Mohon tunggu...
Khairunisa Maslichul
Khairunisa Maslichul Mohon Tunggu... Dosen - Profesional

Improve the reality, Lower the expectation, Bogor - Jakarta - Tangerang Twitter dan IG @nisamasan Facebook: Khairunisa Maslichul https://nisamasan.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Harmoni Ide Oke dengan Aksi Humanisme dalam FFPI 2016

26 Januari 2017   10:55 Diperbarui: 26 Januari 2017   11:14 597
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para siswa Desa Kihung Lampung tetap bersemangat ke sekolah sekalipun harus melintasi sungai deras (Dokpri)

Terminal juga masih banyak memiliki orang berjiwa humanis di dalamnya (Dokpri)
Terminal juga masih banyak memiliki orang berjiwa humanis di dalamnya (Dokpri)
Menurut keterangan guru pembimbing dari SMKN 2 Kuripan-NTB, film “Terminal” dimaksudkan untuk memvisualkan nilai humanis dari kehidupan terminal.  Film itu juga aslinya bertempat di Terminal Mandalika NTB dengan sebagian besar pemerannya murid kelas 2 SMK. 

Kepedulian Sosial (Bukan) Hanya via Media Sosial

         Inilah tema humanisme lainnya yang belakangan ini juga menjadi tren kekinian.  Para pengguna media sosial (sepertinya) memang cenderung lebih aktif di dunia maya untuk urusan kepedulian sosial daripada melakukannya langsung di kehidupan nyata.  Apa ini karena meng-klik jempol tanda like, posting dan share info, serta mengunggah multimedia – foto dan video – di media sosial jauh lebih mudah dibandingkan dengan beramal secara riil (donasi uang, waktu, dan tenaga) ya? *self-correction

          Ada dua film kategori mahasiswa yang memotret fenomena humanisme melalui media sosial saat ini.  Film “I Love Me” karya Institut Kesenian Jakarta mengisahkan seorang mahasiswi yang kesehariannya tak lepas dari meng-update info dan foto terbaru via media sosialnya dari mulai bangun tidur hingga malam hari.  Setelah menemui pengamen cilik jalanan, barulah hati nuraninya tersentuh.  Tentu saja, momen itu harus tetap disebarkan via salah satu akun media sosialnya.  Namun, mahasiswi itu malah mendapatkan arti sejati kepedulian sosial secara nyata dari seorang penjual nasi goreng keliling yang berbaik hati meminjamkannya power bank.

Kepedulian sosial memang sejatinya (tak) hanya via media sosial (Dokpri)
Kepedulian sosial memang sejatinya (tak) hanya via media sosial (Dokpri)
          Film “Di Ujung Jari” karya Universitas Bina Nusantara (Binus) juga menyajikan fenomena humanisme antara dunia maya dan nyata.  Seorang mahasiswa yang hidup sebagai anak kost dikisahkan tak bisa berpisah dari smartphone miliknya sehingga tak peka dengan lingkungan sekitarnya, dari di kamar kost, kampus, sampai saat makan bareng di restoran.  Bahkan untuk urusan keluarga, mahasiswa tersebut malah menomorduakannya.  Setelah smartphone miliknya dijambret di malam hari dan dirinya ditolong oleh seorang pengemis jalanan – yang selama ini tak pernah dipedulikannya meskipun sering melewatinya – barulah mahasiswa tersebut menyadari bahwa kepedulian sosial itu bukan melulu sebatas posting di media sosial.

          Masih berlokasi di Jakarta, namun kali ini tak lagi berhubungan dengan media sosial, tema humanisme berupa kepedulian sosial ditunjukkan oleh film “Merengguk Asa di Teluk Jakarta” karya Universitas Negeri Jakarta (UNJ).  Film dokumenter pendek tersebut berfokus pada kehidupan Manusia Perahu di Teluk Jakarta yang jauh dari layak.  Pak Bunila, seorang nelayan di sana, mengakui dalam sehari adakalanya tidak memperoleh penghasilan.  Putranya, Hafiz (11 tahun) sudah putus sekolah karena tidak ada akses ke sekolah.  Para manusia perahu itu juga mayoritas pendatang sedangkan syarat untuk bisa tinggal di rumah susun yaitu harus memiliki KTP Jakarta.  Mau tak mau, mereka harus tinggal di perahu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang tersedia sekaligus alat mencari nafkah.  Para manusia perahu tersebut hanya berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan mereka dan menjaga kebersihan air laut.

Di balik gemerlapnya Jakarta, ada manusia perahu di Teluk Jakarta yang memerlukan pemberdayaan kesejahteraan (Dokpri)
Di balik gemerlapnya Jakarta, ada manusia perahu di Teluk Jakarta yang memerlukan pemberdayaan kesejahteraan (Dokpri)
          Setelah tiga film sebelumnya berlokasi di Jakarta, film “Kihung (Jalan Menikung)”karya SMK Negeri 5 – Bandar Lampung bercerita tentang kepedulian sosial yang bisa diwujudkan pada bidang pendidikan berupa akses transportasi berwujud jalan dan jembatan.  Para penduduk desa Kihung mengalami kesulitan setiap kali anak mereka akan pergi sekolah karena satu-satunya jembatan bambu – dulu dibangun secara swadaya oleh masyarakat desa - yang menghubungkan sungai dengan lokasi SDN Inpres terdekat, rusak dan patah.  Jadilah para siswa SD dari desa Kihung harus menempuh jalan becek bertanah liat yang curam dan menyusuri bebatuan licin pada aliran sungai yang deras setiap pagi selama satu jam.  Setelah menonton film yang disutradarai oleh M. Erwin itu, bagi murid sekolah di kota, kemacetan jalanan jelas bukan alasan untuk bermalas-malasan.  Murid dari desa Kihung sudah membuktikan dengan melewati jalan menikung yang tentunya sangat layak untuk segera menjadi prioritas pembangunan daerah.

Para siswa Desa Kihung Lampung tetap bersemangat ke sekolah sekalipun harus melintasi sungai deras (Dokpri)
Para siswa Desa Kihung Lampung tetap bersemangat ke sekolah sekalipun harus melintasi sungai deras (Dokpri)
Cinta (Seharusnya) Memang Tak Bersyarat

         Bicara cinta memang tiada habisnya.  Begitu pula saat menyangkut tema humanisme, cinta jelas kesatuan yang tak terpisahkan. Kisah cinta pun tak melulu tentang hubungan asmara  dua sejoli, namun juga lebih luas makna dan lingkupnya.  Misalnya cinta tulus pada keluarga, baik keluarga karena hubungan darah, pernikahan, atau bahkan keluarga angkat.

Kisah cinta dalam
Kisah cinta dalam
          Film “Izinkan Saya Menikahinya” karya SMA Rembang-Purbalingga dan “Different” karya Universitas Bina Nusantara sama-sama mengangkat kisah cinta antara seorang pria wanita yang mengalami tantangan karena hadirnya perbedaan.  Bagi pasangan Suryati dan Suryono (berprofesi sebagai militer) - dalam “Izinkan Saya Menikahinya” yang semakin menarik karena disajikan dalam bahasa lokal daerah Tegal, Brebes, Banyumas, dan sekitarnya yaitu ngapak – cinta yang dijalin sejak SMA, peresmiannya yang sudah di depan mata harus menghadapi hambatan yang di luar kemampuan mereka selama ini.  Adapun bagi seorang wanita kaya dan pria sederhana, – dalam “Different”– mereka berdua saling terus mencoba untuk menembus lebarnya jurang pemisah di antara mereka berdua. Uniknya, kedua kisah cinta tersebut berakhir dengan ending yang kontras.  Penasaran dengan akhir kisah mereka berempat? Silakan Kompasianer saksikan langsung di Kompas TV nanti ya hehehehe……

Kemiskinan tak lantas membuat cinta seorang ayah berkurang kepada anak angkatnya (Dokpri)
Kemiskinan tak lantas membuat cinta seorang ayah berkurang kepada anak angkatnya (Dokpri)
          Selain cinta antara lawan jenis, film “Mata Hati Djoyokardi” karya SMA Khadijah Surabaya dan “Omah”karya Sekolah Tinggi Multimedia MMTC Yogyakarta satu ide dalam mengangkat tema cinta dalam keluarga, terutama cinta tiada batas dari seorang ayah kepada buah hatinya.  Bedanya, Pak Djoyokardi (61 tahun) adalah ayah angkat dari seorang anak perempuan dengan keterbelakangan mental, Indah (12 tahun).  Lebih mengharukannya lagi, Pak Djoyokardi sendiri hidup dalam keterbatasan ekonomi namun hal itu tak menyurutkan sikap mulianya dalam membesarkan Indah seorang diri.  Sementara itu, hubungan ‘benci tapi rindu’ antara seorang ayah dan putra kandungnya dalam “Omah” menyadarkan penonton bahwa kebersamaan dalam keluarga itu memang harus rutin dilakukan sekalipun terpisah jarak dan waktu.  Jika sampai terlalu lama dilewatkan, maka siapa yang tahu umur dari anggota keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun