTJH, begitu saldo tabungan sudah mencukupi setoran BPIH, kita bisa mendapat nomor antrean haji. Selama menabung di Danamon Syariah, kita pun merasa tenang karena terproteksi dengan perlindungan asuransi jiwa syariah.

Jadi, kamu pilih yang mana? Rekening Tabungan Jamaah Haji atau Tabungan Rencana Haji? Yang mana pun itu, Danamon Syariah siap mewujudkan mimpimu menjadi Haji Muda. Jangan lupa, penyesalan selalu datang belakangan. Jadi, genapilah rukun Islam-mu mulai dari sekarang. [Adhi]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x