Mohon tunggu...
Sid noise
Sid noise Mohon Tunggu... Buruh - Jangan Mau di Bungkam

Akun subsidi

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Manunggaling Kawula Gusti dari Masa ke Masa

10 Juli 2020   01:00 Diperbarui: 10 Juli 2020   00:54 779
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Meskipun demikian dia tidak bisa dikatakan melanggar syariat karena ibadah nya dilakukan dengan sangat baik. Sampai akhirnya dia di hukum mati dengan cara di mutilasi sedikit demi sedikit tapi terlihat dia seperti menikmatinya.

Dan di tambah dengan kemunculan al farabi, al farabi ini adalah seorang filosof yang penasaran dengan gagasan orang - orang sufi ini yang kemudian dia memunculkan gagasan yang namanya ihtisol.

Untuk menjelaskan ihtisol kita runut dari latar belakang filsafat yunani. aris toteles mengatakan bahwa dunia ini di sebabkan karena sang penyebab utama / supra kausa / kausa prima. Menurut dia si penyebab utama ini sudah selesai sampai terjadi dunia ini saja. Dan bagaimana dengan alam semesta yang menyebabkan kebingungan terhadap filosof setelahnya diantaranya protinus dan timbul pertanyaan seperti ini.

"Alam semesta itu abadi atau tidak?" Jika dia abadi maka dia penyebab bersama tuhan artinya sama - sama penyebab pertama dan itu tidak mungkin.

"Jika alam semesta di ciptakan oleh tuhan dimana bahan dasarnya?" Jadi menurut protipus jika sesuatu tidak ada prosesnya berarti itu tuhan, alam semesta bukan tuhan pasti ada proses nya dan dia mempertanyakan itu. Dan katakanlah memang ada proses nya tapi bagai mana bisa tuhan yang esa / tunggal menjadi penyebab alam semesta yang majemuk sampai meninggal dia tidak menemukan jawabannya.

Disini al farabi menjawab untuk menjelaskan pertanyaan diatas dengan EMANASI. Prinsipnya adalah tuhan membuat semesta menjadi banyak / majemuk dalam kondisi gradasi. Dalam fikiran al farabi tuhan itu adalah zat yang memikirkan dirinya sendiri, ketika tuhan sedang memikirkan dirinya sendiri maka akan terciptalah akal utama. Kemudian akal pertama ini terpecah menjadi esensial dan eksistensial terpecah lagi menjadi empat, delapan dan seterusnya. Yang akhirnya semesta ini tercipta dari tuhan menjadi banyak. Walaupun tuhan nya esa tapi menjelma menjadi banyak.

Jika gagasan al farabi ini di kaji oleh orang budha dan hindu mereka akan mudah mencerna EMANASI, tapi orang islam sendiri kemudian kristen dan juga yahudi itu benar - benar tidak mengerti atas gagasan al farabi ini.

Gagasan al farabi ini selain memberikan jawaban di dunia filsafat tapi juga di dunia tasawuf. Yang kemudian orang - orang seperti al halaj dan bayazid (murid - muridnya)  menemukan sebuah pencerahan. Jadi apa yang di alami al halaj dan bayazid bisa di jelaskan karena gagasan bahwa alam semesta ini bahan dasar nya adalah tuhan.

" Saya ini tuhan, Semakin saya berkesadaran akan tuhan semakin saya tercerahkan semakin saya dekat dengan tuhan semakin dekat dengan identitasnya dan menjadi lebur". Dan ada hadits juga yang menyatakan bahwa "tuhan itu lebih dekat dari urat leher". Yang akhirnya tasawuf yang dulunya adalah mistik menjadi sebuah gagasan falsafi bisa di katakan ini adalah jasa al farabi.

Selepas al farabi muncul lah ibnu sina, ibnu sina berfikir dan banyak mengkritik gagasan - gagasan al farabi. Menurut ibnu sina manusia itu terbatas tidak bisa menjelaskan bagaimana itu tuhan sampai menggambarkan tuhan itu sedang berfikir kemudian muncul lah semesta dan seterusnya. Penjelasan yang paling mudah untuk menggambarkan tuhan itu dengan cara jangan menyebut tuhan itu MAHA, maha agung, maha mulia, maha besar dan seterusnya. Bahkan ibnu sina mengatakan bahwa tuhan itu tidak maha tau tujuan nya demi menyelamatkan zat tuhan kemudian ibnu sina banyak mendapat hujatan bahkan al ghazali menganggap ibnu sina sesat.

Tapi ada sedikit yang mau saya bela dari ibnu sina / menjelaskan, seperti ini : jika saya tahu kalau suatu benda itu berwarna putih ( contoh kertas) maka saya di jajah oleh benda tersebut. Yang namanya pengetahuan harusnya objective bukan (sesuai object nya). Tapi yang sebenar - benar nya pengetahuan benda tadi itu ( kertas) warnanya hitam dan itu terserah saya karena saya terbebas dari penjajahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun